Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Sikap yang Membuatmu Dinilai sebagai Orang Baik, Jago Jaga Perasaan
ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Zeynep M.)

Mendapatkan penilaian baik dari orang lain dapat terasa sulit atau mudah tergantung dari kemampuanmu menjaga perasaan mereka. Apabila kamu lebih peduli pada kemungkinan mereka bakal tersakiti oleh ucapan atau perbuatanmu, tentu pengendalian dirimu menjadi lebih baik. Ini yang membuat sikapmu dinilai positif oleh orang lain. Kamu tak pernah lepas kontrol.

Bersikap baik pada sesama tidak harus dengan sesering mungkin memberikan bantuan berupa materi. Maka buat kamu yang merasa gak punya modal buat menjadi orang baik, kesempatanmu sesungguhnya sama besarnya dengan orang lain. Modal terbesar untuk menjadi orang baik justru ada di dalam diri.

Kamu mesti mengembangkan kecerdasan emosi yang dimiliki. Agar sebelum dirimu melakukan atau mengatakan apa pun telah terlebih dahulu dapat memperkirakan efeknya terhadap perasaan orang lain. Kemampuanmu menunjukkan enam sikap di bawah ini akan mengundang penilaian positif dari mereka.

1. Tidak ikut tertawa saat seseorang mengalami kejadian memalukan

ilustrasi tertawa (pexels.com/Anna Tarazevich)

Kamu punya kepekaan yang tinggi ketika melihat orang lain mengalami kejadian yang memalukan. Tak sedikit orang yang melihatnya langsung meledakkan tawa. Mereka kurang memahami perbedaan hal lucu yang layak mengundang tawa dengan orang yang sedang bernasib apes dan mestinya lekas ditolong.

Minimal, nasib sialnya gak ditambahi dengan ditertawakan orang. Itu bakal bikin dia tambah malu bahkan sampai lama setelah kejadian berlalu. Baik kamu mengenalnya atau tidak, dirimu mampu menjaga sikap. Selain tak mentertawakan, kamu juga gak pernah main mengunggah foto atau video teman yang mengalami hal memalukan.

Bukan berarti dirimu tidak bisa bercanda. Malah kamu amat tahu apa yang pantas dijadikan candaan dan apa yang tak etis buat ditertawakan. Dirimu merupakan contoh nyata dari pribadi yang humoris sekaligus beretika tinggi. 

2. Menghindari ribut-ribut saat ada masalah

ilustrasi dua pria (pexels.com/Monstera Production)

Ada orang yang menghadapi masalah sekecil apa pun dengan keributan. Mereka seperti tidak bisa membicarakan persoalan secara baik-baik. Emosinya mudah sekali terpancing dan segala ucapan serta tindakannya seakan-akan mengobarkan permusuhan dengan orang lain.

Mereka gak malu berteriak-teriak bahkan berkelahi di depan banyak orang. Untung kamu berkebalikan dengan mereka. Justru masalah sebesar apa pun bak kobaran api yang padam dalam genggamanmu. Artinya, ketenanganmu dalam menghadapinya mengalahkan besar persoalan tersebut.

Kebanyakan orang jika dihadapkan pada perkara yang sama pasti telah bersikap emosional. Namun, kamu memilih untuk menenangkan diri sebelum nanti membicarakannya hanya dengan pihak-pihak yang terlibat secara langsung. Dirimu mencegah masalah melebar ke mana-mana dan melibatkan terlalu banyak orang.

3. Mengaku salah, minta maaf, dan bertanggung jawab meski tak ada saksi

ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Mike Jones)

Orang yang jelas-jelas bersalah saja belum tentu mau mengakuinya. Sekalipun sudah disodorkan berbagai bukti dan saksi, dia tetap berkeras menolak mengakui kesalahan diri. Berbeda denganmu yang amat jujur sekalipun kamu tahu ada konsekuensi dari pengakuan tersebut.

Kamu sangat siap buat meminta maaf dan mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut tanpa diminta. Inilah arti karakter pemberani yang sesungguhnya. Dirimu gak perlu bertengkar atau berkelahi, tetapi bila salah tak bersikap pengecut.

Padahal jika kamu mau, melarikan diri dari tanggung jawab lebih mudah bagimu. Dirimu diuntungkan dengan tiadanya saksi saat kamu melakukan kekeliruan. Bahkan andai kasusnya diusut pun belum tentu ada bukti kuat yang mengarah padamu. Hanya besarnya rasa tanggung jawab yang membuatmu tetap mengaku.

4. Tidak mengungkit bantuan yang pernah diberikan

ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Matheus Bertelli)

Kamu gak cuma 1 atau 2 kali memberikan bantuan baik pada orang yang sama maupun berbeda. Namun, sikapmu konsisten dalam tidak pernah lagi membicarakannya. Dirimu tak memperlihatkan keinginan supaya kebaikanmu terus diingat orang, khususnya mereka yang pernah dibantu.

Dari sikap diammu, orang-orang menarik kesimpulan bahwa kamu gak mengharapkan pujian dari siapa pun. Dirimu memang tak berusaha keras menutupi pertolongan yang pernah diberikan. Kalau kebetulan ada beberapa orang yang tahu dan menyebarkannya juga tidak masalah.

Hanya dari kamu sendiri gak kepikiran buat membicarakannya. Apalagi dengan tujuan agar dirimu dipandang sebagai orang baik atau dermawan. Memang pada awalnya kamu mungkin sering dikira sebagai orang yang cuek dan kurang berjiwa sosial. Tapi seiring waktu kebaikan-kebaikanmu seperti emas yang tetap berkilau walau tersembunyi. Ini bikin mereka salut.

5. Tahu banyak tentang kehidupan orang, tapi gak menyebarkannya

ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Andai kamu mau menjadi tukang gosip, materi yang dimiliki banyak sekali. Misalnya, dirimu sering menjadi tempat curhat beberapa orang. Atau, kamu kerap mendengar pertengkaran pasangan suami istri yang tinggal persis di sebelah rumahmu.

Namun, semua pengetahuan itu aman di tanganmu. Orang-orang bahkan tidak perlu mewanti-wantimu untuk merahasiakannya. Dengan kesadaran sendiri kamu telah memahami apa yang perlu atau gak usah diberitahukan pada orang lain. Cerita seputar kehidupan orang lain yang tak inspiratif termasuk dalam topik yang dihindari. 

Sikap tutup mulutmu menuai kekaguman dari orang-orang di sekitarmu. Mereka akan menyebutmu sebagai pribadi yang menghargai privasi orang. Sekaligus gak berani macam-macam padamu karena tak sedikit rahasia mereka juga diketahui olehmu. Mereka tidak mau menguji kesabaranmu sampai kamu kelepasan menyatakan aibnya.

6. Bersikap sama baiknya pada teman yang lagi di titik terendah

ilustrasi bersama teman (pexels.com/Tim Douglas)

Sikap kamu tidak pernah berubah meski kehidupan teman atau saudara berubah drastis dari jaya ke terpuruk. Dirimu jelas tahu apa yang telah terjadi padanya. Akan tetapi, sikapmu yang penuh respek tetap bertahan dan gak kelihatan dibuat-buat.

Kamu tidak sok bersimpati di awal, tetapi kemudian menjauh dan berubah sinis ketika bertemu kembali. Saking samanya sikapmu, orang sampai merasa kehidupannya masih sejaya dulu ketika berhadapan denganmu. Ini bikin mereka merasakan energi positif yang besar dari kehadiranmu.

Ketika tak sedikit sikap orang yang merendahkan membuat mereka kian tidak percaya diri, kamu malah bikin mereka optimis kembali. Padahal, dirimu juga tak berusaha memotivasi mereka dengan satu kata pun. Percakapan kalian mengalir saja. Kamu cuma menerima perubahan hidup setiap orang dan memandangnya sebagai hal biasa.

Dengan bersikap baik di atas, beberapa orang akan secara terang-terangan memujimu. Tapi lebih banyak orang sekadar membalasmu dengan sikap yang baik pula. Di mana pun kamu berada cenderung diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team