Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Nostalgia Lebaran Justru Baik untuk Kesehatan Mental?

Kenapa Nostalgia Lebaran Justru Baik untuk Kesehatan Mental?
ilustrasi lebaran (freepik.com/freepik)

Ada yang berbeda setiap kali Lebaran mendekat. Pikiran ini seperti diajak berkelana sendiri, membayangkan aroma masakan khas yang dulu selalu menguar dari dapur rumah, padahal kenyataannya hari-hari ini masih terasa seperti hari biasa saja. Bukan halusinasi, tapi semacam rindu yang datang tanpa permisi. Lalu sering kali, setelah rindu itu mampir, ada perasaan hangat yang ikut tertinggal di dada.

Momen Lebaran memang punya cara tersendiri untuk menarik kita kembali ke masa lalu. Ingatan tentang baju baru yang dipakai pertama kali saat salat Id, suara takbir yang menggema di kejauhan, atau momen berkumpul bersama keluarga besar yang kini sudah jarang terjadi. Semua itu terkadang muncul begitu saja, lengkap dengan detailnya yang mengejutkan. Seolah otak kita sengaja menyimpan momen-momen itu di laci paling atas, siap dibuka kapan saja ketika suasana Lebaran mulai terasa.

Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa kenangan semacam itu terasa begitu menenangkan? Bukan semata-mata soal bayangan indahnya masa lalu, ternyata ada penjelasan ilmiah di balik kehangatan yang kita rasakan saat nostalgia Lebaran itu datang. Para psikolog menyebutnya bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai salah satu mekanisme psikologis yang justru menyehatkan. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dalam pikiran kita saat kenangan itu muncul?

1. Nostalgia memberikan rasa nyaman dan aman

ilustrasi nostalgia masa kecil (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi nostalgia masa kecil (pexels.com/Timur Weber)

Nostalgia sering kali muncul di saat-saat seseorang merasa kesepian, cemas, atau tidak nyaman dengan kondisi sekitarnya. Ketika itu terjadi, otak secara alami akan mencari 'tempat yang aman'. Terkadang, kenangan masa lalu sering kali menjadi tempat itu. Mengingat momen-momen yang penuh kehangatan, seperti berkumpul bersama orang-orang tersayang, membuat seseorang merasa diterima dan dicintai.

Perasaan nyaman itu bukan sekadar efek sementara. Nostalgia juga membangun kembali rasa percaya diri seseorang, terutama dalam konteks hubungan sosial. Ketika seseorang mengingat bahwa ia pernah memiliki ikatan yang kuat dengan orang lain, ia pun merasa lebih yakin bahwa ia mampu membangun dan menjaga hubungan yang bermakna di masa kini maupun masa depan.

"Dari riset yang kami lakukan, kami menemukan bahwa ketika mengalami nostalgia, mengingat kembali kenangan-kenangan istimewa dari masa lalu, hal itu menumbuhkan rasa percaya diri secara sosial dan memberi orang kekuatan untuk lebih membuka diri dalam berinteraksi dengan orang lain," ujar Andrew Abeyta, PhD, seorang Rutgers University psychology professor yang mempelajari tentang efek nostalgia pada rasa kesepian, dilansir situs American Psychological Association (APA).

2. Mengurangi stres dan kecemasan

ilustrasi pria berusaha untuk tenang (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi pria berusaha untuk tenang (pexels.com/cottonbro studio)

Saat pikiran terasa penuh dan tekanan hidup terasa berat, nostalgia bisa menjadi semacam jeda yang menyegarkan. Mengingat kembali masa-masa yang menyenangkan membuat seseorang sejenak keluar dari kegelisahan yang sedang dirasakan. Bukan berarti lari dari masalah, tapi lebih kepada memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas.

Lebih jauh, nostalgia juga membantu menggeser cara pandang seseorang terhadap situasi yang sedang dihadapi. Ketika seseorang mengingat bahwa ia pernah melewati masa-masa sulit dan tetap baik-baik saja, rasa cemas terhadap masa depan pun perlahan mereda. Nostalgia memberi semacam bukti dari dalam diri sendiri bahwa segalanya bisa dilewati.

"Setelah mempelajari topik ini selama lebih dari 20 tahun, saya menemukan bahwa nostalgia sebenarnya membantu orang untuk terus melangkah maju. Nostalgia membuat orang lebih optimis tentang masa depan, meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kecemasan, meningkatkan suasana hati yang positif, rasa percaya diri, serta makna dalam hidup. Lebih dari itu, nostalgia membuat orang merasa bersyukur dan memberikan mereka semangat," ucap Clay Routledge, PhD, seorang Psikolog Sosial dan Wakil Presiden bidang riset sekaligus Direktur Human Flourishing Lab, masih dari situs APA.

3. Membantu kita merasa lebih terhubung

Ilustrasi nostalgia menonton bersama tv keluarga
Ilustrasi nostalgia menonton tv bersama keluarga (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pada dasarnya, nostalgia bukan lah sebuah ruang yang berdiri sendiri. Nostalgia merupakan ruang yang memilki fragmen kenangan dan tentunya melibatkan orang lain. Hampir tidak ada nostalgia yang sifatnya soliter. Di dalamnya, selalu ada keluarga, teman, ada orang terdekat yang menjadi bagian dari momen tersebut.

Itulah kenapa, ketika seseorang bernostalgia, maka yang ikut terbawa bukan hanya gambar atau suasana. Namun juga perasaan yang terhubung dengan orang-orang di dalamnya. Nostalgia juga kerap mengingatkan bahwa kita pernah dicintai dan menjadi bagian dari sesuatu. Kenangan masa lalu sering kali berisi momen di mana seseorang merasa diterima. Perasaan itu, meski hanya diakses lewat ingatan, tetap terasa nyata dan menghangatkan.

4. Mengingatkan pada hal-hal sederhana

ilustrasi nostalgia (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi nostalgia (pexels.com/cottonbro studio)

Di tengah kesibukan sehari-hari yang terus berputar, orang sering kali lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Nostalgia hadir sebagai pengingat bahwa momen-momen paling berkesan dalam hidup justru sering kali lahir dari hal yang sederhana. Suara tawa yang pecah di ruang keluarga, aroma masakan yang menguar dari dapur, atau sekadar duduk bersama orang-orang tersayang tanpa agenda apa pun. Kenangan-kenangan itu bertahan lama bukan karena kemewahan yang menyertainya, tapi karena ketulusan yang ada di dalamnya.

Ketika nostalgia membawa seseorang kembali ke momen-momen sederhana itu, ada pergeseran perspektif yang terjadi secara perlahan. Standar kebahagiaan yang selama ini terasa tinggi dan melelahkan tiba-tiba terasa lebih ringan. Seseorang jadi lebih mudah bersyukur atas apa yang sudah ada, dan lebih sadar bahwa hal-hal kecil di sekitarnya pun layak untuk dinikmati.

5. Membantu proses refleksi diri

ilustrasi nostalgia (https://www.pexels.com/@nietjuhart/)
ilustrasi nostalgia (https://www.pexels.com/@nietjuhart/)

Nostalgia bukan hanya soal merindukan masa lalu, ia juga mengajak seseorang untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Ketika kenangan masa lalu muncul, secara tidak langsung seseorang sedang membandingkan siapa dirinya dulu dengan siapa dirinya sekarang. Proses itu, meski terasa santai dan tanpa paksaan, sebenarnya adalah bentuk refleksi diri yang cukup dalam. Seseorang jadi bisa melihat sejauh mana ia telah berkembang dan hal-hal apa yang perlahan berubah seiring waktu.

Lebih dari itu, nostalgia juga membantu seseorang untuk lebih memahami apa yang benar-benar penting dalam hidupnya. Kenangan yang paling sering muncul dan paling terasa hangat biasanya adalah cerminan dari nilai dan prioritas yang seseorang pegang secara mendalam.

Berbagai alasan di atas menjawab mengapa nostalgia Lebaran ternyata cukup baik untuk kesehatan mental. Karena nostalgia bukan lah ruang yang kosong, melainkan tempat hidupnya momen-momen berharga yang pernah ada.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us