Kebutuhan akan validasi terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Dalam Psychology Today, disebutkan bila validasi diri menjadi kemampuan untuk mengenali dan mengakui pengalaman internal yang bergantung pada feedback. Validasi sangat mengandalkan feedback atau penerimaan pikiran, baik dari diri sendiri maupun orang lain, untuk membuktikan bahwa suatu pengalaman atau perasaan dianggap valid.
Matthew Lieberman, seorang profesor psikologi di Universitas California, Los Angeles, menyebut media sosial membentuk keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok agar terhindari dari perasaan terisolasi. Sehingga, seseorang berupaya diterima dalam kelompok tersebut dengan cara mendapatkan persetujuan atau pengakuan dari orang lain, inilah yang disebut sebagai validasi eksternal.
Masalahnya, validasi berkembang tak hanya di media sosial, melainkan menjadi kebiasaan di dunia nyata. Hal ini memunculkan masalah jika seseorang mulai menganggap validasi eksternal adalah satu-satunya validitas yang dia miliki. Lalu, apa saja kerugiannya?
