Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi resolusi
ilustrasi resolusi (pexels.com/freestocks.org)

Intinya sih...

  • Cara orang memaknai tujuan hidup berubah. Resolusi kini dianggap kurang relevan karena fokus pada kebiasaan kecil tanpa tekanan waktu.

  • Tekanan pencapaian tidak lagi dianggap perlu. Banyak orang merasa cukup dengan menjalani hari secara konsisten tanpa target ambisius.

  • Ritme hidup makin sulit diprediksi. Perubahan situasi membuat resolusi tahunan terasa kaku dan mudah usang, sehingga banyak orang memilih pendekatan yang lebih lentur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Resolusi 2026 sempat kembali ramai dibicarakan di awal tahun, tetapi gaungnya cepat meredup bahkan sebelum bulan pertama berakhir. Banyak orang masih menuliskan target hidup, tapi tidak sedikit pula yang memilih berhenti membuat daftar janji tahunan. Perubahan ini bukan karena malas atau tidak punya tujuan, melainkan karena cara memandang hidup ikut bergeser.

Resolusi kini terasa tidak lagi sejalan dengan hidup yang semakin padat, cepat, dan penuh kejutan. Dari sini, muncul pertanyaan mengapa resolusi 2026 dan resolusi-resolusi sebelumnya perlahan ditinggalkan, padahal dulu dianggap penting. Berikut beberapa sudut pandang yang menjelaskan pergeseran tersebut.

1. Cara orang memaknai tujuan hidup, berubah

ilustrasi tujuan hidup (pexels.com/Polina)

Dulu, resolusi sering dipahami sebagai daftar pencapaian yang harus diraih dalam satu tahun penuh. Pola ini membuat hidup terasa seperti lomba dengan tenggat yang ketat dan hasil yang harus terlihat. Banyak orang kemudian menyadari bahwa hidup tidak selalu bergerak lurus sesuai rencana, sehingga target tahunan justru memicu rasa terburu-buru. Alih-alih membantu, resolusi sering membuat seseorang merasa tertinggal ketika realitas tidak sejalan dengan daftar yang dibuat.

Kini, tujuan hidup lebih sering dimaknai sebagai proses yang berjalan bertahap tanpa perlu diberi label tahunan. Orang memilih fokus pada kebiasaan kecil yang bisa dijalani setiap hari tanpa tekanan waktu. Pendekatan ini dianggap lebih masuk akal karena perubahan besar jarang terjadi dalam waktu singkat. Resolusi 2026 pun terasa kurang relevan ketika hidup dijalani dengan pola yang lebih fleksibel dan adaptif.

2. Tekanan pencapaian tidak lagi dianggap perlu

ilustrasi pencapaian (pexels.com/George Pak)

Resolusi sering kali datang bersama ekspektasi sosial yang tidak tertulis. Ketika banyak orang membagikan resolusi mereka, muncul dorongan untuk ikut menetapkan target agar tidak terlihat tertinggal. Situasi ini membuat resolusi berubah fungsi, bukan lagi sebagai alat bantu hidup, melainkan simbol produktivitas. Tidak sedikit orang akhirnya membuat resolusi hanya demi memenuhi standar tak kasatmata.

Seiring waktu, kesadaran muncul bahwa hidup tidak harus selalu diukur dari capaian besar. Banyak orang mulai merasa cukup dengan menjalani hari secara konsisten tanpa perlu target ambisius. Resolusi 2026 pun dianggap tidak wajib karena hidup tetap berjalan meski tanpa daftar tujuan tahunan. Pergeseran ini membuat tekanan pencapaian perlahan ditinggalkan.

3. Ritme hidup makin sulit diprediksi

ilustrasi keluarga (pexels.com/Monstera Production)

Perubahan situasi hidup kini bisa terjadi sangat cepat dan di luar rencana. Kondisi pekerjaan, keluarga, hingga lingkungan sekitar sering berubah tanpa peringatan. Dalam situasi seperti ini, resolusi tahunan terasa kaku dan mudah usang. Target yang relevan di Januari bisa kehilangan makna di pertengahan tahun.

Karena itu, banyak orang memilih pendekatan yang lebih lentur. Mereka lebih nyaman menyesuaikan langkah dari waktu ke waktu tanpa terikat janji awal tahun. Resolusi 2026 akhirnya tidak lagi dianggap sebagai pegangan utama, melainkan sekadar opsi yang boleh ada atau tidak. Fleksibilitas menjadi nilai yang lebih dihargai dibanding konsistensi pada satu daftar tujuan.

4. Fokus bergeser dari hasil ke kualitas hidup

ilustrasi kualitas hidup (pexels.com/cottonbro studio)

Resolusi sering menitikberatkan pada hasil akhir yang bisa diukur. Angka, pencapaian, dan status menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Pendekatan ini membuat proses sehari-hari kerap terabaikan karena perhatian hanya tertuju pada hasil. Banyak orang kemudian merasa lelah karena hidup terasa seperti proyek tanpa jeda.

Kini, perhatian lebih banyak diarahkan pada kualitas hidup yang dirasakan setiap hari. Hal-hal sederhana seperti waktu istirahat, ruang untuk hobi, dan keseimbangan aktivitas menjadi prioritas. Dalam kerangka ini, resolusi 2026 tidak selalu dibutuhkan karena kualitas hidup tidak selalu bisa diringkas dalam target tahunan. Hidup dijalani apa adanya tanpa harus dibuktikan lewat daftar pencapaian.

5. Kesadaran bahwa hidup tidak perlu selalu direncanakan

ilustrasi rencana (pexels.com/Shuki Harel)

Resolusi sering diasosiasikan dengan kontrol penuh atas masa depan. Padahal, banyak aspek hidup tidak bisa direncanakan secara rinci. Ketika rencana gagal, yang tersisa justru rasa kecewa terhadap diri sendiri. Pengalaman ini membuat sebagian orang memilih berhenti membuat resolusi agar tidak terus berhadapan dengan rasa gagal yang berulang.

Pilihan meninggalkan resolusi bukan berarti menyerah pada hidup. Sebaliknya, ini menjadi bentuk penerimaan bahwa hidup bisa dijalani sambil berjalan. Resolusi 2026 tidak lagi dianggap sebagai keharusan karena arah hidup bisa ditentukan ulang kapan saja. Tanpa resolusi pun, seseorang tetap bisa bergerak maju dengan caranya sendiri.

Perlahan ditinggalkannya resolusi 2026 menunjukkan perubahan cara orang menjalani hidup, bukan penurunan semangat untuk berkembang. Hidup tidak lagi diperlakukan sebagai daftar target, melainkan rangkaian hari yang dijalani dengan sadar. Jika resolusi tidak lagi dibuat, apakah itu merupakan cara baru untuk hidup lebih jujur pada diri sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team