masker salah satu produk turunan batik (instagram.com/anjanibatikgaleri)
Sebelum pandemi COVID-19, Anjani sudah sudah memiliki pangsa pasar tersendiri untuk batik yang dihasilkan. Bahkan, sampai banjir pesanan. Sebab, sampai saat ini hanya ada 5 pembatik di Kota Batu, hanya 2 yang memiliki galeri, sisanya merupakan industri rumahan.
Sedangkan di Pemkot Batu, ada ribuan pegawai yang diwajibkan menggunakan seragam batik Batu. Dari 5 pembatik tersebut, hampir 40 persen dinas dilayani oleh Anjani, sisanya pembatik lain.
Seolah tidak bisa berhenti melayani, hanya untuk seragam dinas, belum lagi pesanan dari luar. Banyaknya pesanan, membuatnya belum memikirkan produk turunan dari batik.
Sejak pandemi COVID-19, ia memikirkan untuk menghabiskan stok yang sudah ada dan cara untuk bertahan. Tidak dipungkiri bahwa pandemi menjadi masa yang cukup berat untuk dilalui. Kondisi awal pandemi pun berdampak terhadap perekonomian. Tidak sedikit yang harus gulung tikar dan kolaps.
Berbeda dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) yang dikelola Anjani. Bukannya mengurangi, tapi justru menambah jumlah tenaga kerja. Ia menampung sejumlah orang yang tengah membutuhkan pekerjaan untuk penghidupan.
Astra Indonesia pun turut membantu kebutuhan usaha yang tengah dijalankan Anjani. Akhirnya, ia membuat kelompok-kelompok usaha yang bisa memproduksi produk turunan dari batik. Jika sebelumnya hanya memproduksi kain batiknya saja, kini dibuat dalam bentuk lain, seperti jaket atau tas.
Bersama Astra, ia membantu pelaku kesenian bantengan yang kehilangan pekerjaan karena pandemi. Jangan sampai terlantar, sebab mereka lah yang melestarikan. Mereka yang membutuhkan mata pencaharian dibina, diberi perlatan, dan difasilitasi untuk memproduksi produk turunan dari batik.
Sedangkan Anjani mengemban tanggung jawab untuk mencarikan pasar. Ia menjalin kerjasama dengan berbagai pihak melalui webinar, untuk menjual produknya. Supaya kelompok-kelompok tersebut tetap bertahan.
Hikmah di balik pandemi, membuat Anjani harus terus berkembang. Tidak hanya mengandalkan selembar kain batik, tapi juga membuat produk turunannya.
Selama pandemi, perdagangan secara online semakin marak. Namun, tidak demikian dengan batik yang diproduksi Anjani. Produk yang telah diproduksi saat ini, tidak dibuat lagi. Melainkan, membuat karya baru dengan motif bantengan yang bervariasi.
Batik Anjani memang terkenal mahal, karena batik tulis dan tidak memproduksi batik printing maupun cap. Untuk ongkos kerja saja di atas Rp200 ribu, tidak heran kalau harganya tergolong mahal. Bahkan, ada yang mencapai Rp3 juta.
Hal tersebut memicu persoalan baru, orang yang tidak bertanggung jawab bisa saja memproduksi dengan motif serupa dan menjualnya dengan harga lebih murah. Pengalaman itu pernah dialami Anjani, beruntungnya batik banteng telah memiliki hak paten. Beruntung, oknum yang ingin menduplikasikannya pun telah mengakui.
Untuk mengenalkan produknya, Anjani tetap memanfaatkan media sosial. Namun, keperluan pemasaran, ia membangun kerjasama dengan pihak lain secara langsung. Tidak melalui e-commerce, ia pun memiliki galeri.