Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Bahaya Self-Diagnosis yang Sering Dianggap Sepele di Media Sosial

ilustrasi perempuan mengakses media sosial
ilustrasi perempuan mengakses media sosial (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Konten kesehatan mental disederhanakan, menyebabkan kesimpulan yang keliru dan fokus pada diagnosis yang salah.
  • Self-diagnosis membuat pikiran sensitif terhadap perubahan emosi, meningkatkan rasa takut, dan overthinking.
  • Peran psikolog dianggap tidak penting, risiko salah penanganan semakin besar, dan edukasi psikologi menjadi kabur.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial kini dipenuhi konten kesehatan mental yang terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Dalam hitungan detik, video pendek bisa membuat seseorang merasa, “Kok ini aku banget, ya?” Dari situ, label gangguan mental sering muncul begitu saja tanpa proses panjang. Padahal, memahami kondisi psikologis tidak sesederhana menonton konten viral.

Niat awalnya mungkin ingin lebih peduli pada diri sendiri, tapi self-diagnosis justru bisa membawa dampak yang tidak disadari. Terlalu cepat menyimpulkan kondisi mental dapat mengaburkan masalah yang sebenarnya. Alih-alih merasa terbantu, banyak orang justru makin cemas dan bingung. Yuk simak lima dampak buruk terlalu sering melakukan self-diagnosis dari konten media sosial.

1. Salah memahami kondisi diri sendiri

ilustrasi laki-laki frustasi
ilustrasi laki-laki frustasi (freepik.com/karlyukav)

Konten kesehatan mental di media sosial sering disederhanakan agar mudah dicerna. Gejala yang kompleks diringkas menjadi potongan perilaku sehari-hari. Akibatnya, banyak orang merasa cocok lalu langsung menarik kesimpulan. Padahal, satu gejala tidak cukup untuk menggambarkan kondisi psikologis secara utuh.

Bahaya self-diagnosis muncul ketika label itu dipercaya sepenuhnya. Kamu bisa saja mengira memiliki gangguan tertentu, padahal sebenarnya sedang lelah atau stres sementara. Kesalahan persepsi ini membuatmu fokus pada diagnosis yang keliru. Alhasil, masalah utama justru tidak tertangani dengan tepat.

2. Meningkatkan kecemasan dan overthinking

ilustrasi perempuan overthinking
ilustrasi perempuan overthinking (freepik.com/freepik)

Setelah melabeli diri sendiri, pikiran sering kali jadi lebih sensitif terhadap setiap perubahan emosi. Sedikit sedih dianggap sebagai tanda gangguan serius. Proses ini membuat pikiran terus memindai hal negatif. Tanpa sadar, kamu terjebak dalam lingkaran cemas yang melelahkan.

Konten kesehatan mental yang dikonsumsi berlebihan juga memperkuat rasa takut. Bukannya merasa tenang, kamu justru makin waswas dengan kondisi diri sendiri. Overthinking pun menjadi teman sehari-hari. Ini jelas berlawanan dengan tujuan awal mencari pemahaman diri.

3. Mengabaikan pentingnya bantuan psikolog profesional

ilustrasi mengobrol dengan psikolog
ilustrasi mengobrol dengan psikolog (freepik.com/freepik)

Self-diagnosis sering membuat seseorang merasa sudah cukup tahu tentang kondisinya. Akibatnya, peran psikolog profesional dianggap tidak terlalu penting. Padahal, diagnosis psikologis membutuhkan asesmen mendalam dan konteks personal. Video singkat jelas tidak bisa menggantikan proses tersebut.

Ketika bantuan profesional diabaikan, risiko salah penanganan semakin besar. Kamu mungkin mencoba coping mechanism yang tidak sesuai. Bahkan, ada yang menormalisasi kondisi yang seharusnya ditangani serius. Edukasi psikologi seharusnya mengarahkan pada bantuan tepat, bukan menjauhkan.

4. Terjebak pada identitas yang membatasi diri

ilustrasi perempuan mengalami stres
ilustrasi perempuan mengalami stres (freepik.com/freepik)

Label gangguan mental yang disematkan pada diri sendiri bisa berubah menjadi identitas. Tanpa sadar, kamu mulai mendefinisikan diri lewat label tersebut. Setiap kegagalan dikaitkan dengan kondisi mental yang diyakini. Ruang untuk berkembang pun terasa makin sempit.

Identitas ini bisa membuatmu enggan mencoba hal baru. Ada rasa takut tidak mampu karena merasa “sudah begini dari sananya.” Padahal, manusia selalu punya kapasitas bertumbuh. Bahaya self-diagnosis terletak pada cara ia membatasi potensi diri.

5. Menyebarkan miskonsepsi tentang kesehatan mental

ilustrasi mengobrol dengan teman
ilustrasi mengobrol dengan teman (freepik.com/pressfoto)

Ketika self-diagnosis dibagikan ke orang lain, miskonsepsi ikut menyebar. Istilah psikologis digunakan secara longgar tanpa pemahaman yang tepat. Lama-lama, makna gangguan mental jadi kabur. Hal ini merugikan banyak pihak, termasuk mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Konten kesehatan mental seharusnya membuka empati, bukan menyederhanakan realitas. Edukasi psikologi perlu konteks dan tanggung jawab. Jika tidak, stigma baru justru tercipta. Kesadaran yang keliru bisa sama berbahayanya dengan ketidaktahuan.

Memahami diri sendiri memang penting, tapi melabeli diri lewat konten singkat bukan solusi terbaik. Kesehatan mental bukan tren, melainkan perjalanan personal yang kompleks. Jika kamu merasa ada yang mengganggu, berbicara dengan psikolog profesional adalah langkah paling bijak. Yuk, konsumsi konten kesehatan mental dengan lebih kritis dan penuh empati pada diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Manfaat Belajar dari Praktisi Startup, Cara Kerja Jadi Lebih Agile

04 Feb 2026, 21:42 WIBLife