Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Beranikan dan Izinkan Dirimu untuk Merasa Bersedih saat Lebaran
ilustrasi orang bersedih (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Artikel menyoroti bahwa tidak semua orang merasa bahagia saat Lebaran, dan wajar jika seseorang merasakan kesedihan di tengah suasana yang umumnya penuh keceriaan.
  • Ditekankan bahwa kesedihan bersifat sementara; menerima dan mengikhlaskan perasaan dapat membantu proses pemulihan emosional tanpa harus berpura-pura bahagia.
  • Memberi kelonggaran pada diri untuk bersedih dianggap sebagai bentuk cinta diri, membantu menjaga keseimbangan emosi dan ketenangan batin selama momen hari raya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Hari raya kerap digambarkan sebagai momen membahagiakan, berkumpul keluarga besar, makan bersama, bercanda tawa hingga saling bermaafan. Namun, gak semua orang merasakan kebahagiaan itu. Ada yang mesti menguatkan diri karena kehilangan orang tersayang, menahan rindu pulang kampung halaman karena di perantauan, dan permasalahan lain yang sedang dihadapi.

Di tengah kesulitan dalam suasana yang pada umumnya bahagia, seolah menuntut diri untuk menekan kesedihan agar terlihat ceria di depan banyak orang. Emosi itu manusiawi, dan sedih juga termasuk yang boleh dirasakan, maka mengizinkan diri bersedih saat hari raya tak ada salahnya dilakukan.

1. Wajar untukmu bersedih

ilustrasi orang bersujud (pexels.com/RDNE Stock project)

Sekalipun media sosia dipenuhi beragam foto dan video perkumpulan keluarga, cerita perjalanan mudik yang seru, hingga suasana meriah malam takbiran, ketika diri sedang berduka maka tak usah memaksa diri harus seperti apa yang ada. Jika memang belum mampu untuk tertawa, belajar dulu menerima kenyataan dan perlahan ikhlaskan.

Dalam kondisi hati yang begini, kalau tetap menuntut berbahagia itu malah memberatkanmu, dan tentu menambah kesedihan. Namun, jika memberi ruang untuk bersedih secukupnya, bisa dengan cara curhat ke orang terpercaya atau cara lain yang nyaman untukmu, justru ini melegakan. Maka, pahamilah dulu bahwa mengizinkan diri merasakan kesedihannya itu wajar dan manusiawi sebagai bentuk penerimaan dan sayang diri sendiri.

2. Perasaan ini gak akan lama jadi rileks saja

ilustrasi menyapa sambil tersenyum (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kadang seperti akan menetap selamanya rasa sedih ini, namun perlu diyakini juga bahwa ini gak akan berlangsung selamanya. Meski, momen raya ini kamu sedang bersedih dan makin menguat rasanya ketika di sekitar suasananya begitu berkebalikan, milikilah pemahaman bahwa kesedihan akan berlalu dengan proses yang wajar.

Perasaan sedih bersifat sementara kalau mau menerima dan mencoba mengikhlaskan. Sadari fase ini gak akan menetap sepanjang harimu kelak supaya membantumu kembali stabil dan mampu melihat keadaan secara objektif demi pemulihan diri.

Dengan begitu, bebannya gak terlalu berat. Gak merasa harus terburu-buru menghilangkan sedihnya. Sebaliknya, membantu lebih sadar, sabar dan ikhlas menjalani prosesnya. Hari raya gak terasa sebagai beban yang menyiksa karena mesti pura-pura bahagia.

3. Memberi kelonggaran pada diri adalah bentuk cinta

ilustrasi laki-laki duduk berdoa (pexels.com/Alena Darmel)

Ketika bersedih pada momen yang biasanya identik dengan bahagia, tapi tak memaksakan diri berpura-pura kuat, ini menjadi upaya menjaga keseimbangan. Kalau gak sibuk melawan apa yang sedang dirasa, justru semua akan baik-baik saja. Maka, bersedih sementara itu gak apa-apa sebagai cara memberi diri kelonggaran agar tetap bisa merasakan cinta dan kegembiraannya.

Kerap yang bikin gak rileks dan makin berat bukan semata perasaan sedihnya, tapi juga paksaan diri untuk terlihat kuat di depan orang. Nah, kalau diterima dan perlahan diikhlaskan, itu bikin tenang. Gak lagi banyak menguras energi menutupi rasa asli dalam hati.

Sebagai manusia gak harus selalu kuat dan bisa tetap bahagia pada momen apa saja terlepas dari persoalan yang dihadapi, ketika juga punya ruang untuk mencintai diri. Perlakukan diri dengan kasih sayang dan kelembutan supaya selalu ada pegangan menjalani hidup dengan seimbang.

Sesuatu yang diperbolehkan, kok mengizinkan diri bersedih saat momen raya. Gak apa-apa untuk tak menyembunyikan atau berpura-pura bahagia. Terpenting gak terus merasa terjebak di dalamnya, beri waktu merasakan dan memroses emosi tersebut. Lakukan dengan ritme sewajarnya saja.

Beri cinta dengan izinkan diri untuk gak apa-apa hari raya tahun ini sedikit berbeda dari biasanya. Kamu tetap pantas merasakan kasih terutama dari diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team