Fenomena ajakan memboikot konten kreator kaya belakangan ramai dibicarakan, terutama setelah muncul unggahan viral yang mengajak orang berhenti menonton konten pamer liburan, gaya hidup mahal, hingga tautan affiliate. Alasannya sederhana: perhatian dianggap ikut memperbesar penghasilan mereka, sementara penonton merasa hidupnya tidak ikut berubah.
Perdebatan pun meluas, bukan hanya soal iri atau tidak, melainkan tentang bagaimana perhatian publik bekerja di era digital. Dari situ muncul pertanyaan apakah benar stop perhatian pada konten kreator kaya bisa menjadi solusi, atau justru ada cara lain yang lebih masuk akal? Berikut beberapa sudut pandang yang bisa membantu melihatnya dengan lebih jernih.
