Francisca sering ke luar negeri untuk mengabarkan kemerdekaan Indonesia. Semula menjadi guru Bahasa Inggris dan penerjemah, Francisca kemudian menjadi wartawan.
Terlepas dari segala halang rintang yang dihadapi, ia merpakan sosok yang gigih memperjuangkan hak-hak kaum yang tertindas dan terus menyuarakan semangat kemerdekaan.
Tahun 1947, Francisca menjadi delegasi di World Youth and Students Festival di Praha. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke Yugoslavia dan Hungaria. Francisca juga terlibat dalam The Conference of Youth and Students of Southeast Asia Fighting for Freedom and Independence di Kalkuta India.
Perjalanannya menyuarakan kemerdekan tak selalu mulus. Francisca sempat hampir dihukum mati saat Peristiwa Madiun 1948. Namun, ia berhasil lolos dari penjara dan hukuman mati tersebut.
Kariernya terus berlanjut menjadi wartawan di Antara hingga menjadi anggoa DPR Gotong Royong. Sayangnya, semua kisah Francisca tidak tercatat dalam sejarah secara resmi.
Bahkan, ia sempat tidak bisa kembali ke Indonesia karena dikaitkan dengan G30S PKI. Peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 tersebut memisahkan Francisca dengan anak-anaknya. Saat itu, ia sedang bertugas di luar negeri tetapi paspornya dicabut oleh rezim Soeharto.
Komunikasi Francisca dan keluarganya di Indonesia baru terhubung pada tahun 1985. Francisca baru bisa kembali ke Indonesia pada tahun 2003 hingga meninggal pada 13 November 2013 di usianya ke-88 tahun.