Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi membaca buku
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Sunrise on the Reaping: Buku fenomenal dengan tema distopia politik dan alur yang mencekam, menggambarkan kekuasaan absolut dan perlawanan dari rasa kehilangan.

  • Hitam 2045: Fiksi ilmiah distopia dengan sentuhan thriller politik, memotret kegelisahan tentang radikalisme, polarisasi sosial, dan penguasaan teknologi di Indonesia.

  • I Who Have Never Known Men: Karya klasik dengan tema distopia eksistensial, menggambarkan kekuatan semangat manusia dalam mencari makna di tengah ketiadaan harapan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu sedang mencari bacaan yang tak hanya seru, tapi juga sanggup membuatmu merenung dalam-dalam tentang kondisi dunia saat ini? Buku dystopian dan speculative fiction yang reflektif mungkin bisa membuatmu lebih peka terhadap itu. Buku-buku seperti itu biasanya menawarkan narasi tajam tentang masa depan yang membuat pembacanya merenung karena sesuai dengan keadaan sekarang.

Genre dystopian dan speculative fiction bukan sekadar menyuguhkan kehancuran atau teknologi canggih, melainkan juga menjadi cermin bagi kegelisahan sosial, krisis iklim, hingga batas-batas kemanusiaan yang dihadapi sehari-hari. Dengan membaca karya fiksi spekulatif, pembaca diajak melihat berbagai potensi masa depan yang terasa jauh, tapi sebenarnya berakar kepada realitas sekarang. Yuk, bersiap mendapatkan perspektif baru yang sangat berharga dan mungkin akan mengubah caramu memandang dunia sekitar secara lebih kritis!

1. Sunrise on the Reaping

kover Sunrise on the Reaping (Sunrise on the Reaping karya Suzanne Collins)

Buku ini menjadi salah satu rilisan fenomenal pada 2025. Diterbitkan Scholastic Press pada 18 Maret 2025, tak sedikit pembaca yang sangat emosional setelah membacanya. Kamu akan diajak kembali ke semesta The Hunger Games untuk menyelami kisah masa muda Haymitch Abernathy.

Haymitch adalah pemenang Hunger Games ke-50 yang legendaris dengan pendekatan yang jauh lebih filosofis tentang trauma dan manipulasi politik. Kamu akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana kekuasaan absolut dapat menghancurkan jiwa seseorang dari ceritanya. Di sisi lain, benih perlawanan selalu bisa tumbuh dari rasa kehilangan.

Mengambil tema distopia politik dengan genre young adult, Sunrise on the Reaping sendiri menawarkan gaya penulisan yang lugas. Namun, ia penuh dengan ketegangan psikologis yang mencekam. Alurnya bergerak maju dengan tempo yang terjaga, sehingga pembaca bisa melihat bagaimana sebuah sistem yang korup bekerja secara sistematis untuk memadamkan harapan rakyatnya.

2. Hitam 2045

kover Hitam 2045 (Hitam 2045 karya Henry Manampiring)

Jika kamu mencari fiksi spekulatif dengan latar yang sangat dekat dengan kehidupanmu, Hitam 2045 adalah pilihan yang sangat tepat, karena menyajikan gambaran Indonesia pada masa depan. Penulisnya berhasil memotret kegelisahan tentang radikalisme, polarisasi sosial, dan penguasaan teknologi dalam sebuah narasi yang terasa begitu nyata sekaligus menakutkan. Meski alur terasa lambat untuk sebagian pembaca, kamu akan diajak merenungkan pentingnya menjaga akal sehat dan toleransi di tengah gempuran ideologi ekstrem yang berusaha mengontrol kebebasan tiap individu di Tanah Air.

Novel ini mengusung genre fiksi ilmiah distopia dengan sentuhan thriller politik yang memiliki alur cepat, tapi memberikan ruang bagi pembaca untuk berpikir. Gaya penulisannya terbilang komunikatif karena seperti diari dan tanpa ilustrasi apa pun. Buku ini bahkan bisa menggambarkan suasana mencekam di jalanan Jakarta masa depan. Ditulis Henry Manampiring, ia diterbitkan Bukune pada akhir 2022 dan terus menjadi perbincangan hangat hingga saat ini sebagai salah satu karya lokal paling berani.

3. I Who Have Never Known Men

kover I Who Have Never Known Men (I Who Have Never Known Men karya Jacqueline Harpman)

I Who Have Never Known Men merupakan karya klasik yang terbit pertama kali pada 1995 di Prancis. Ia baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 2022 oleh Ros Schwartz. Buku ini lalu mendapatkan pengakuan yang cukup luas saat diterbitkan Seven Stories Press di Amerika Serikat serta Vintage Book di Amerika Serikat dan Inggris. 

Sang penulis, Jacqueline Harpman, membiarkan buku ini bersifat terbuka. Tak sedikit pembaca yang bingung dengan tujuannya. Meski begitu, banyak pembaca yang asyik berefleksi dan berdiskusi tentang eksistensi manusia karena sifat bukunya. Dalam buku ini, kamu akan mengikuti perjalanan sekelompok perempuan yang dipenjara di ruang bawah tanah tanpa tahu alasannya. Mereka lalu bebas ke dunia yang benar-benar kosong dan sunyi, yang memberikan nilai tentang kekuatan semangat manusia dalam mencari makna di tengah ketiadaan harapan dan betapa berharganya hubungan antarmereka dalam menghadapi kehampaan.

Tema utama dari karya ini adalah distopia eksistensial dengan gaya penulisan yang minimalis, dingin, tapi sangat menggelitik perasaan pembaca. Alurnya sangat lambat dan penuh dengan observasi detail terhadap perilaku manusia, yang menciptakan kesan mendalam yang terus menghantui pikiran lama setelah selesai membaca.

Menjelajahi buku dystopian dan speculative fiction yang reflektif dan membuat pembaca lebih peka bukan hanya soal mencari hiburan pada waktu luang, melainkan juga sebuah latihan empati untuk masa depan. Tiap cerita yang kamu baca di atas menyimpan pesan peringatan sekaligus harapan bahwa tindakan manusia hari ini akan menentukan bentuk dunia yang dilanjutkan generasi berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team