Jordy bersama anak-anak (instagram.com/papuafutureproject)
Papua Future Project membangun program-program yang berkolaborasi dengan Unicef Indonesia dan Kementerian Kesehatan. Jadi gak cuma soal pendidikan, tapi akses kesehatan juga didorong untuk anak-anak Papua. Namun dalam menjalannya, program ini sering kali berbenturan dengan tradisi dan stigma-stigma di tengah masyarakat, khususnya bagi anak-anak perempuan dan berkebutuhan khusus.
Jordy menerangkan di Papua masih ada tradisi khususnya bagi anak-anak perempuan, bahwa mereka tidak perlu bersekolah. Lalu jika dianggap usia sudah cukup, mereka akan menikah muda. Adat semacam ini masih sering terjadi di masyarakat Papua.
“Kami benar-benar berusaha banget bagaimana anak-anak perempuan juga memiliki hak yang sama untuk bersekolah,” tuturnya.
Jordy pun mencoba untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat kalau menikah muda itu ada risiko-risikonya. Misalnya menikah di usia muda risikonya angka kematian tinggi, secara mental belum siap menjadi ibu, fisik dan kesehatan reproduksi juga belum siap, dan seterusnya. Sehingga dengan penjelasan seperti ini, diharapkan bisa memberi pembelajaran dan edukasi bagi masyarakat di Papua.
Selain itu, Jordy bersama Papua Future Project juga memberikan perhatian kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Sebab, masyarakat di Papua masih ada beberapa orang yang punya stigma kurang tepat bagi anak-anak disabilitas.
“Masyarakat di sini masih memiliki stigma atau doktrin bahwa anak tersebut adalah disgrace, anak-anak tersebut membawa karma buruk dari orangtua sebelumnya, padahal tidak seperti itu,” terang Jordy.
Karena hal ini pula, Jordy mencoba untuk memberikan wadah dan perhatian lebih agar anak-anak berkebutuhan khusus. Sehingga mereka juga bisa mengembangkan potensinya seperti anak-anak lain.
“Itulah kenapa Papua Future Project bekerja sama dengan berbagai NGO (non-governmental organization) untuk memberikan hak yang sama bagi anak-anak Papua, khususnya berkebutuhan khusus,” lanjut Jordy.