Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cara Orangtua Mewaspadai Child Grooming, Jangan Dianggap Sepele!

Ilustrasi child grooming
Ilustrasi child grooming (IDN Times/Mardya Shakti)
Intinya sih...
  • Child grooming adalah manipulasi orang dewasa terhadap anak untuk tujuan seksual atau eksploitasi, berdampak pada kesehatan fisik dan mental.
  • Modus child grooming dilakukan secara halus melalui percakapan ringan, pujian, hadiah, dan pembatasan komunikasi dengan orangtua.
  • Tanda-tanda anak terkena child grooming meliputi perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, dan isolasi sosial. Orangtua perlu membangun komunikasi terbuka dan memberikan pemahaman tentang batasan pribadi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah aktivitas sehari-hari, banyak orangtua merasa anak-anak mereka baik-baik saja. Tetap bermain, belajar, dan berinteraksi seperti biasa. Namun, di balik keseharian yang tampak aman itu, ada ancaman yang sering datang secara perlahan dan nyaris tak terasa. Child grooming kerap terjadi tanpa disadari, dimulai dari percakapan ringan, perhatian kecil, hingga kedekatan emosional yang dibangun secara bertahap.

Karena prosesnya halus dan tidak selalu menunjukkan tanda bahaya yang jelas, child grooming sering luput dari perhatian. Padahal, kurangnya kewaspadaan bisa membuat anak berada dalam situasi yang berisiko. Oleh sebab itu, orangtua perlu memahami cara mengenali dan mewaspadai praktik child grooming sejak dini agar anak tetap merasa aman, terlindungi, dan didampingi dengan tepat.

1. Apa itu child grooming dan mengapa berbahaya?

ilustrasi child grooming
ilustrasi child grooming (pexels.com/alex)

Menurut situs resmi Childsafety.gov.au, disebutkan bahwa grooming adalah tindakan manipulasi yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak. Tujuannya agar anak lebih patuh kepada perintah dan arahan si pelaku. Child grooming juga kerap dilakukan untuk mengeksploitasi atau melecehkan anak secara seksual. Ada beberapa tanda jika anak terkena child grooming, salah satunya adalah menjalin hubungan dengan orang yang usianya jauh lebih tua.

Child grooming juga bisa terjadi secara online. Tindakan ini menjadi sangat berbahaya untuk anak-anak karena bisa berdampak pada kesehatan fisik hingga mental. Selain itu, child grooming juga bisa menyebabkan insomnia, gangguan kecemasan, gangguan makan, hingga PTSD. Jika child grooming berlanjut pada kekerasan seksual, maka dampaknya bisa lebih buruk kepada anak-anak.

2. Modus child grooming yang jarang disadari oleh orangtua

ilustrasi child grooming (pexels.com/alex)
ilustrasi child grooming (pexels.com/alex)

Child grooming sering kali dilakukan dengan cara yang sangat halus sehingga tidak langsung terlihat sebagai ancaman. Pelaku biasanya memulai pendekatan melalui percakapan ringan, pujian, atau perhatian berlebih yang membuat anak merasa dihargai dan dipahami. Seiring waktu, hubungan tersebut dibangun semakin personal, bahkan disertai pemberian hadiah atau janji tertentu, baik secara langsung maupun melalui media sosial, misalnya online game. Karena dikemas sebagai bentuk kepedulian, banyak orangtua tidak menyadari bahwa anaknya sedang menjadi target manipulasi.

"...kemudian yang sering kali muncul adalah media. Kadang berpikir, ya sudah anak hanya main game atau chat dengan teman-temannya. Padahal media sosial ini sekarang jadi dua mata pisau yang bahaya, media sosial jadi suatu media yang sangat luas dan anak-anak/remaja masih belum bisa punya batasan. Orangtua sering kegocek, anak hanya main game, jadi sering luput," jelas Faza Maulida, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis kepada IDN Times secara daring pada Minggu (11/1/2025).

Di era digital, modus child grooming semakin beragam dan sulit dikenali. Pelaku bisa menyamar sebagai teman sebaya, figur panutan, atau orang yang memiliki minat sama dengan anak. Mereka perlahan mendorong anak untuk menyimpan rahasia, membatasi komunikasi dengan orangtua, hingga menurunkan kewaspadaan terhadap batasan pribadi. Inilah yang membuat orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan kecil dalam interaksi anak, terutama saat aktivitas daring mulai mendominasi keseharian mereka.

Selain itu, Faza juga menyebutkan, terkadang anak-anak di usia menuju remaja sering kali dianggap sudah sangat mandiri dan tak perlu terlalu banyak pengawasan dari orangtua. Padahal, mereka juga masih sangat berpotensial untuk terkenal child grooming.

"Usia remaja ini rentan banget, ada prefrontal cortex yang isinya tentang pengambilan keputusan, berpikir kritis, gimana dia memunculkan perilaku. Kadang ini disalahpahami sama orangtua, kalau anak udah remaja tuh dianggap udah bisa mikir dan mandiri. Padahal, belum sepenuhnya sehingga potensial banget kena grooming tadi. Grooming ini awalnya gak langsung seksual, tapi biasanya emosional dulu," lanjutnya.

3. Tanda-tanda anak terkena child grooming

Ilustrasi perilaku child grooming terhadap anak di bawah umur (freepik.com/freepik)
Ilustrasi perilaku child grooming terhadap anak di bawah umur (freepik.com/freepik)

Salah satu tanda anak berpotensi mengalami child grooming adalah perubahan perilaku yang terjadi secara bertahap, namun konsisten. Anak yang sebelumnya terbuka, bisa menjadi lebih tertutup, mudah cemas, atau defensif ketika ditanya tentang aktivitasnya, terutama yang berkaitan dengan ponsel dan media sosial. Orangtua juga perlu mewaspadai kebiasaan anak yang mulai sering menyendiri, menghapus riwayat percakapan, atau terlihat gelisah saat menerima pesan tertentu.

Selain perubahan emosional, dampak child grooming juga dapat terlihat dari sisi akademik dan sosial. Anak bisa mengalami penurunan konsentrasi belajar, prestasi yang merosot, hingga menarik diri dari lingkungan pertemanan atau keluarga. Dalam beberapa kasus, anak tampak lebih patuh atau takut berlebihan tanpa alasan jelas. Perubahan-perubahan ini tidak boleh dianggap sebagai fase biasa semata, melainkan sinyal bagi orangtua untuk lebih hadir.

4. Peran orangtua dalam mencegah child grooming sejak dini

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Monstera Production)
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Monstera Production)

Peran orangtua menjadi kunci utama dalam mencegah child grooming sejak dini. Membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan membuat anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Orangtua perlu membiasakan diri untuk mendengarkan, bukan sekadar menasihati agar anak mau menyampaikan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

"Sedari anak kecil, itu mulai menerapkan secure attachment kepada anak sehingga kelekatan antara orangtua dan anak itu adalah kelekatan yang aman. Jadi, apa pun yang anak alami atau rasakan, dia merasa punya backup atau ada orang lain di belakangnya, yakni orangtua. Jadi, gak gampang percaya dengan orang lain selain orangtuanya," kata Faza.

Faza menambahkan, selama anak punya secure attachment, maka anak akan merasa bahwa yang paling aman adalah orangtuanya. Sehingga, jika ada orang yang mencoba untuk memanipulasi emosinya, dia gak mudah untuk terbujuk. Selain komunikasi, orangtua juga perlu membekali anak dengan pemahaman tentang batasan pribadi dan keamanan diri. Mengajarkan anak untuk mengenali perilaku yang tidak pantas, berani mengatakan 'tidak', serta tidak mudah membagikan informasi pribadi merupakan langkah penting. Dengan pendampingan yang konsisten dan sikap yang suportif, orangtua dapat membantu anak tumbuh lebih waspada dan terlindungi dari risiko child grooming.

"Lalu, literasi juga penting. Orangtua harus tahu apa itu child grooming. Kalau anak remaja pacaran dengan yang usianya sangat jauh, itu adalah sebuah relasi yang potensial tidak sehat. Sering kali orangtua gak punya pemahaman akan hal itu. Lalu, literasi kepada anak. Ketika berhubungan dengan orang lain, itu ada batasan-batasan tertentu. Bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional," lanjut Faza.

Faza juga menyebutkan, hal yang gak kalah penting adalah menciptakan ruang yang aman untuk anak. Child grooming bukan tentang anak pacaran dengan yang lebih tua, melainkan diawali dengan kebutuhan emosionalnya yang belum terpenuhi di rumah. Safe-based di rumah belum muncul.

"Kalau mau menghindarkan dari child grooming, fondasinya harus dikuatkan dulu di rumah. Jadi istilahnya anak tuh gak mencari-cari dari figur lain. Fatherless itu juga bisa menjadi kerentanan anak menjadi korban child grooming," pungkasnya.

5. Langkah yang harus dilakukan jika orangtua mencurigai anak terkena child grooming

ilustrasi anak dimarahi orangtua (pexels.com/Monstera Production)
ilustrasi anak dimarahi orangtua (pexels.com/Monstera Production)

Ketika orangtua mulai mencurigai adanya child grooming, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang dan tidak menyalahkan anak. Dengarkan cerita anak dengan empati dan yakinkan bahwa ia tidak berada dalam masalah. Sikap terbuka dan suportif sangat penting agar anak merasa aman untuk mengungkapkan apa yang dialaminya tanpa rasa takut atau tertekan.

Selanjutnya, orangtua dapat mencatat dan menyimpan bukti yang relevan, seperti tangkapan layar percakapan atau perubahan perilaku yang mencurigakan. Jika diperlukan, segera cari bantuan profesional, seperti psikolog anak, konselor, atau melapor ke lembaga perlindungan anak yang berwenang. Tindakan cepat dan tepat dapat membantu menghentikan potensi bahaya. Selain itu, bisa memastikan anak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang dibutuhkan.

Itu dia beberapa hal yang orangtua perlu ketahui tentang child grooming. Pastikan agar tetap hadir untuk anak, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Ide Dekorasi Area Balkon yang Cocok Jadi Tempat Relaksasi Pagi Hari

11 Jan 2026, 23:17 WIBLife