ilustrasi laki-laki duduk berdoa (pexels.com/Alena Darmel)
Ketika bersedih pada momen yang biasanya identik dengan bahagia, tapi tak memaksakan diri berpura-pura kuat, ini menjadi upaya menjaga keseimbangan. Kalau gak sibuk melawan apa yang sedang dirasa, justru semua akan baik-baik saja. Maka, bersedih sementara itu gak apa-apa sebagai cara memberi diri kelonggaran agar tetap bisa merasakan cinta dan kegembiraannya.
Kerap yang bikin gak rileks dan makin berat bukan semata perasaan sedihnya, tapi juga paksaan diri untuk terlihat kuat di depan orang. Nah, kalau diterima dan perlahan diikhlaskan, itu bikin tenang. Gak lagi banyak menguras energi menutupi rasa asli dalam hati.
Sebagai manusia gak harus selalu kuat dan bisa tetap bahagia pada momen apa saja terlepas dari persoalan yang dihadapi, ketika juga punya ruang untuk mencintai diri. Perlakukan diri dengan kasih sayang dan kelembutan supaya selalu ada pegangan menjalani hidup dengan seimbang.
Sesuatu yang diperbolehkan, kok mengizinkan diri bersedih saat momen raya. Gak apa-apa untuk tak menyembunyikan atau berpura-pura bahagia. Terpenting gak terus merasa terjebak di dalamnya, beri waktu merasakan dan memroses emosi tersebut. Lakukan dengan ritme sewajarnya saja.
Beri cinta dengan izinkan diri untuk gak apa-apa hari raya tahun ini sedikit berbeda dari biasanya. Kamu tetap pantas merasakan kasih terutama dari diri sendiri.