6 Alasan Orang Suka Berbagi Makanan, Ada Saja yang Dibawa

- Orang yang diberi makanan juga senang karena bisa menghentikan rasa lapar dan bosan dengan menu kantin
- Teman yang senang memasak akan sering berbagi hasil masakannya tanpa memikirkan untung rugi
- Orang yang tidak pandai masak juga suka berbagi makanan, karena mudah memesan atau membeli makanan enak untuk dibagikan
Apakah kamu punya teman yang sering sekali membawa makanan ke kantor dan membagikannya? Gak ada acara khusus seperti syukuran ulang tahunnya pun dia bisa tiba-tiba bawa makanan berkotak-kotak. Semua orang tanpa terkecuali diberi bahkan dibebaskan mengambil sendiri.
Kadang ia membawa beberapa kotak kue, seplastik besar gorengan, atau beberapa paket makan siang. Kenapa ada orang yang seringan ini dalam berbagi makanan? Padahal kalau dipikir-pikir, kamu dan teman-teman yang menerimanya juga pasti mampu membeli makanan sendiri.
Setiap orang di kantor punya gaji. Malah penghasilan kalian dengan pemberi juga hampir sama. Apa dia gak takut kebiasaannya itu bikin boncos? Enam poin di bawah ini menjawab rasa ingin tahumu mengapa ada seseorang suka berbagi makanan.
1. Kebanyakan orang yang diberi juga suka

Jujur deh, sebagai salah satu orang yang kebagian makanan apa pun dari teman, kamu juga pasti senang. Mau itu makanan ringan atau berat rasanya tetap menggembirakan. Alasannya, perut keroncongan di tengah bekerja memang menyebalkan.
Belum tentu dirimu membawa snack sendiri. Adanya kue atau gorengan dari kawan membantu menghentikan rasa lapar itu. Kamu bisa fokus lagi bekerja. Bila dia membagikan makan siang juga bikin happy.
Sama seperti teman-teman lainnya, dirimu boleh jadi bosan dengan menu kantin. Makan siang dari salah seorang kawan efektif buat mengembalikan selera. Kalaupun kamu telah membawa bekal, makanan pemberiannya jika gak cepat basi bisa dibawa pulang. Penerimanya senang, pemberinya apalagi.
2. Senang memasak

Punya teman yang hobi memasak juga salah satu bentuk rezeki. Sama seperti penulis. Seorang penulis pasti lebih suka karyanya dibaca oleh banyak orang daripada cuma mengisi laptopnya.
Begitu pula orang yang gemar memasak tak berarti nafsu makannya besar. Kebahagiaannya terletak pada saat memproses bahan makanan dari mentah sampai siap konsumsi. Plus senang tak terkira kalau orang lain menyukainya.
Alhasil, apa pun yang dimasaknya di rumah kerap dibawa ke kantor dan dibagikan. Sering kali ia tak memikirkan untung atau rugi jika bahan-bahannya dihitung. Terpenting kegemarannya memasak tersalurkan dan hasilnya gak sia-sia memenuhi meja makan di rumah.
3. Gak jago masak, tapi tinggal beli juga simpel

Namun, fakta menunjukkan tidak hanya orang yang hobi masak yang suka berbagi makanan. Orang yang tak dapat memasak sama sekali juga bisa sering bagi-bagi makanan enak. Ini soal simpel karena sekarang penjual makanan amat banyak.
Sebagiannya bisa kasih layanan pesan antar. Temanmu pagi hari tiba di kantor tidak membawa apa-apa selain tas kerjanya. Eh, pukul 10.00 atau 11.00 tahu-tahu datang karyawan rumah makan mengantarkan berkotak-kotak pesanan.
Orang yang murah hati tak ragu menjadikan makanan sebagai sarana berbagi. Ada tiga pihak yang diuntungkan di sini. Pemberi gembira karena mampu berbagi. Orang yang menerima senang karena rasanya enak dan mengenyangkan. Pemilik usaha kuliner juga ketiban rezeki.
4. Pemberian yang bisa langsung dinikmati penerima

Gak pakai lama biasanya makanan yang dibawa ke kantor langsung ludes diserbu. Bila terdapat sedikit kelebihan pun pasti ada tim yang akan bergegas menyikatnya. Coba saja di sore hari sekitar jam 15.00.
1 atau 2 jam lagi sudah waktunya pulang. Namun, tentu semua karyawan masih harus bekerja dengan sisa-sisa fokusnya. Paling enak minum kopi sambil mengudap dulu. Begitu ada teman yang membawa gorengan untuk dinikmati bersama niscaya karyawan satu ruangan seketika mengerumuni.
Cepatnya pemberian dinikmati serta dirasakan manfaatnya oleh penerima bikin pemberi lega. Ia dapat melihat sendiri ekspresi puas setiap orang. Bentuk pemberian lain seperti pakaian biasanya gak dikenakan saat itu juga. Apalagi jika bentuknya masih kain yang perlu dijahit. Bisa bertahun-tahun tersimpan di lemari.
5. Biaya bisa diatur gak terlalu banyak

Bagi-bagi makanan bisa berbiaya tinggi atau relatif terjangkau tergantung pilihan menu dan tempat membeli. Kalau mau lebih irit tapi agak ribet, orang bisa memasaknya sendiri. Sementara itu, memesannya di katering atau rumah makan yang belum terlalu ternama juga masih miring.
Contohnya, pastel berisi wortel, kentang, dan telur ada yang dijual 2500 sampai 3500 per buah. Seseorang memesan 50 buah hanya bayar 125 hingga 175 ribu rupiah. Lebih dari cukup buat teman satu ruangan yang paling cuma beberapa orang.
Keluar uang segitu sebulan sekali tak terlalu terasa. Begitu pula kalau satu ruangan hanya ada 10 orang. Pesan paket nasi ayam dan minum seharga 25 ribu rupiah per kotak masih cukup terjangkau di awal bulan.
6. Pernah merasakan mau makan saja sulit

Ini pengalaman yang sentimental sekali bagi seseorang. Kamu barangkali sekarang melihatnya hidup nyaman dengan gaji besar. Dirimu dan teman-tempat mengira kesukaannya berbagi lantaran pendapatannya sudah berlebih.
Tentu punya lebih banyak uang memudahkan niat orang berbagi. Akan tetapi, alasan sesungguhnya boleh jadi bukan itu. Namun, ia pernah merasakan sulitnya mendapatkan makanan layak dalam jumlah cukup.
Contoh, ia dulu makan sehari cuma sekali. Itu terjadi gak cuma 1 atau 2 hari ketika hidupnya sangat sulit. Atau, dia masih bisa makan 2 atau 3 kali sehari. Hanya saja lauk serta nutrisinya gak memadai. Seperti cuma nasi dengan kecap atau garam. Tahu rasanya lapar membuat orang lebih ingin melihat siapa pun kenyang dan bahagia.
Jika ada teman, saudara, atau tetangga yang suka berbagi makanan tunjukkan rasa antusiasmu. Meski itu hanya bakmi goreng buatan sendiri yang dikemas dalam kotak mika sederhana, terima dan santaplah dengan gembira. Jangan kamu cuma senang bila makanannya dari restoran mahal.


















