Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tanda Gaya Hidupmu Menghasilkan Banyak Jejak Karbon

ilustrasi menyantap makanan
ilustrasi menyantap makanan (pexels.com/olly)

Krisis dan perubahan iklim menjadi isu serius yang dihadapi oleh umat manusia. Sebagian besar krisis iklim disebabkan oleh aktivitas manusia sehari-hari, baik untuk memperbaiki kebutuhan ekonomi atau pangan. Oleh sebab itu, kita harus lebih memperhatikan apa saja kegiatan kita yang berpotensi menyumbang krisis iklim.

Semuanya bisa dimulai dari aktivitas individu, meskipun aktivitas individu relatif berdampak kecil. Namun, jika dilakukan berulang akan berdampak besar. Oleh sebab itu, kamu perlu mengetahui aktivitas mana saja dari gaya hidupmu yang menghasilkan jejak karbon. Berikut ciri dan tanda kalau gaya hidupmu sehari-hari masih berkontribusi besar menyumbang jejak karbon.

1. Sering menyisakan makanan

ilustrasi menyantap makanan (pexels.com/shkrabaanthony)
ilustrasi menyantap makanan (pexels.com/shkrabaanthony)

Menyisakan makanan mungkin terlihat sebagai kebiasaan sepele. Padahal jika akumulasikan, makanan yang tersisa setiap hari bisa jadi menggunung. Sisa makanan yang terbuang dapat menyumbang emisi gas rumah kaca. Gak hanya itu, sisa makanan yang terbuang ke TPA dan bercampur dengan sampah lain dapat menimbulkan pelepasan gas metana. Dalam jangka panjang, gas metana mampu memerangkap panas di atmosfer, yang jauh berbahaya dari karbon dioksida.

Gak menyisakan makanan adalah solusi untuk mengurangi jejak karbon dari konsumsi sehari-hari. Mulailah dengan makan porsi kecil atau sedikit demi sedikit untuk menghindari makanan tersisa. Jika ada makanan tersisa, kamu bisa menjadikannya kompos. Siapkan wadah khusus menampung sisa makanan. Kamu bisa menimbunnya dan memanfaatkannya sebagai pupuk kompos.

2. Sering bepergian dengan pesawat

ilustrasi bandara (pexels.com/skitterphoto)
ilustrasi bandara (pexels.com/skitterphoto)

Pesawat dikenal sebagai moda transportasi yang paling banyak menyumbang gas emisi. Karena pesawat membutuhkan konsumsi energi yang besar untuk mengangkat beban ratusan ton ke udara dan melaju dengan kecepatan tinggi. Berbeda dengan mobil dan kereta yang melepaskan emisi di permukaan tanah, pesawat melepaskan langsung gas emisi di udara yang membuat efek pemanasan jauh lebih kuat dari pada emisi yang dilepaskan di permukaan tanah.

Oleh karena itu, kurangilah untuk naik pesawat terutama jarak dekat. Gunakan moda transportasi kereta dan bus untuk perjalanan di dalam pulau atau jarak dekat. Atau naiklah di kelass ekonomi, karena kelas ekonomi mampu menampung penumpang jauh lebih banyak. Pilih maskapai penerbangan yang mendanai proyek penanaman pohon atau berinvestasi pada energi terbarukan sebagai penyeimbang emisi.

3. Sering membeli barang dan pakaian baru

ilustrasi memilah pakaian
ilustrasi memilah pakaian (pexels.com/karolina-grabowska)

Membeli barang dan pakaian baru tergolong ke dalam budaya konsumerisme dan fast fashion. Kebiasaan ini berkontribusi besar dalam menyumbang jejak karbon karena melibatkan berbagai rantai produksi yang sangat panjang. Mulai dari ekstraksi bahan baku, pabrikasi, distribusi, hingga masalah limbah barang dan pakaian.

Cara mengurangi jejak karbon dari kebiasaan berbelanja adalah dengan lebih bijak dalam berbelanja barang baru. Beli pakaian baru hanya jika kamu benar-benar membutuhkannya. Usahakan untuk mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Jangan mudah tergiur dengan diskon untuk membeli barang terlalu banyak.

4. Ketergantungan tinggi terhadap barang sekali pakai

ilustrasi berbelanja di supermarket (pexels.com/hobiindustri)
ilustrasi berbelanja di supermarket (pexels.com/hobiindustri)

Di era hidup yang serba instan ini, barang-barang sekali pakai dianggap lebih praktis. Karena sekali pakai bisa langsung dibuang, tanpa perlu dicuci atau disimpan. Namun, kebiasaan ini tidaklah ramah lingkungan. Karena bungkus dari barang sekali pakai dapat menyumbang sampah di TPA, yang bahkan belum tentu bisa didaur ulang. Contohnya adalah kebiasaan memakai bungkus kresek sekali pakai, tisu, hingga sedotan atau sendok plastik.

Beralihlah ke barang-barang reusable atau barang-barang yang dapat digunakan berulang kali. Misalnya mengganti tisu dengan sapu tangan, membawa botol tumbler untuk pengganti air mineral dalam kemasan, hingga mengganti kapas make up dengan cotton pad. Tindakan ini sederhana, tetapi sangat berperan besar mengurangi sampah yang menumpuk dari barang sekali pakai.

5. Jarang memperbaiki barang rusak

ilustrasi memperbaiki peralatan elektronik
ilustrasi memperbaiki peralatan elektronik (pexels.com/mikhail-nilov)

Kebiasaan jarang memperbaiki barang rusak atau buang dan beli barang baru ternyata bisa meningkatkan jejak karbon, lho. Hal ini memaksa siklus produksi terus berjalan. Dan barang rusak yang gak diperbaiki biasanya berakhir di tempat sampah atau TPA yang dapat melepaskan gas metana jika bercampur dengan beragam sampah.

Oleh karena itu, perbaiki barang yang rusak untuk mengurangi potensi terbuang begitu saja. Bawa barang-barang rusak ke tempat servis atau bengkel lokal untuk memperpanjang usia barang. Dengan begitu, kamu bisa mengurangi kemungkinan membeli barang baru.

Sekarang sudah tahu kan, apa saja aktivitas dan kebiasaan yang berpotensi menyumbang jejak karbon. Jika kamu masih melakukan aktivitas-aktivitas di atas, mulai sekarang kurangi intensitasnya. Dan mencoba untuk beralih ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Life

See More

Ramalan Shio Kuda di Tahun Kuda Api 2026, Cari Tahu Peruntunganmu

13 Jan 2026, 21:03 WIBLife