Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenalan dengan Soft Planning, Cara Bikin Target Hidup Tanpa Tekanan Berlebih
ilustrasi wanita sedang menulis (pexels.com/georgemilton)
  • Soft planning menawarkan cara menyusun target hidup yang lebih fleksibel dan realistis, menyesuaikan dengan kapasitas diri agar tujuan terasa ringan tanpa tekanan berlebih.
  • Pendekatan ini menekankan pentingnya observasi diri sebelum mengambil keputusan besar, membantu memahami nilai, kebutuhan, dan arah hidup yang benar-benar sesuai.
  • Fleksibilitas menjadi kunci dalam soft planning, memungkinkan perubahan rencana tanpa rasa gagal serta membangun hubungan yang lebih sehat dan penuh percaya diri dengan diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya banyak target dalam hidup memang gak ada salahnya. Namun, gak sedikit orang yang justru merasa stres karena target yang dibuat terlalu tinggi, terlalu banyak, atau harus dicapai dalam waktu singkat. Akibatnya, niat yang awalnya penuh semangat, malah berubah menjadi rasa lelah dan kecewa ketika semuanya gak berjalan sesuai rencana.

Belakangan, muncul konsep soft planning yang menawarkan cara berbeda dalam menyusun tujuan hidup. Daripada memaksa diri untuk berubah secara drastis, pendekatan ini mengajak kita membuat target yang lebih fleksibel, realistis, dan sesuai dengan kapasitas diri saat ini. Kalau kamu sering merasa tertekan saat membuat resolusi atau daftar target tahunan, konsep ini bisa jadi lebih cocok untuk dicoba.

1. Membuat target berdasarkan kondisi nyata, bukan versi ideal diri

ilustrasi perempuan sedang dalam perjalanan (pexels.com/ketutsubiyanto)

Sering kali kita membuat target berdasarkan sosok yang kita inginkan, bukan berdasarkan kondisi yang sedang dijalani saat ini. Padahal, setiap orang memiliki energi, waktu, dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Ketika target terlalu jauh dari realitas, proses menjalaninya pun akan terasa lebih berat.

Soft planning mengajak kita untuk mulai sesuatu dari titik tempat kita berada sekarang. Dengan memahami kapasitas diri terlebih dahulu, target yang dibuat akan terasa lebih masuk akal dan memungkinkan untuk dicapai secara bertahap. Cara ini juga membantu mengurangi rasa frustrasi karena ekspektasi yang terlalu tinggi.

"Tujuan yang bersifat fleksibel dimulai dari kondisi kita saat ini dan kapasitas yang kita miliki, bukan dengan mendorong diri menuju versi ideal yang kita bayangkan," ujar Chloë Bean, Licensed Marriage and Family Therapist, dikutip dari Real Simple.

2. Lebih banyak mengamati diri sebelum mengambil keputusan besar

ilustrasi perempuan mendengarkan musik sambil bekerja (pexels.com/olly)

Di era yang serba cepat, banyak orang merasa harus segera menentukan tujuan dan mengambil keputusan besar. Padahal, tidak semua keputusan harus dibuat dengan terburu-buru. Kadang, memberi waktu untuk mengamati diri sendiri justru membantu kita memahami apa yang benar-benar dibutuhkan.

Dalam soft planning, fase observasi menjadi bagian yang penting. Menurut psikoterapis Larissa House, dikutip dari SELF, fase observasi yang sehat adalah momen ketika seseorang meluangkan waktu untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Pada tahap ini, seseorang diajak untuk mengeksplorasi nilai-nilai yang diyakini, minat pribadi, harapan untuk masa depan, serta berbagai hal yang membuat hidup terasa lebih bermakna dan sesuai dengan keinginan mereka.

Ia juga menjelaskan bahwa proses ini membantu seseorang mengenali apa yang benar-benar cocok dan penting bagi dirinya. Dengan begitu, keputusan yang diambil berasal dari kebutuhan dan tujuan pribadi, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang dilakukan atau dianggap baik oleh orang lain.

"Ketika kita melambat dan mengamati pola hidup dengan rasa ingin tahu, bukan dengan rasa terburu-buru, kita bisa memahami apa yang benar-benar membantu kita merasa stabil, berenergi, dan tenang,” ujar Chloë Bean.

3. Memberi ruang untuk mengubah rencana di tengah jalan

ilustrasi perempuan membaca buku di rest corner (pexels.com/karolinagrabowska)

Banyak orang menganggap mengubah target sebagai tanda kegagalan. Padahal, hidup terus bergerak dan situasi bisa berubah kapan saja. Apa yang terasa cocok enam bulan lalu, belum tentu masih relevan dengan kondisi saat ini.

Soft planning justru melihat fleksibilitas sebagai bagian dari proses. Jika prioritas berubah atau kapasitas sedang menurun, kamu boleh menyesuaikan target tanpa harus merasa bersalah. Dengan begitu, tujuan hidup tetap bisa berjalan tanpa membuat diri tertekan.

Menurut Chloë Bean, daripada bertanya, "Apakah aku sudah mencapai target ini?", pendekatan ini mendorong pertanyaan seperti, "Apakah tujuan ini masih membantu dan sesuai dengan kebutuhanku sekarang?". Pertanyaan sederhana tersebut membuat seseorang lebih mudah mengevaluasi arah hidupnya secara sehat. Hasilnya, target menjadi alat yang membantumu berkembang, bukan sumber tekanan tambahan.

"Tujuan yang fleksibel membantu mengurangi burnout karena menyesuaikan rencana tidak lagi dianggap sebagai kegagalan," jelas Chloë Bean.

4. Fokus pada langkah kecil yang lebih mudah dijalani

ilustrasi wanita tersenyum (pexels.com/olly)

Salah satu alasan target sering gagal adalah karena kita ingin mengubah terlalu banyak hal sekaligus. Mulai olahraga setiap hari, makan lebih sehat, membaca lebih banyak buku, hingga meningkatkan produktivitas dalam waktu bersamaan tentu bisa terasa melelahkan. Akhirnya, semangat yang besar di awal perlahan menghilang.

Soft planning lebih menekankan konsistensi dibanding perubahan drastis. Daripada langsung menargetkan olahraga satu jam setiap hari, kamu bisa mulai dengan berjalan kaki selama 10 atau 15 menit terlebih dahulu. Langkah kecil mungkin terlihat sederhana, tetapi lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

5. Membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri

ilustrasi wanita sedang memegang gelas (pexels.com/olly)

Gak semua target yang gagal berarti kamu kurang disiplin atau kurang berusaha. Terkadang, target tersebut memang tidak sesuai dengan kapasitas dan kondisi hidup yang sedang dijalani. Soft planning membantu kita melihat hal tersebut dengan lebih bijak dan penuh belas kasih terhadap diri sendiri.

Ketika target dibuat secara realistis, peluang untuk mencapainya pun menjadi lebih besar. Setiap keberhasilan kecil dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membuat kita lebih yakin dengan kemampuan diri sendiri. Pada akhirnya, yang dibangun bukan hanya pencapaian, tetapi juga kepercayaan terhadap diri dalam menjalani berbagai proses kehidupan.

"Kita akan merasa lebih percaya diri dan kepercayaan terhadap diri sendiri akan tumbuh ketika tujuan yang dibuat berhasil dicapai. Kemampuan untuk konsisten di masa depan juga meningkat ketika target yang kita buat sesuai dengan kapasitas realistis yang kita miliki," ujar Dr. Gabriella Azzam-Forni, psikolog klinis dan pendiri Gabriella Azzam, dikutip dari Real Simple.

Membuat target hidup gak harus selalu identik dengan tekanan dan tuntutan yang berat. Lewat soft planning, kamu tetap bisa berkembang dan mencapai tujuan tanpa harus mengorbankan kesehatan mental di sepanjang perjalanan. Dengan langkah yang lebih realistis dan fleksibel, perubahan justru bisa terasa lebih ringan dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article