ilustrasi grooming (unsplash.com/rawkkim)
Tahap akhir biasanya ditandai dengan pergeseran kecil yang awalnya nyaris tidak terlihat seperti topik pembicaraan yang sedikit lebih pribadi atau komentar yang terdengar terlalu dekat. Perubahan ini tidak langsung drastis sehingga sulit dibedakan apakah itu sapaan biasa atau permintaan perhatian yang mulai kelewat jauh. Target menyangka itu bagian dari kedekatan normal, padahal batas kenyamanan sedang digeser sedikit demi sedikit. Pelaku memanfaatkan rasa percaya yang sudah terbangun untuk menuntut ruang lebih banyak.
Lama-kelamaan, target merasa bingung menentukan titik berhenti karena ia tak ingin terlihat berlebihan atau terlalu sensitif sehingga ia memaklumi hal-hal yang seharusnya sudah memicu alarm. Ketika batasan terlampaui, barulah ia sadar hubungan ini tidak wajar tetapi dalam banyak kasus sulit mundur karena pelaku telah menempelkan rasa utang emosional pada target. Ia merasa harus membalas kebaikan, sekalipun dampaknya tidak sehat. Di momen itu barulah kenyataan terlihat jelas bahwa keramahan sejak awal hanya bagian dari rencana panjang.
Fenomena child grooming memperlihatkan bahwa keramahan tidak selalu mencerminkan niat yang bersih, sehingga penting untuk mengenali pola yang kerap terselip di balik sikap manis. Pengenalan sejak awal membantu siapa pun membedakan perhatian tulus dengan pendekatan yang menyimpan maksud lain. Jadi, kalau mengalami sesuatu yang terasa janggal meski terlihat hangat, baiknya segera mulai menjaga jarak