Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah dan Makna Ritual Pradaksina dalam Tradisi Buddha
prosesi ritual pradagsina di Candi Borobudur (commons.wikimedia.org/Mamoxfwidayat)
  • Ritual Pradaksina berawal dari penghormatan Brahma Sahampati kepada Buddha Gautama setelah mencapai Penerangan Agung, lalu menjadi tradisi penting umat Buddha untuk menunjukkan devosi dan penghormatan spiritual.
  • Pradaksina dilakukan dengan berjalan mengelilingi objek suci sebanyak tiga kali sambil membaca doa, melambangkan pembersihan jiwa, peningkatan kesadaran spiritual, serta rasa hormat kepada Tuhan dan alam semesta.
  • Di Candi Borobudur, ritual ini dilakukan mengikuti relief perjalanan hidup Buddha sebagai sarana perenungan ajaran-Nya, pencarian kebijaksanaan, dan kedamaian batin melalui setiap langkah yang diambil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ritual Pradaksina mengajarkan umat Hindu untuk mendekatkan diri kepada kekuatan ilahi melalui gerakan melingkar di sekitar tempat suci. Setiap langkah yang diambil, mengandung makna mendalam yang membimbing umat untuk membersihkan jiwa dan memperkuat hubungan dengan Tuhan.

Selain itu, ritual ini juga memperkaya pemahaman spiritual dengan mengajarkan nilai-nilai seperti rasa hormat dan pengabdian. Pradaksina mengajarkan untuk selalu menjaga keseimbangan hidup dan bersyukur atas segala anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Namun, apa yang sebenarnya terkandung dalam makna Ritual Pradaksina dan bagaimana ritual Pradaksina berjalan? Untuk mengetahui lebih dalam tentang ritual yang penuh makna ini, yuk simak penjelasan!

1. Sejarah ritual Pradaksina

ilustrasi ajaran agama Buddha (pexels.com/seesouk souvannaphongsay)

Ritual Pradaksina dimulai pada masa kehidupan Buddha Gautama setelah beliau mencapai Penerangan Agung di bawah pohon Bodhi. Brahma Sahampati menghampiri dan mengelilingi Buddha tiga kali sebagai simbol penghormatan, kemudian menjadi awal mula ritual ini dilakukan oleh umat Buddha untuk menghormati Sang Buddha.

Setelah Buddha meninggal dan mencapai Parinibbana (wafatnya Buddha yang telah mencapai nirvana semasa hidupnya, menandai pembebasan akhir dari siklus kelahiran kembali (saṃsāra), karma, dan kehancuran khanda) di Kusinara pada tahun 483 SM, para muridnya melakukan penghormatan terakhir dengan cara yang sama. Mereka mengelilingi jenazah Buddha sambil melantunkan paritta-paritta (doa-doa suci yang berkaitan dengan ajaran Dhamma).

Ritual Pradaksina kemudian menjadi bagian penting dari praktik keagamaan umat Buddha di seluruh dunia. Melalui ritual ini, umat Buddha mengungkapkan penghormatan, pengabdian, dan komitmen spiritual yang mendalam.

2. Pengertian ritual Pradaksina

Ilustrasi orang beragama buddha (pexels.com/Washarapol D BinYo Jundang)

Pradaksina merupakan Puja Bhakti yang dilakukan dengan berjalan mengelilingi objek suci, seperti candi, rupang Buddha, atau pohon Bodhi, mengikuti arah berlawanan jarum jam. Ritual ini umumnya dilakukan sebanyak tiga putaran dengan kesadaran penuh, sembari membaca paritta (doa-doa suci) dan menunjukkan sikap anjali, yakni tangan dirangkap di dada sebagai tanda penghormatan.

Dalam bahasa Sanskerta, "pradaksina" berasal dari kata "prati" yang berarti "menuju" dan "daksina" yang berarti "kanan". Hal ini menggambarkan gerakan mengelilingi objek suci dengan arah berlawanan jarum jam sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian.

Tujuan utama pradaksina adalah membersihkan jiwa, meningkatkan kesadaran spiritual, serta mengungkapkan rasa hormat dan pengabdian kepada Tuhan berikut alam semesta. Gerakan mengelilingi tempat suci juga berfungsi sebagai latihan ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi kehidupan.

3. Makna persembahan ritual Pradaksina

Ilustrasi patung buddha (pexels.com/Suraphat Nuea-on)

Persembahan dalam ritual Pradaksina merupakan simbol penghormatan, pengabdian, dan rasa syukur kepada Tuhan serta alam semesta. Dengan mengelilingi objek suci seperti candi atau rupang Buddha, umat Buddha memperkuat tekad untuk membersihkan diri dan memperbaharui komitmen spiritual mereka.

Selain itu, persembahan ini mencerminkan kesadaran akan ketidakkekalan hidup dan pentingnya hidup dengan penuh rasa hormat terhadap sesama dan alam. Ritual ini mengajarkan selalu hidup dengan kesadaran spiritual yang tinggi, menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan makhluk lainnya.

Ada pula alat-alat yang digunakan dalam ritual Pradaksina yang memiliki simbolisme mendalam, masing-masing mendukung makna spiritual dari proses tersebut. Berikut adalah beberapa alat yang sering digunakan dalam ritual ini:

  • Dupa: digunakan untuk penyucian diri dan penyerahan doa kepada Tuhan

  • Bunga: melambangkan keindahan, kesucian, dan pengabdian kepada Sang Pencipta

  • Lampu minyak atau lilin: menjadi simbol penerangan spiritual dan kebijaksanaan

  • Kantong doa: digunakan untuk membawa paritta atau doa-doa suci yang dibacakan selama ritual

  • Payung suci: digunakan sebagai simbol perlindungan dan kesucian di tempat-tempat suci

4. Ritual Pradaksina di Candi Borobudur

Potret perayaan Hari Waisak di Candi Borobudur (instagram.com/waisak.nasional)

Di Candi Borobudur, ritual pradaksina menjadi cara umat Buddha untuk memberikan penghormatan kepada Buddha dan ajaran-Nya. Candi ini, yang merupakan situs warisan dunia UNESCO, memiliki struktur yang unik dengan relief-relief yang menggambarkan perjalanan hidup Sang Buddha.

Ritual Pradaksina di Borobudur dilakukan dengan mengelilingi candi, mengikuti relief-relief yang melambangkan perjalanan hidup menuju pencerahan. Setiap langkah yang diambil dalam ritual ini, memperdalam pemahaman spiritual tentang perjalanan hidup dan pencapaian pencerahan.

Pada setiap tingkatannya, umat Buddha yang mengikuti ritual Pradaksina dapat merenungkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam relief-relief tersebut. Ritual ini bukan hanya sekadar gerakan fisik, melainkan juga sarana untuk mencari ilmu, kebijaksanaan, dan pencerahan spiritual, sekaligus meraih kedamaian batin.

Ritual Pradaksina mengajarkan umat Buddha untuk merenungkan makna hidup, kebijaksanaan, dan kedamaian batin. Setiap langkah dalam Pradaksina bukan hanya gerakan fisik, tetapi juga pencarian pencerahan dan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan.

Penulis: Angel Rinella

Editorial Team