ilustrasi sibuk (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Ada narasi yang tanpa sadar banyak orang telan secara mentah-mentah. Mereka meyakini bahwa semakin sibuk seseorang, semakin berharga hidupnya. Kalau kamu tidak bisa menjawab pertanyaan "apa kabar?" tanpa menyebut betapa sibuknya kamu, maka hal tersebut patut dicermati. Kesibukan menjadi semacam identitas yang kamu pegang erat, karena tanpa itu, kamu tidak tahu harus mendefinisikan dirimu sebagai apa.
Ketika nilai dirimu sepenuhnya bergantung pada produktivitas dan output, berhenti melakukan itu semua akan terasa seperti kehilangan identitas. Kamu takut kalau tidak sibuk, orang lain akan menganggapmu tidak berguna, atau lebih buruk lagi, kamu sendiri akan mulai meragukan apakah kamu memang cukup berharga. Rasa takut itu yang kemudian mendorongmu untuk terus mengisi waktu, terus menambah tanggung jawab, dan terus membuktikan sesuatu, meski kamu sendiri tidak selalu tahu membuktikan apa dan untuk siapa. Nilai diri yang sehat tidak bergantung pada seberapa penuh jadwalmu, sebab kamu tetap berharga bahkan ketika kamu tidak melakukan apa-apa.
Memakai kesibukan sebagai pelarian dari diri sendiri tidak akan pernah membawamu ke mana-mana. Karena tujuan awal kamu bukan untuk maju, melainkan untuk menghindari. Semakin lama kamu lari, semakin besar jarak antara kamu dan dirimu sendiri. Lantas, satu-satunya cara untuk menutup jarak itu adalah dengan berani berhenti, meski hanya sebentar.