Fitria Anis Kurly guru asal Indonesia yang mengajar di Polandia. (dok.Fitria Anis Kurly)
Beruntungnya Fitria dapat menjadi edukator di Polandia, salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Melalui perjalanannya mengajar di berbagai sekolah di Eropa, Fitria menginternalisasi nilai-nilai dan praktik pendidikan yang berorientasi pada keseimbangan antara disiplin, kasih sayang, dan struktur pendidikan yang berpihak pada anak.
Menariknya, Fitria sempat menghadapi berbagai tantangan, terutama perbedaan kultur dan sistem kerja. Sebagai guru asing, pada awalnya Fitria menilai sistem belajar anak Polandia sangat menantang karena ia harus cepat beradaptasi dengan gaya mengajar yang tidak otoritatif, tetapi dialogis dan argumentatif.
"Menjadi guru di Polandia adalah pengalaman yang sangat berharga, tapi juga penuh tantangan, terutama bagi saya yang berasal dari sistem pendidikan dan budaya kerja Indonesia. Kendala pertama yang saya rasakan adalah culture shock, terutama dalam hal budaya sekolah dan ekspektasi terhadap guru," kata Fitria.
Baginya, di Polandia, sistem pendidikan sangat menekankan pada kemandirian, pemikiran kritis, dan keberanian berpendapat. Sesuatu yang tidak banyak dijumpai dalam budaya pendidikan Indonesia yang lebih cenderung hierarkis dan satu arah.
Murid-murid di Polandia, bahkan pada usia sekolah dasar, berani menyanggah guru, kritis mempertanyakan sesuatu dan tidak segan menyuarakan ketidaksetujuan. Murid di Polandia dibesarkan dalam sistem yang mendorong mereka untuk berpikir kritis, bukan hanya menghafal.
Hal ini sejalan dengan hasil PISA 2018 yang menunjukkan bahwa siswa Polandia termasuk yang paling tinggi skor literasi membacanya dan pemecahan masalah berbasis pemahamannya. Mereka tidak hanya tahu jawaban dan soal yang diberikan, akan tetapi juga paham mengapa jawaban tersebut lebih akurat.
"Dari sisi budaya kerja, guru-guru di Polandia sangat profesional. Mereka punya waktu kerja yang terstruktur, sistem pendukung psikolog dan pedagog untuk setiap sekolah. Yang paling penting adalah mereka dihargai sebagai profesional, bukan sekadar 'pengabdi tanpa pamrih'. Saya harus belajar banyak tentang pentingnya menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi karena di sana guru tidak dibebani tanggung jawab administratif berlebihan seperti di Indonesia. Namun, justru karena itu, ekspektasi terhadap kualitas pengajaran juga tinggi, tidak bisa asal-asalan," terangnya.
Tantangan lainnya adalah soal bahasa dan kurikulum nasional yang penuh konteks budaya lokal. Sebagai guru asing, Fitria harus memahami isi kurikulum yang ditulis dalam bahasa Polandia, termasuk referensi sejarah, budaya, dan nilai-nilai nasional yang tidak dipelajarinya saat kuliah.
Belum lagi, pendekatan pedagogis mereka sangat menekankan pada inklusi dan individualisasi proses belajar. Fitria harus menyesuaikan metode agar tidak hanya efektif, tapi juga peka terhadap latar belakang sosial, kemampuan, dan kondisi psikologis siswa.