Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Mudik Terasa Lebih Emosional, Seperti Pulang ke Perasaan Lama?

Kenapa Mudik Terasa Lebih Emosional, Seperti Pulang ke Perasaan Lama?
ilustrasi mudik (freepik.com/freepik)

Mudik ke kampung halaman masih menjadi tradisi yang membuat hari Lebaran kian semarak. Perjalanan pulang ke rumah seolah membuka kembali memori masa kecil bersama keluarga, teman, bahkan lingkungan rumah yang terasa begitu akrab. Tak jarang, perasaan rindu, haru, dan penuh nostalgia menyeruak ketika menginjakkan kaki kembali ke rumah masa kecil.

Mudik seringkali menghadirkan perasaan nostalgia, dimana perasaan lama terasa begitu nyata di masa sekarang. Tak hanya menempuh jarak jauh untuk bisa berkumpul bersama, mudik juga menghadirkan perjalanan emosional dari masa lampau.

Mengapa ketika mudik perasaan harus dan emosional seringkali mengetuk batin seseorang? Ternyata ada penjelasan ilmiah yang ditinjau secara psikologis terkait hal ini, simak penjelasannya!

1. ⁠Kenangan lama terpicu oleh hal-hal sederhana

ilustrasi mudik (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
ilustrasi mudik (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Bukan hal yang mengejutkan jika perasaan nostalgia tiba-tiba terlintas di kepala saat tiba di kampung halaman. Kamu mungkin senang melihat memori masa kecil yang masih tersisa di setiap sudut rumah orangtua atau hunian masa kecilmu.

Berdasarkan penjelasan Hal McDonald Ph.D, dalam Psychology Today memori seringkali muncul karena dipicu oleh ingatan lain yang sudah tersimpan sebelumnya, tak semata-mata ke-trigger oleh rangsangan eksternal. Ketika suatu kenangan muncul, ia dapat memanggil memori lain yang saling berkaitan sehingga pengalaman tersebut terasa nyata kembali dalam pikiran.

Sehingga tak heran jika kembali ke kampung halaman, kemudian melihat benda yang sering dimainkan semasa kecil, kamu juga ingatan suara Tv di ruang tamu, permainan yang dimainkan bersama saudaram atau makanan yang dimasak oleh nenek. Kenangan tersebut saling terhubung di dalam memori.

Akibatnya, seolah peristiwa di masa lalu itu kembali dialami pada masa sekarang karena memori bekerja seperti jaringan, sehingga ingatan saling berkaitan. Memori ini seringkali muncul secara spontan, tak ada isyarat.

2. ⁠Kembali ke lingkungan yang membentuk diri kita

ilustrasi mudik menggunakan mobil (pexels.com/JAGMEET SiNGH)
ilustrasi mudik menggunakan mobil (pexels.com/JAGMEET SiNGH)

Mudik ke kampung halaman selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk sebab seseorang kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Terlebih, jika pulang ke rumah tidak lagi menjadi rutinitas atau telah terlampau lama tidak kembali, suasana lingkungan sekitar mulai tak familiar.

Padahal, menurut neuroscience, Aditi Subramaniam, Ph.D, lingkungan tempat kita tumbuh memngearuhi perilaku sehari-hari. Otak kita merespons secara otomatis terhadap rangsangan di sekitar kita, bagian otak ini bertanggung jawab untuk membentuk kebiasaan dengan menghubungkan apa yang kita lihat dan rasakan dengan apa yang kita lakukan. Penjelasan tersebut disampaikan Aditi dalam laman Psychology Today.

Tak mengherankan jika mudik, terasa begitu istimewa, karena secara ilmiah terbukti bahwa lingkungan tempat kamu dibesarkan membentuk serta memmengaruhi kebiasaan dalam diri. Tentunya, hal ini memiliki dampak besar terhadap karakter seseorang, pasalnya berkaitan erat dengan memori dan pengalaman hidup. Inilah yang menyebabkan mudik tak hanya mengunjungi tempat yang memiliki kenangan di masa lalu, namun juga kembali ke perasaan lama yang telah menjadi bagian dari hidup kita.

3. Nostalgia memberi rasa aman dan optimis

ilustrasi mudik (freepik.com/freepik)
ilustrasi mudik (freepik.com/freepik)

Nostalgia akan masa lalu tak hanya berarti sekumpulan perasaan rindu. Menurut psikolog Clay Routledge, PhD, nostalgia juga memiliki peran untuk memotivasi seseorang melangkah maju. Sebagai vice president of research and director of the Human Flourishing Lab, Clay menemukan bahwa mengingat kembali kenangan di masa lalu dapat membuat seseorang merasa lebih optimis terhadap masa depan. Hal ini membuktikan, perasaan nostalgia memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis seseorang.

Mengutip laman resmi American Psychological Association, Clay menjelaskan terkait studi yang dilakukannya pada 2021 mengenai nostalgia yang dapat meningkatkan well being sepanjang hidup, "Setelah mempelajari topik ini selama lebih dari 20 tahun, saya menemukan bahwa nostalgia sebenarnya membantu orang untuk terus maju."

Tentunya perasaan semacam ini akrab dirasakan ketika mudik. Terlebih, ketika berkumpul dengan keluarga, muncul perasaan aman dan penuh kehangatan. Akibatnya, perasaan khawatir jadi lebih menurun dan sikap optimis meningkat.

4. Membandingkan kehidupan di masa lalu, membuat self esteem meningkat

ilustrasi mudik naik transportasi umum (freepik.com/freepik)
ilustrasi mudik naik transportasi umum (freepik.com/freepik)

Kembali ke rumah tempat kamu memulai segala mimpi, akan membawamu kembali pada titik mula seluruh pencapaianmu di masa kini. Kamu mungkin telah mencapai keinginan yang dibangun dari langkah kecil di sudut kamarmu, atau nasihat yang kamu dengarkan dari orang tua sehingga menggerakkanmu untuk melangkah maju. Mengingat semua itu membuatmu sadar bahwa kamu telah mencapai mimpimu.

Clay Routledge, PhD juga menemukan bahwa kenangan nostalgia berfungsi sebagai pengingat tentang hal-hal terpenting dalam hidup manusia. Ketika menghadapi ketidakpastian atau bahkan kesulitan, kenangan di masa lalu menjadi sumber inspirasi.

“Hal itu membuat orang lebih optimis tentang masa depan, meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kecemasan, meningkatkan suasana hati yang positif, harga diri, dan makna dalam hidup. Tetapi lebih dari itu, hal itu membuat orang bersyukur, dan memberi mereka energi," tulis Clay.

5. Tak hanya rindu, ada perasaan yang belum selesai ikut muncul

Ilustrasi mudik (pexels.com/Photo by Ketut Subiyanto)
Ilustrasi mudik (pexels.com/Photo by Ketut Subiyanto)

Tak bisa dimungkiri sepenuhnya, bagi sebagian orang mudik juga dapat menimbulkan perasaan kurang nyaman. Ada rindu yang belum tuntas, rasa kehilangan yang belum sepenuhnya usai, ataupun rasa kecewa yang tak bisa disembuhkan seutuhnya. Mungkin saja, ketika pulang justru muncul kembali memori duka akan kehilangan oleh orang tercinta.

Andrew Abeyta, PhD, a Rutgers University psychology professor menyebut, masa lalu bisa menjadi tempat yang cukup menyakitkan apabila kamu memiliki kenangan negatif dari masa sebelumnya. Untuk itu, dalam American Psychological Association menyarankan untuk mengingat masa lalu tanpa obsesi yang berlebihan, cukup jadikan nostalgia sebagai compass untuk menentukan arah yang dapat membuat masa depan menjadi lebih baik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us