Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi main HP
ilustrasi main HP (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Mencari validasi eksternal bisa menimbulkan kecemasan

    • Validasi eksternal dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan harga diri rendah jika ekspektasi dan realita tidak sesuai.

  • Seseorang semakin ketagihan untuk mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain.

  • Mengapa validasi di media sosial terasa lebih penting daripada dunia nyata?

    • Validasi di media sosial terasa lebih penting karena responsnya cepat, mudah diakses, dan mungkin lebih besar massanya.

  • Seseorang yang merasa diterima di media sosial akan terus menciptakan penerimaan yang lebih besar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kebutuhan akan validasi terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Dalam Psychology Today, disebutkan bila validasi diri menjadi kemampuan untuk mengenali dan mengakui pengalaman internal yang bergantung pada feedback. Validasi sangat mengandalkan feedback atau penerimaan pikiran, baik dari diri sendiri maupun orang lain, untuk membuktikan bahwa suatu pengalaman atau perasaan dianggap valid.

Matthew Lieberman, seorang profesor psikologi di Universitas California, Los Angeles, menyebut media sosial membentuk keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok agar terhindari dari perasaan terisolasi. Sehingga, seseorang berupaya diterima dalam kelompok tersebut dengan cara mendapatkan persetujuan atau pengakuan dari orang lain, inilah yang disebut sebagai validasi eksternal.

Masalahnya, validasi berkembang tak hanya di media sosial, melainkan menjadi kebiasaan di dunia nyata. Hal ini memunculkan masalah jika seseorang mulai menganggap validasi eksternal adalah satu-satunya validitas yang dia miliki. Lalu, apa saja kerugiannya?

1. Mencari validasi eksternal bisa menimbulkan kecemasan

ilustrasi main hp (pexels.com/Karolina Kaboompics)

Validasi pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengenali dan mengakui pengalaman internal diri sendiri, keterangan ini disampaikan oleh Psikoterapis Sherry Gaba dalam Psychology Today. Dalam perkembangannya, individu mulai mencari pengakuan secara eksternal, dari orang di sekitar, misalnya pada teman, keluarga, bahkan audiens online.

Masalah muncul jika seseorang telah menempatkan pendapat, persetujuan, atau pengakuan orang lain di atas perasaan mereka sendiri. Artinya, ia membutuhkan validasi eksternal secara terus menerus dan mengabaikan perasaan dalam dirinya. Hal ini, menurut Sherry, dapat menimbulkan kecemasan, depresi, dan harga diri rendah jika ekspektasi dan realita tidak sesuai.

Seseorang semakin ketagihan untuk mendapat pujian dan penghargaan untuk seluruh aspek kehidupannya. Bahkan, mereka bisa kecewa jika tak mendapatkan validasi eksternal, keinginan ini melampaui penerimaan internal dirinya sendiri.

2. Mengapa validasi di media sosial terasa lebih penting daripada dunia nyata?

ilustrasi main hp (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

Tak memungkiri, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu memiliki dorongan untuk diterima oleh orang lain. Ketika seseorang diterima di lingkungan atau kelompok tertentu, mereka akan merasa memiliki value. Hal inilah yang mendorong seseorang untuk terus mencari penerimaan, salah satunya secara eksternal.

Menurut laman Psych Central, validasi membantu membangun identitas, tak selalu menampakkan diri yang sebenarnya, termasuk validasi seperti refleksi diri dan pikiran. Seseorang bisa saja menampilkan value atau karakter yang telah 'dipilih' untuk membuat orang lain terkesan.

Tindakan semacam ini jauh lebih mudah dilakukan di media sosial, sebab seseorang bisa menyortir apa yang hendak diunggah dan citra seperti apa yang ingin ditunjukkan. Mendapatkan validasi di media sosial terasa lebih penting karena responsnya cepat, mudah diakses, dan secara kuantitas mungkin lebih besar massanya.

Untuk itu, seseorang yang merasa dirinya telah diterima di media sosial akan terus terdorong untuk menciptakan penerimaan yang lebih besar. Rasa puas dan senang oleh validasi eksternal membuat dirinya merasa audiens di media sosial telah menerimanya secara lebih baik, sementara di dunia nyata mungkin prosesnya lebih lama dan respons yang didapat lebih jujur, tak selalu memuaskan dirinya.

3. Apa yang harus dilakukan?

ilustrasi main hp (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Apa yang harus dilakukan jika mulai menganggap validasi orang lain sebagai kebutuhan yang tak dapat tergantikan, terutama melalui media sosial? Sherry menyebutkan, memutus siklus validasi dilakukan dengan belajar mencari validasi secara internal.

Caranya adalah dengan beristirahat dari media sosial. Istirahat dari media sosial menjadi langkah yang baik untuk memutus siklus ini, membuat seseorang mengurangi perbandingan diri dengan orang lain atau kecemasan lainnya. Dengan mengurangi intensi di media sosial, kamu juga akan mengurangi unggahan pribadi yang membuatmu seolah berupaya mencari penerimaan oleh orang lain.

Editorial Team