Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Teks Passio Jumat Agung 2026, Penuh Makna dan Air Mata
Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Pixabay)
  • Teks Passio Jumat Agung 2026 mengajak umat Kristiani merenungkan kembali kisah sengsara Yesus sebagai wujud kasih, pengorbanan, dan pengampunan yang mendalam.
  • Pembacaan Passio dari Injil Yohanes dibawakan dengan pembagian peran seperti Narator, Yesus, dan Pilatus agar umat lebih terlibat secara emosional dan spiritual dalam perayaan Jumat Agung.
  • Kisah penyaliban hingga wafatnya Yesus ditampilkan penuh makna, menjadi momen hening untuk memperdalam iman serta memahami arti pengorbanan sejati dalam kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jumat Agung selalu menghadirkan suasana hening yang penuh makna bagi umat Kristiani. Salah satu bagian penting dalam perayaan ini adalah pembacaan teks passio, yaitu kisah sengsara Yesus yang disampaikan secara mendalam dan menyentuh hati. Melalui teks ini, umat diajak untuk kembali merenungkan perjalanan penderitaan yang dijalani Yesus hingga wafat di kayu salib.

Teks passio Jumat Agung 2026 bukan sekadar bacaan liturgi, tetapi juga pengingat akan kasih yang begitu besar bagi manusia. Setiap bagian kisahnya mengajak kita untuk memahami pengorbanan, kesetiaan, dan pengampunan yang ditunjukkan Yesus.

1. Bagian-bagian dari passio Injil Yohanes

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Alex Noriega)

Dalam pembacaan passio dari Injil Yohanes, kisah sengsara Yesus disampaikan dengan pembagian peran yang jelas agar lebih hidup dan mudah dihayati oleh umat. Setiap bagian memiliki fungsi tersendiri, mulai dari narasi, dialog, hingga seruan bersama, sehingga keseluruhan kisah dapat terdengar lebih mendalam dan menyentuh hati.

Pembagian ini juga membantu umat untuk lebih terlibat dalam perayaan Jumat Agung, baik sebagai pembaca maupun pendengar. Dengan adanya peran seperti Narator, Yesus, Pilatus, serta kelompok suara seperti Sopran, Tenor, dan Bas, teks Passio tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga pengalaman iman yang kuat dan penuh makna.

PASSIO – Injil Yohanes

N : Narator

Y : Yesus

P : Pilatus

L : Lainnya

A: Alto

S : Sopran

T : Tenor

B : Bas

2. Teks passio Injil Yohanes bagian I: “Kisah Sengsara Yesus Kristus”

Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Gift Habeshaw 🇪🇹)

N : Inilah kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus, karangan Yohanes.

Pada waktu itu, Yesus pergi ke seberang sungai Kidron, bersama murid-murid-Nya. Di situ ada suatu taman, dan Ia masuk ke dalamnya bersama murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Dia, juga tahu tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ bersama murid-murid-Nya.

Maka datanglah Yudas ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, lengkap dengan lentera, suluh, dan senjata.

Maka Yesus, yang tahu segala sesuatu yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka:

Y : Siapa yang kamu cari?

N : Jawab mereka:

A, S, T, B : Yesus dari Nazaret!

N : Kata-Nya kepada mereka:

Y : Akulah Dia.

N : Yudas, yang mengkhianati Dia, berdiri juga di situ bersama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia”, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.

Maka Ia bertanya pula:

Y : Siapa yang kamu cari?

N : Kata mereka:

A, S, T, B : Yesus dari Nazaret!

N : Jawab Yesus:

Y : Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.

N : Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: “Dari mereka yang Engkau berikan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan binasa.”

Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedangnya, lalu memotong telinga kanan hamba imam besar. Nama hamba itu Malkus.

Y : Sarungkan pedangmu itu! Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?

N : Maka pasukan prajurit serta perwira dan penjaga-penjaga orang Yahudi menangkap Yesus dan membelenggu Dia.

Mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena ia adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi imam besar. Kayafaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk bangsa.”

Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal imam besar, maka ia masuk bersama Yesus ke halaman istana imam besar. Tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu.

Maka murid yang lain itu keluar lagi dan berbicara dengan perempuan penjaga pintu, lalu membawa Petrus masuk.

L : Bukankah engkau juga murid orang itu?

N : Kata Petrus:

L : Bukan!

N : Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga berdiri di situ, mereka membuat api arang, sebab hari dingin, dan mereka berdiang. Petrus juga berdiri bersama mereka dan berdiang.

Maka imam besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya.

Y : Aku telah berbicara terus terang kepada dunia. Aku selalu mengajar di rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul. Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyakanlah kepada mereka yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; mereka tahu apa yang telah Kukatakan.

N : Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ menampar muka Yesus dan berkata:

L : Begitukah jawab-Mu kepada imam besar?

Y : Jika Aku berkata salah, tunjukkanlah salahnya; tetapi jika Aku berkata benar, mengapakah engkau menampar Aku?

N : Lalu Hanas mengirim Dia dalam keadaan terbelenggu kepada Kayafas, imam besar itu.

Simon Petrus masih berdiri berdiang.

L : Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?

N : Petrus menyangkalnya dan berkata:

L : Bukan!

N : Seorang hamba imam besar, yaitu keluarga dari orang yang telinganya dipotong Petrus, berkata:

L : Bukankah aku melihat engkau bersama Dia di taman itu?

N : Maka Petrus menyangkalnya lagi, dan seketika itu juga berkokoklah ayam.

 

3. Teks passio Injil Yohanes: “Yesus Wafat”

Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Pixabay)

N : Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke istana gubernur. Hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke dalam istana itu supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.

Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata:

P : Tuduhan apakah yang kamu ajukan terhadap orang ini?

N : Jawab mereka:

A, S, T, B : Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!

P : Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukummu sendiri.

N : Kata orang-orang Yahudi itu:

A, S, T, B : Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.

N : Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

N : Yesus berkata:

Y : Sudah selesai.

N : Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

(hening sejenak)

N : Karena hari itu hari persiapan, dan supaya tubuh-tubuh itu tidak tinggal tergantung pada salib pada hari Sabat, maka orang-orang Yahudi meminta kepada Pilatus supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

Maka datanglah prajurit-prajurit, lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama Yesus.

Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Dan orang yang melihat hal itu telah memberikan kesaksian dan kesaksiannya itu benar, supaya kamu juga percaya.

N : Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan mengambil jenazah Yesus. Pilatus memberi izin.

Ia datang dan mengambil jenazah itu.

Nikodemus juga datang ke situ. Ia membawa campuran minyak mur dan gaharu.

Mereka mengambil jenazah Yesus, lalu membungkus-Nya dengan kain kafan serta rempah-rempah, menurut adat penguburan orang Yahudi.

Di tempat Ia disalibkan ada taman dan dalam taman itu ada kubur baru yang belum pernah dipakai. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi dan kubur itu tidak jauh, mereka meletakkan Yesus di situ.

Pembacaan teks passio Jumat Agung 2026 menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri pada makna pengorbanan sejati. Kisah yang disampaikan tidak hanya untuk didengar, tetapi juga untuk direnungkan dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

 

Editorial Team