Ilustrasi umat Katolik (pexels.com/Photo by eduardo199o9)
Tujuan utama dari mistagogi adalah menolong umat beriman menyadari kehadiran Tuhan melalui tanda-tanda sakramen. Dalam proses ini, umat diajak untuk tidak berhenti pada hal-hal yang tampak secara lahiriah, seperti air dalam baptisan atau roti dan anggur dalam ekaristi, tetapi masuk lebih dalam ke makna ilahi yang terkandung di dalamnya.
Mistagogi menjadi sarana pembinaan rohani yang mendorong umat beralih dari sekadar mengikuti perayaan iman menjadi pribadi yang terlibat secara sadar dan menghargai anugerah keselamatan dari Allah. Dalam gereja Katolik, masa mistagogi setelah seseorang menerima sakramen Inisiasi, yakni baptis, krisma, dan ekaristi.
Pada tahap ini, para mereka didampingi untuk merefleksikan pengalaman sakramental yang telah mereka terima. Lalu memahami pengaruhnya bagi kehidupan rohani, serta menghidupi iman dalam keseharian.
Meski demikian, mistagogi bukan hanya untuk umat yang baru dibaptis. Setiap kali umat merayakan sakramen atau mengambil bagian dalam liturgi, proses pendalaman iman ini terus berlangsung sepanjang hidup.
Masa mistagogi mengingatkan bahwa perjalanan iman tidak berhenti setelah menerima sakramen, melainkan justru dimulai dengan langkah yang lebih sadar dan mendalam. Melalui pendalaman makna iman, umat diajak untuk menghidupi apa yang telah dirayakan, bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.