5 Alasan Ramadan Waktu yang Tepat untuk mulai Usaha Kuliner

- Banyak orang malas memasak untuk berbuka puasa dan sahur
- Pesanan untuk buka bersama juga melimpah
- Hari pertama puasa sampai H+7 ragam kuliner masih diburu
Bulan Ramadan makin dekat. Persiapan apa saja yang sudah dilakukan olehmu? Jika dirimu muslim tentu mesti mempersiapkan fisik dan mental guna menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.
Namun, apa pun agamamu, bulan Ramadan juga menjadi momen yang tepat bila dirimu ingin memulai usaha kuliner. Setelah sekian lama kamu membayangkan punya usaha sendiri, inilah saat yang paling pas buat mewujudkannya. Beragam makanan dan minuman berpotensi laku keras selama Ramadan.
Jangan menyia-nyiakan kesempatan. Meski Ramadan hanya sebulan, dalam setahun belum tentu ada lagi momen sebaik ini. Untukmu yang masih ragu dan takut rugi, simak lima alasan Ramadan waktu yang tepat untuk mulai usaha kuliner. Segera matangkan konsep usaha, siapkan perlengkapan, dan keberanianmu untuk memulai!
1. Banyak orang malas memasak untuk berbuka puasa dan sahur

Waktu di bulan Ramadan bisa terasa lama atau justru singkat sekali tergantung jenis kegiatannya. Dari pagi sampai jelang sore dan orang harus bekerja, waktu terasa lambat betul. Namun, di sore hari saat mereka sudah pulang serta hendak memasak, waktu seperti berlari.
Masakan belum semuanya siap, waktu berbuka telah tiba. Malah orang yang memasak buat keluarga sampai belum mandi. Padahal, setelah ia berbuka harus segera salat Magrib kemudian bersiap salat Isya dan Tarawih.
Badan sudah capek duluan karena aktivitas memasak. Nanti menjelang sahur masih masak lagi. Salah-salah malah puasa terganggu karena kelelahan berujung sakit. Itu sebabnya banyak orang senang sekali ngabuburit sembari membeli aneka makanan dan minuman. Sangat praktis serta menggugah selera.
2. Pesanan untuk buka bersama juga melimpah

Kalau kamu punya tempat yang cukup luas buat menjalankan usaha kulinermu, tinggal kasih promo Ramadan saja. Itu akan menjadi daya tarik masyarakat untuk mencoba singgah di warungmu. Akan tetapi, dirimu cuma modal gerobak bahkan meja kecil buat menaruh dagangan pun gak masalah.
Kamu juga dapat memaksimalkan iklan di media sosial untuk menambah pesanan. Selama Ramadan, setiap hari ada berbagai pihak yang berbagi makanan buat berbuka puasa. Juga makanan serta minuman untuk acara berbuka bersama di kantor atau kompleks perumahannya.
Makanan yang dibagikan bukan hanya nasi kotak. Ada pula pelengkap berupa kue-kue. Demikian pula minumannya gak cuma air mineral atau es teh. Orang suka variasi seperti es cendol, es kuwut, es semangka, dan sebagainya. Kamu berjualan makanan serta minuman apa pun besar kemungkinan tetap diminati.
3. Hari pertama puasa sampai H+7 ragam kuliner masih diburu

Hari pertama di bulan Ramadan usaha-usaha kuliner langsung ramai. Inilah salah satu momen spesial yang amat dinantikan di bulan puasa. Jalan-jalan sore dan membeli aneka jajanan di pinggir jalan.
Kamu tidak perlu ketar-ketir daganganmu sama sekali tak dilirik orang. Tinggal cari tempat yang strategis, pasang banner atau tenda yang mencolok, daganganmu juga mesti terlihat menarik. Kamu pun dapat memasak sebagian menu di tempat agar orang yakin makanannya fresh.
Dari awal puasa hingga seminggu setelah Lebaran nanti usaha kuliner masih laris manis melebihi hari biasa. Jenis makanannya saja yang mungkin perlu diganti. Aneka takjil cuma diminati selama bulan puasa.
Setelah Lebaran, kamu dapat beralih ke kuliner biasa. Seperti bakso, mi ayam, soto, gado-gado, pecel, nasi rames, dan sebagainya. Memang orang-orang memasak opor ayam di rumah. Akan tetapi, 1 atau 2 kali mereka menyantapnya pasti telah menginginkan menu lain yang lebih segar dan ringan.
4. Orang membeli gak cuma karena butuh, tapi ingin bantu UMKM

Kesan konsumtif masyarakat selama bulan Ramadan sebenarnya juga tak selalu semata-mata buat mengenyangkan perut sendiri. Dalam belanja mereka sering kali terselip semangat buat membantu sesama. Termasuk bantu melariskan dagangan UMKM supaya para penjual dapat merayakan Idulfitri dengan penuh gembira.
Gak apa-apa kamu bersikap aji mumpung dengan memulai usaha kuliner di bulan Ramadan. Manfaatkan sikap dermawan mayoritas orang. Toh, dirimu tidak meminta belas kasihan mereka apalagi memaksanya untuk membeli daganganmu.
Kamu tetap berjualan seperti lazimnya orang berdagang. Kualitas dagangan dijaga betul. Pun dirimu gak sesuka hati kasih harga tinggi. Perkara orang tak sekadar ingin membeli daganganmu, tapi juga membantu usahamu bertahan adalah hak dan kebaikan hati mereka. Dirimu tinggal menerimanya serta berterima kasih.
5. Di awal sudah laris manis lebih mudah untukmu melanjutkannya

Tentu Ramadan cuma berlangsung satu bulan. Waktu yang sangat singkat kalau dibandingkan sebelas bulan sisanya. Namun, bila daganganmu laris selama bulan puasa, itu sudah fondasi yang kuat untuk usahamu lanjut ke bulan-bulan berikutnya.
Jika menu yang dijual gak pas lagi buat bulan-bulan setelah Ramadan hanya perlu diganti atau ditambah. Misal, semula kamu cuma berjualan gorengan dan laku keras menjelang berbuka. Setelah Lebaran gorengan masih jalan, tetapi ditambah menu lain supaya orang lebih tertarik.
Misalnya, gorengan dan nasi rames, lotek, atau ayam geprek. Pokoknya, makanan apa pun yang dapat dibuat olehmu. Toh, sekali masakanmu laku artinya dari segi rasa sudah diterima di lidah mayoritas orang. Kemampuanmu memasak cukup untuk menjalankan usaha kuliner.
Orang yang ingin punya usaha kuliner kerap bertanya-tanya kapan waktu yang tepat buat memulainya. Ada banyak ketakutan di awal. Namun, jangan pula kamu terus menunda rencana usaha. Apalagi bertepatan dengan bulan Ramadan sebentar lagi.
Nah, sekarang kamu jadi paham, kan, kalau Ramadan waktu yang tepat untuk mulai usaha kuliner. Yuk, siapkan konsep bisnis kulinermu dan perlengkapannya! Selain itu, jangan lupa untuk mematangkan mental dan kesiapan untuk bekal berbisnis.


















