Media sosial telah menjadi ruang bagi siapa saja untuk berkreasi dan menghibur publik. Demi mendapatkan perhatian, tidak sedikit kreator yang membuat konten komedi dengan berbagai tema, termasuk meniru cara berjalan, berbicara, atau perilaku yang diasosiasikan dengan penyandang disabilitas. Sebagian menganggapnya sebagai candaan biasa, tetapi banyak pula yang menilai tindakan tersebut tidak sensitif dan berpotensi merugikan kelompok tertentu.
Humor memang bagian dari kebebasan berekspresi, tetapi kebebasan tersebut tetap memiliki batas ketika menyangkut martabat orang lain. Menjadikan disabilitas sebagai bahan lelucon bukan hanya soal apakah orang tertawa atau tidak, melainkan juga tentang dampak yang ditimbulkan terhadap individu dan masyarakat. Berikut lima fakta yang menjelaskan mengapa disabilitas tidak layak dijadikan joke demi konten.
