5 Perbedaan Stoikisme dan Sikap Pasrah, Mirip tapi Gak Sama

- Stoikisme menekankan pengendalian diri dan fokus pada hal yang bisa dikendalikan, sedangkan sikap pasrah cenderung menyerahkan segalanya pada nasib tanpa banyak usaha.
- Dalam menghadapi masalah dan kegagalan, stoikisme mendorong tindakan rasional serta pembelajaran dari pengalaman, sementara sikap pasrah sering berhenti berusaha setelah gagal.
- Stoikisme mengajarkan pengelolaan emosi dan tanggung jawab atas tindakan sendiri agar tetap tenang dan bijak, berbeda dengan sikap pasrah yang mudah dikuasai perasaan tidak berdaya.
Belakangan ini, stoikisme semakin sering dibahas dalam buku pengembangan diri, podcast, hingga media sosial. Banyak orang tertarik dengan filosofi ini karena dianggap membantu seseorang tetap tenang menghadapi tekanan hidup.
Namun, ada satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul. Tidak sedikit orang mengira stoikisme sama dengan sikap pasrah. Keduanya memang sama-sama berbicara tentang menerima kenyataan, sehingga sekilas terlihat mirip.
Padahal, jika diperhatikan lebih dalam, stoikisme dan sikap pasrah memiliki perbedaan yang cukup jelas. Stoikisme justru menekankan tindakan yang rasional, bukan sekadar menyerah pada keadaan. Supaya lebih mudah dipahami, ketahui beberapa perbedaan stoikisme dan sikap pasrah berikut ini.
1. Cara memandang kendali dalam hidup

Perbedaan paling mendasar terletak pada bagaimana seseorang memandang kendali atas hidupnya. Dalam stoikisme, ada prinsip penting yang sering disebut dichotomy of control. Artinya, hidup dibagi menjadi dua hal, yang bisa kita kendalikan dan yang tidak bisa kita kendalikan.
Hal yang bisa kita kendalikan antara lain adalah pikiran, sikap, keputusan, dan tindakan. Sementara itu, hal-hal seperti opini orang lain, keberuntungan, masa lalu, atau kejadian tak terduga berada di luar kendali kita. Orang yang menerapkan stoikisme akan fokus pada hal yang bisa ia kendalikan.
Sebaliknya, sikap pasrah sering membuat seseorang merasa bahwa hampir semua hal dalam hidup sudah ditentukan oleh nasib atau keadaan di luar dirinya. Pandangan seperti ini dapat menumbuhkan keyakinan bahwa usaha pribadi tidak akan banyak mengubah hasil akhir. Akibatnya, seseorang cenderung berhenti mencoba memperbaiki situasi dan memilih menerima keadaan apa adanya.
2. Sikap terhadap masalah

Perbedaan berikutnya terlihat dari cara seseorang menghadapi masalah. Orang yang bersikap pasrah biasanya akan menerima keadaan apa adanya tanpa banyak usaha untuk memperbaiki situasi. Kalimat seperti “Ya sudah, memang nasibnya begini” sering menjadi bentuk ekspresinya.
Sementara itu, stoikisme tidak mengajarkan untuk berhenti berusaha. Seorang stoik tetap akan mencari solusi, memperbaiki kesalahan, dan mencoba strategi baru. Bedanya, mereka tidak terlalu terikat pada hasil akhir.
3. Cara menghadapi kegagalan

Kegagalan adalah bagian dari kehidupan, tetapi setiap orang meresponsnya dengan cara berbeda. Sikap pasrah sering membuat seseorang berhenti mencoba setelah mengalami kegagalan. Ia mungkin merasa bahwa usaha lebih lanjut tidak akan mengubah apa pun.
Sebaliknya, stoikisme melihat kegagalan sebagai sesuatu yang bisa dipelajari. Seorang stoik akan menerima kenyataan bahwa ia gagal, mengevaluasi apa yang bisa diperbaiki, dan mencoba lagi dengan pendekatan yang lebih baik. Dengan kata lain, stoikisme menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk berkembang.
4. Hubungan dengan emosi

Stoikisme sering disalahpahami sebagai filosofi yang mengajarkan seseorang untuk tidak memiliki emosi. Padahal bukan itu maksudnya. Stoikisme justru mengajarkan bagaimana mengelola emosi agar tidak menguasai kita.
Ketika menghadapi situasi sulit, seorang stoik berusaha tetap tenang, berpikir rasional, dan tidak bereaksi secara berlebihan. Sementara itu, sikap pasrah kadang muncul karena seseorang merasa tidak punya kendali atas hidupnya. Perasaan tidak berdaya ini justru bisa membuat emosi negatif semakin kuat.
5. Sikap terhadap usaha dan tindakan

Perbedaan terakhir terletak pada sikap terhadap usaha. Stoikisme sangat menghargai tindakan. Filosofi ini mengajarkan bahwa seseorang harus tetap berusaha melakukan yang terbaik dalam situasi apa pun.
Beberapa prinsip yang sering ditekankan dalam stoikisme adalah lakukan yang benar meskipun sulit, fokus pada usaha, dan tetap bertanggung jawab atas tindakan sendiri. Sebaliknya, sikap pasrah sering membuat seseorang berhenti mencoba karena merasa hasil akhirnya sudah ditentukan.
Intinya, stoikisme sebenarnya jauh dari sikap menyerah. Filosofi ini justru mendorong seseorang untuk bertindak secara bijak sambil menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita. Stoikisme mengajarkan keseimbangan: tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak membiarkan kegagalan atau keadaan di luar kendali merusak ketenangan batin.