Fenomena performative religious makin sering terasa di sekitar, terutama sejak praktik beragama ikut hadir di ruang publik dan media sosial yang serba terlihat. Banyak orang tampak religius, tetapi ketika diperhatikan lebih dekat, muncul kesan yang tidak selalu selaras dengan apa yang dijalani sehari-hari. Ini bukan soal siapa yang paling benar atau paling salah, melainkan soal bagaimana memahami batas tipis antara ketulusan dan kebutuhan untuk terlihat.
Di sisi lain, tidak sedikit orang merasa serba salah saat menilai karena takut terkesan menghakimi atau terlalu cepat berprasangka. Situasi ini akhirnya membuat banyak orang memilih diam, meski sebenarnya menangkap sesuatu yang terasa janggal. Padahal, memahami pola seperti ini penting supaya tidak mudah terkecoh oleh tampilan luar saja. Yuk, simak sama-sama apa saja ciri performative religious!
