ilustrasi performative empathy (pexels.com/Asad Photo Maldives)
Banyak politisi mengatakan bahwa mereka mengerti keadaan masyarakat, tetapi pemahaman itu sering tidak disertai interaksi langsung atau data yang memadai. Frasa semacam itu terdengar aman, tetapi tidak menjelaskan apa pun mengenai realitas yang dihadapi warga. Ketika pola ini muncul dalam berbagai kesempatan, publik melihatnya sebagai upaya membangun kedekatan instan tanpa fondasi pengetahuan yang layak.
Situasinya menjadi kontradiktif ketika solusi yang ditawarkan justru jauh dari konteks sehari-hari masyarakat. Pada titik ini, empati yang disampaikan terasa kosong karena tidak menyinggung pengalaman nyata warga. Kamu pasti pernah merasakan momen ketika pernyataan empati terasa dingin karena tidak ada satu pun dari isi kalimat itu yang selaras dengan pengalamanmu sehari-hari.
Performative empathy mudah sekali dikenali karena publik semakin kritis membaca apakah empati yang ditampilkan lahir dari kebutuhan menjaga citra atau dari keinginan memahami keadaan. Kemampuan publik membedakan keduanya membuat fenomena ini semakin terlihat. Kamu sendiri, dari semua bentuk empati yang pernah kamu lihat, mana yang menurutmu terasa paling jujur?
Referensi:
“MASROOR: On performative empathy” Yale News. Diakses pada Desember 2025
“Dear Leaders: A Candid Note on Performative Empathy” INBusiness. Diakses pada Desember 2025
“Performing Political Empathy” Oxford Academic. Diakses pada Desember 2025
“Editorial: Political empathy is performative and temporary” Debate. Diakses pada Desember 2025