Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Produk Diskon Terasa Lebih Menarik dan Sayang Dilewatkan?
ilustrasi diskon (unsplash.com/Artem Beliaikin)
  • Diskon memanfaatkan FOMO sehingga orang terdorong membeli sebelum kesempatan hilang.

  • Harga awal menjadi acuan yang membuat potongan harga terlihat lebih menguntungkan.

  • Promo memberi kepuasan emosional dan kesan mendapat nilai lebih besar dari uang yang dikeluarkan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu pergi ke supermarket dengan niat membeli beberapa barang, tetapi akhirnya pulang membawa lebih banyak belanjaan karena diskon? Apa mungkin kamu pernah membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya karena ada tulisan "potongan 50 persen" atau "flash sale"? Fenomena ini sangat umum terjadi. Bahkan, banyak orang yang merasa lebih senang mendapatkan barang diskon dibandingkan membeli barang yang sama dengan harga normal.

Menariknya, perasaan tersebut bukan sekadar soal menghemat uang. Ada faktor psikologis yang membuat produk diskon terasa jauh lebih menarik dibandingkan produk dengan harga biasa. Strategi diskon telah digunakan oleh pelaku bisnis selama puluhan tahun karena terbukti efektif memengaruhi keputusan konsumen. Tidak heran jika musim promo besar, seperti harbolnas, flash sale, atau diskon akhir tahun, sering kali berhasil menarik perhatian banyak pembeli. Di sini, kita akan membahas kenapa produk diskon terasa lebih menarik?

1. Takut kehilangan kesempatan

ilustrasi diskon (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Diskon sering kali disertai dengan batas waktu tertentu, misalnya "hanya hari ini" atau "promo berakhir dalam 3 jam". Strategi ini memanfaatkan rasa takut kehilangan kesempatan. Hal ini juga dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

Ketika merasa kesempatan tersebut akan segera hilang, mereka cenderung membuat keputusan lebih cepat. Akibatnya, proses mempertimbangkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan menjadi berkurang. Inilah alasan mengapa flash sale sering kali sangat efektif. Konsumen merasa harus segera bertindak sebelum kesempatan tersebut menghilang.

2. Harga awal membentuk persepsi

ilustrasi diskon (unsplash.com/Ashkan Forouzani)

Pernah melihat produk yang awalnya dibanderol Rp500 ribu, lalu didiskon menjadi Rp250 ribu? Potongan harga sebesar itu langsung terlihat sangat menggiurkan. Nah, hal ini disebut sebagai anchoring atau efek jangkar. Harga awal berfungsi sebagai titik acuan dalam pikiran konsumen. Ketika harga baru ditampilkan jauh lebih rendah, produk tersebut terasa memiliki nilai yang lebih tinggi. Padahal, belum tentu harga diskonnya benar-benar murah jika dibandingkan dengan produk serupa di tempat lain.

3. Berbelanja produk diskon memberikan kepuasan emosional

ilustrasi perempuan sedang berbelanja (unsplash.com/Arturo Rey)

Belanja tidak selalu dilakukan karena kebutuhan. Dalam banyak kasus, aktivitas membeli juga berkaitan dengan emosi. Saat mendapatkan diskon besar, seseorang sering merasakan kegembiraan tersendiri. Ada sensasi puas karena merasa berhasil menghemat uang atau mendapatkan penawaran terbaik. Perasaan inilah yang membuat banyak orang menikmati pengalaman berburu promo. Bahkan, bagi sebagian orang, menemukan diskon bisa terasa lebih menyenangkan daripada barang yang dibeli itu sendiri.

4. Label diskon lebih menarik perhatian

ilustrasi diskon (unsplash.com/Artem Beliaikin)

Mata manusia sangat mudah tertarik pada informasi yang mencolok. Karena itu, toko atau online platform membuat label diskon dengan warna terang, ukuran huruf besar, atau desain yang berbeda dari informasi lainnya. Akibatnya, perhatian konsumen langsung tertuju pada potongan harga sebelum mereka benar-benar menilai produk tersebut. Tidak heran jika banyak orang yang awalnya hanya melihat-lihat akhirnya tertarik membuka halaman produk karena tergoda oleh label promo.

5. Memberikan kesan lebih bernilai

ilustrasi diskon (pexels.com/RDNE Stock project)

Diskon juga dapat menciptakan kesan bahwa konsumen mendapatkan nilai lebih besar untuk uang yang mereka keluarkan. Saat pembeli membeli jaket seharga Rp300 ribu, misalnya, mungkin terasa biasa saja. Namun, jika jaket yang sama sebelumnya dijual Rp500 ribu dan kini didiskon menjadi Rp300 ribu, pembeli akan merasa memperoleh keuntungan yang lebih besar. Persepsi nilai ini sering kali lebih berpengaruh dibandingkan harga sebenarnya.

Pada dasarnya, produk diskon terasa lebih menarik karena memengaruhi cara otak memandang nilai, keuntungan, dan kesempatan. Kombinasi antara rasa puas, takut kehilangan peluang, dan persepsi mendapatkan harga terbaik membuat promo menjadi salah satu strategi pemasaran yang sangat efektif. Jadi, lain kali saat melihat label diskon besar, ingatlah bahwa yang sedang bekerja bukan hanya dompetmu, melainkan juga psikologi di balik keputusan berbelanja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article