Ada yang berbeda setiap kali Lebaran mendekat. Pikiran ini seperti diajak berkelana sendiri, membayangkan aroma masakan khas yang dulu selalu menguar dari dapur rumah, padahal kenyataannya hari-hari ini masih terasa seperti hari biasa saja. Bukan halusinasi, tapi semacam rindu yang datang tanpa permisi. Lalu sering kali, setelah rindu itu mampir, ada perasaan hangat yang ikut tertinggal di dada.
Momen Lebaran memang punya cara tersendiri untuk menarik kita kembali ke masa lalu. Ingatan tentang baju baru yang dipakai pertama kali saat salat Id, suara takbir yang menggema di kejauhan, atau momen berkumpul bersama keluarga besar yang kini sudah jarang terjadi. Semua itu terkadang muncul begitu saja, lengkap dengan detailnya yang mengejutkan. Seolah otak kita sengaja menyimpan momen-momen itu di laci paling atas, siap dibuka kapan saja ketika suasana Lebaran mulai terasa.
Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa kenangan semacam itu terasa begitu menenangkan? Bukan semata-mata soal bayangan indahnya masa lalu, ternyata ada penjelasan ilmiah di balik kehangatan yang kita rasakan saat nostalgia Lebaran itu datang. Para psikolog menyebutnya bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai salah satu mekanisme psikologis yang justru menyehatkan. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dalam pikiran kita saat kenangan itu muncul?
