Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Strategi Menjadikan Ramadan sebagai Momentum Hidup Lebih Sehat
ilustrasi makan bersama (freepik.com/rawpixel.com)
  • Atur pola makan saat berbuka dan sahur agar energi stabil serta berat badan terkontrol.

  • Jaga aktivitas fisik dan kualitas tidur agar metabolisme tetap optimal selama puasa.

  • Kelola stres serta kurangi gula dan gorengan agar Ramadan jadi titik awal kebiasaan sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan kerap dianggap sebagai bulan ibadah semata. Padahal kalau dipikir-pikir, ini juga momen reset paling natural yang kita punya setiap tahun. Pola makan berubah, jam tidur bergeser, aktivitas lebih teratur. Nah, kalau dimanfaatkan dengan tepat, Ramadan bisa jadi momentum hidup sehat yang efeknya terasa bahkan setelah Lebaran.

Banyak orang justru merasa berat badan naik atau tubuh makin lemas saat puasa. Padahal, konsep dasarnya justru mendukung gaya hidup lebih seimbang. Kuncinya ada pada strategi. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan ini tentang mengatur ulang kebiasaan harian secara sadar. Berikut beberapa strategi agar Ramadan menjadi momentum hidup sehat yang bisa kamu terapkan.

1. Atur pola makan, bukan balas dendam saat berbuka

ilustrasi salad kinoa ayam panggang (pexels.com/kei photo)

Salah satu kesalahan paling umum dalam berpuasa adalah balas dendam saat azan magrib. Semua ingin dimakan. Gorengan, minuman manis, makanan berat, semua dilahap sekaligus. Hasilnya, perut begah, ngantuk, bahkan berat badan naik.

Coba ubah pola berbuka jadi lebih bertahap. Awali dengan air putih dan kurma secukupnya, lalu beri jeda sebelum makan besar. Pilih karbohidrat kompleks, seperti nasi merah atau kentang rebus. Tambahkan asupan protein, seperti telur, ayam, tahu, atau tempe. Lalu, penuhi asupan dengan sayur. Kombinasi ini membantu energi stabil dan tidak mudah lapar lagi pada malam hari. Strategi ini bukan hanya membuat badan lebih ringan, melainkan juga melatih mindful eating. Kita belajar makan sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan.

2. Sahur berkualitas untuk energi stabil seharian

ilustrasi makan sahur (pexels.com/Thirdman)

Kalau ingin Ramadan jadi momentum hidup sehat, jangan pernah anggap sahur sebagai formalitas. Sahur merupakan fondasi energi seharian. Pastikan ada karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cairan cukup. Hindari terlalu banyak gula karena bisa bikin cepat lapar. Protein tinggi, seperti telur, ikan, atau Greek yogurt, membantu rasa kenyang lebih lama. Jangan lupakan air putih. Dehidrasi sering jadi penyebab utama lemas, sakit kepala, bahkan mood swing saat puasa.

 3. Tetap aktif, tapi pilih waktu yang tepat

ilustrasi olahraga (pexels.com/Alexy Almond)

Puasa bukan alasan berhenti olahraga total. Justru, aktivitas fisik ringan sampai sedang bisa membantu metabolisme tetap optimal. Kamu bisa olahraga 30–45 menit dengan intensitas ringan sebelum berbuka atau 1–2 jam setelah makan malam. Jalan santai, stretching, yoga, atau latihan beban ringan sudah cukup.

Ramadan mengajarkan kita tentang keseimbangan. Jadi tidak perlu memaksakan diri. Dengarkan tubuhmu, ya.

4. Atur pola tidur supaya tidak berantakan

ilustrasi tidur (unsplash.com/Tania Mousinho)

Karena ada sahur dan ibadah malam, pola tidur sering kacau. Kurang tidur bisa menyebabkan hormon lapar (grelin) meningkat dan hormon kenyang (leptin) menurun. Akibatnya, nafsu makan sulit dikontrol.

Usahakan tidur lebih awal dan manfaatkan power nap 20–30 menit jika memungkinkan. Kualitas tidur yang cukup membantu tubuh tetap segar dan sistem imun lebih kuat. Tubuh yang kurang istirahat lebih rentan stres dan mudah drop.

5. Kurangi gula dan gorengan secara bertahap

ilustrasi gorengan (freepik.com/freepik)

Ramadan bisa jadi momen tepat untuk “detoks” dari kebiasaan konsumsi gula berlebih. Kalau biasanya minum teh manis 2–3 kali sehari, coba kurangi jadi sekali, lalu perlahan tanpa gula. Pada akhir Ramadan, harapannya kamu sudah bisa benar-benar lepas dari gula.

Begitu juga dengan gorengan, kamu tidak harus langsung stop total. Cukup batasi frekuensinya. Tubuh akan beradaptasi dan kamu mungkin akan kaget karena ternyata tidak terlalu membutuhkannya. Setelah 30 hari, kebiasaan baru ini bisa terbawa sampai setelah Ramadan.

6. Kelola stres dan emosi

ilustrasi meditasi (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan juga menahan emosi. Dari sisi kesehatan, ini punya dampak besar. Stres kronis memicu peningkatan hormon kortisol yang berhubungan dengan kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme.

Gunakan Ramadan untuk lebih banyak refleksi, journaling, atau aktivitas yang menenangkan. Kamu juga bisa memperbanyak ibadah dan quality time bersama keluarga. Kesehatan mental dan fisik itu saling terhubung. Saat hati lebih tenang, tubuh pun ikut lebih stabil.

Strategi Ramadan sebagai momentum hidup sehat sebenarnya sederhana. Ini bukan tentang diet ketat atau olahraga ekstrem. Namun, ini tentang kesadaran mengatur pola makan, tidur, aktivitas, dan emosi secara lebih seimbang.

Ramadan datang setiap tahun. Sayang kalau hanya berlalu tanpa perubahan berarti. Siapa tahu, justru dari bulan ini kamu menemukan versi diri yang lebih sehat, kuat, dan mindful menjalani hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎