"Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada wewenang mengajar gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan alas nama Yesus Kristus." (DV 10) (KGK 85)
"Wewenang mengajar itu tidak berada di alas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan roh kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah." (DV 10).(KGK 86)
Magisterium dalam Gereja Katolik, Menjelaskan Kebenaran Iman

Dalam gereja Katolik, magisterium memegang peran penting sebagai otoritas pengajaran yang bertugas menjaga kemurnian iman dan ajaran gereja. Melalui magisterium, gereja menafsirkan dan menjelaskan kebenaran iman yang bersumber dari kitab suci dan tradisi suci agar tetap relevan dan dapat dipahami oleh umat di setiap zaman.
Kehadiran magisterium membantu umat beriman memiliki pegangan yang jelas dalam memahami ajaran Kristus di tengah berbagai pandangan dan tantangan dunia modern. Lalu apa magisterium dalam gereja Katolik?
1. Apa itu magisterium?

Mengutip Iman Katolik, magisterium adalah wewenang kuasa mengajar gereja. Hal ini diambil dari Katekismus Gereja Katolik atau KGK. Berikut ini dasar-dasar magisterium yang perlu kamu tahu.
2. Sifat infalibilitas dalam magisterium

Magisterium adalah wewenang mengajar gereja. Dikutip dari laman Katedral Jakarta, magisterium terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengan paus, yang diberikan karisma dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral.
Di dalamnya terdapat sifat infalibilitas (tak dapat salah), yang ini tidak berlaku dalam segala hal. Namun hanya dalam hal iman dan moral. Terutama pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam dogma dan doktrin resmi gereja Katolik.
Selain itu, magisterium memiliki wewenang untuk menafsirkan Alkitab secara gerejawi dan membagikannya ke umat. Posis imam membantu magisterium untuk melanjutkannya ke umat dalam bahasa yang dapat dipahami dengan baik oleh mereka.
3. Hubungan tradisi suci, kitab suci, dan magisterium

Tradisi suci mengungkap pengalaman iman yang direfleksikan dalam kitab suci, dilanjutkan dengan pewartaan (lisan dan tertulis) oleh para rasul. Lalu diajarkan dan diperbaharui oleh pengganti para rasul (magisterium gereja).
Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam tradisi (pengalaman para rasul).
Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada di bawah pengaruh roh kudus sendiri. Maka tradisi yang dihayati gereja di segala zaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab. Pengontrolan ini ada dalam wilayah magisterium gereja.
Maka, dalam menafsirkan tradisi dan Alkitab, wewenang (otoritas) untuk mengajar soal-soal iman dan moral (magisterium) ada di tangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni pengganti Petrus. Mengapa? Sebab dalam 2Pet 3:15-16 diingatkan bahwa Alkitab sangat sulit untuk dimengerti sehingga butuh wewenang khusus untuk menafsirkannya dan wewenang itu ada di tangan gereja yang sudah diberi wewenang oleh Yesus sendiri.
Memahami magisterium berarti memahami bagaimana gereja Katolik setia pada ajaran Kristus sepanjang sejarah. Melalui pengajaran Paus dan para uskup yang bersatu dengannya, gereja berusaha menuntun umat agar tetap berjalan di jalan iman yang benar, sekaligus menanggapi persoalan-persoalan baru dengan terang injil.


















