- Bacaan 1: Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
- Mazmur: Mazmur 22
- Bacaan 2: Ibrani 10 : 16 – 25
- Bacaan 3: Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
- Tema Liturgis: Ratu Adil Segenap Ciptaan
- Tema Khotbah: Menjadi Hamba yang Setia dan Rela Menderita
Khotbah Jumat Agung 2026: Derita yang Menguatkan, Kasih yang Menyelamatkan

- Khotbah Jumat Agung 2026 mengajak umat Kristiani merenungkan penderitaan dan kasih Yesus Kristus sebagai wujud pengorbanan demi keselamatan manusia.
- Tiga bacaan utama dari Yesaya, Ibrani, dan Yohanes menegaskan ketaatan Yesus sebagai Hamba Tuhan yang rela menderita demi rencana keselamatan Allah.
- Pesan utama khotbah menekankan teladan Yesus dalam menghadapi pengkhianatan dengan kasih, kesetiaan, serta ajakan bagi umat untuk hidup saling mengasihi dan memperkuat iman.
Jumat Agung menjadi momen yang penuh keheningan dan permenungan bagi umat Kristiani. Pada hari ini, umat mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, sebuah peristiwa yang sarat makna tentang kasih, pengampunan, dan pengorbanan tanpa batas. Karena itu, khotbah Jumat Agung 2026 menjadi bagian penting yang membantu kamu memahami lebih dalam arti dari peristiwa tersebut.
Melalui khotbah yang disampaikan, umat diajak untuk tidak hanya mengingat kisah penderitaan, tetapi juga merenungkan makna di baliknya. Setiap pesan yang disampaikan dapat menjadi pengingat untuk menjalani hidup dengan kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan.
1. Bacaan khotbah Jumat Agung 2026

Pada peringatan Jumat Agung, umat diajak untuk merenungkan rangkaian bacaan kitab suci yang menggambarkan penderitaan, pengorbanan, dan kasih Yesus Kristus bagi manusia. Melalui bacaan dari Kitab Yesaya, Ibrani, dan Injil Yohanes, kamu dapat melihat bagaimana rencana keselamatan Allah dinyatakan secara nyata melalui penderitaan Sang Hamba Tuhan yang setia dan taat hingga akhir. Berikut bacaannya dikutip dari laman Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).
Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
"Hamba Tuhan Yang Menderita"
Secara umum kita memaknai bahwa sebutan “HAMBA” diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki status sosial yang rendah, yang hidupnya untuk mengabdikan diri kepada orang/pihak lain (hamba juga bisa disebut budak belian; abdi), sehingga ia tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri. Sedangkan khusus dalam konteks Yesaya, istilah “HAMBA” merujuk pada “Hamba Tuhan (Ebed YHWH)”, sehingga jika disederhanakan ialah: seseorang yang bukan hanya menjadi milik Tuhan, tetapi juga bekerja khusus untuk Tuhan.
Beberapa teolog (salah satunya Robert B. Chisholm, Jr), beranggapan bahwa Hamba Tuhan yang dinubuatkan Yesaya merujuk pada jati diri Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Terlebih jika melihat keadaan yang dialami dalam nubuat Yesaya ini bahwa Sang Hamba Tuhan tersebut akan menderita (52:14 s.d. 53:3), selain itu penderitaan yang Ia alami adalah oleh karena menanggung kesalahan umat (4-10), dan pada akhirnya Ia akan memperoleh kemenangan dan kemuliaan (52:13).
Melalui penjabaran pendek di atas maka dapat kita simpulkan bahwa “Hamba Tuhan” setia dan taat atas rancangan yang diberikan atas dirinya. Sebagaimana Yesus Kristus yang penderitaan-Nya adalah bagian integral dari rencana keselamatan Allah untuk umat manusia.
Ibrani 10 : 16 – 25
"Menghadap Allah dengan Hati yang Bersih"
Dalam perikop ini, penulis Surat Ibrani mengutip kitab Yeremia 31:33-34, yang di dalamnya memiliki makna bahwa Firman Allah akan selalu tersimpan dalam hati setiap umat dan terwujud nyata dalam bentuk akal budi. Melalui akal budi tersebut membawa umat pada pengenalan kepada Yesus Kristus. Dengan demikian Allah sendiri yang akan mengampuni segala dosa-dosa umat-Nya oleh karena adanya pengampunan melalui darah Yesus Kristus yang mati di kayu salib. Tentu saja sebagai seorang Kristen, Firman Allah Yang Sejati tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Sehingga di dalam hati dan akal budi kita, hanya ada Tuhan Yesus yang bertahta, kita memiliki keyakinan untuk dapat menghadap Allah (Ay. 21).
Selain yang tersebut di atas, perikop ini pun mengandung sebuah pesan untuk persekutuan, yaitu agar umat selalu saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih, dalam pekerjaan baik, dan jangan menjauh dari persekutuan dan peribadahan, apalagi hari kedatangan Tuhan sudah dekat (Ay. 24-25).
Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
"Wujud Kasih dan Pengurbanan Yesus"
Teks yang kita baca ini adalah gambaran detail bagaimana proses Tuhan Yesus ditangkap, diadili, dihukum mati, sampai dengan dimakamkan. Tentunya kisah ini pun sebagian besar sudah diulas dan disajikan secara baik dalam film-film kristiani, yang tentu dapat mengantarkan kita pada refleksi mendalam tentang kasih Allah atas manusia sehingga Ia rela sedemikian rupa menderita. Pesannya sangat jelas bahwa penderitaan yang dialami oleh Yesus adalah untuk mewujudkan pengampunan dan keselamatan bagi umat manusia. Ia harus merasakan sakit, kecewa, malu, terhina, bercampur aduk, sebelum Ia wafat di kayu salib.
2. Poin yang perlu direnungkan dan benang merah dari ketiga bacaan

Melalui rangkaian peristiwa yang dialami Yesus dalam bacaan Injil, terdapat banyak hal penting yang bisa kamu renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kejadian tidak hanya menggambarkan penderitaan, tetapi juga menunjukkan sikap Yesus yang penuh kasih, kesabaran, dan ketaatan, sehingga menjadi pelajaran berharga bagi umat dalam menjalani iman di tengah berbagai tantangan hidup. Berikut beberapa poin penting yang perlu direnungkan:
- Pengkhianatan Yudas Iskariot dan Penyangkalan Petrus (18:1-11 & 17, 25-27). Hal ini menggambarkan orang yang terdekat dengan Yesus telah membuat hati-Nya kecewa atas pengkhianatan mereka.
- Yesus diperhadapkan pada Hanas dan ditampar oleh penjaga (18:12-24). Dalam sebuah penghakiman yang tidak mendasar, Yesus merelakan diri-Nya dihina, direndahkan, dan disakiti.
- Yesus menjawab Pilatus dan menjelaskan padanya bahwa kerajaan-Nya bukanlah dari dunia (18:36). Hal ini menegaskan kembali bahwa dari mana dan ke mana Yesus akan pergi, Ia bukan dari dunia fana ini, melainkan Kerajaan Sorga Abadi.
- Yesus menjelaskan bahwa kuasa yang dimiliki Pilatus diberikan dari atas (19:11). Hal ini menekankan bahwa di hadapan Yesus tidak ada yang layak menyombongkan diri dan tidak ada yang jauh lebih berkuasa dari Tuhan sendiri.
- Situasi dilematis yang dialami oleh Pilatus (19:12-16). Tentunya Pilatus memahami bahwa Yesus bukanlah orang biasa dan ingin membebaskan Dia. Namun di sisi lain ia ditekan secara politis oleh para imam dan orang-orang Yahudi. Sampai pada akhirnya ia pun menyalibkan Yesus.
- Pakaian dan jubah Yesus diperebutkan para prajurit (19:23). Jika kita melihat dalam prespektif masa kini, mungkin boleh kita katakan bahwa yang telah mendapatkan pakaian dan jubah Yesus adalah seseorang yang sangat beruntung. Namun dalam konteks masa itu, tentu apa yang mereka lakukan adalah sebuah penghinaan terhadap orang yang dihukum dengan cara ditelanjangi.
Benang merah dari ketiga bacaan:
Tuhan Yesus Kristus adalah Firman Allah Sejati yang setia dan taat, sebagaimana seorang hamba yang menderita dan mati untuk umat manusia. Maka sebagai umat yang dikasihi Tuhan, kita harus senantiasa membangun kehidupan persekutuan yang saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik serta tetap percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus senantiasa bertahta dalam hati dan akal budi kita.
3. Rancangan khotbah Jumat Agung 2026

Rancangan khotbah Jumat Agung ini disusun untuk membantu kamu memahami pesan utama dari peristiwa penderitaan dan wafat Yesus Kristus. Namun perlu dicatat bahwa ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, kamu bisa mengembangkan sendiri sesuai dengan konteks jemaat masing-masing.
Pendahuluan:
Seseorang pasti senang jika memiliki sahabat yang baik, selain mau membantu apa yang dibutuhkan, tentu juga memiliki loyalitas. Sahabat yang baik tidak akan mungkin berkhianat dalam keadaan apapun. Namun sebaliknya, seseorang pasti akan merasa kecewa dan sedih jika memiliki sahabat yang tega mengkhianatinya. Apalagi menyakiti dan menjatuhkan dirinya di depan orang lain. Kurang lebih mungkin perasaan itu yang sedang dialami oleh Yesus, saat Ia dikhianati oleh Yudas Iskariot dan orang-orang yang pernah mendengar pengajaran-Nya. Betapa kecewa, sedih, bahkan sakit hati dirasakan Yesus secara manusiawi saat melihat pengkhianatan itu terjadi.
Namun apakah yang dilakukan oleh Yesus? Apakah Ia membalas pengkhianatan Yudas Iskariot? Jawabannya tidak! Ia tetap setia menjalani dampak dari pengkhianatan itu, bahkan Ia pun tetap diam saat hukuman mati disalib dijatuhkan atas-Nya. Apakah yang membuat Ia setia dan tidak melawan pengkhianatan serta penghukuman yang Ia alami? Marilah kita belajar dari ketiga bacaan yang sudah kita baca hari ini!
Isi:
Petama, karena Yesus menyadari bahwa diri-Nya adalah seorang Hamba Tuhan yang siap menderita. Sebagaimana yang tertulis dalam kitab Yesaya bahwa Hamba Tuhan akan menderita sedemikian rupa, hingga banyak orang akan tertegun karena begitu buruk rupanya sebab penderitaan (Yes. 52:14). Meskipun demikian pada akhirnya Hamba Tuhan itu pun akan keluar dari penderitaan itu dan ditinggikan, disanjung, serta dimuliakan (Yes. 52:13). Melalui hal ini, kita dapat belajar bahwa menjadi umat Kristus bukan berarti kita menjadi tuan atas yang lainnya, atau merasa lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Namun justru kita rela untuk direndahkan bahkan menghadapi penderitaan dunia. Demikian juga kita percaya bahwa jika kita tetap setia dan taat, seperti halnya Kristus Yesus yang dimuliakan di bumi dan di sorga, kita pun akan mendapatkan bagian yang sama dalam Kerajaan Surga.
Kedua, Yesus tidak berasal dari dunia ini namun dari Kerajaan Surga (Yoh. 18:36). Hal ini menjelaskan bahwa Yesus tidak akan menggunakan cara duniawi bahwa kejahatan akan dibalas dengan kejahatan. Namun Ia mengajarkan cara sorgawi bahwa kejahatan dan pengkhianatan Yudas dibalas dengan kasih dan pengorbanan. Kita pun percaya bahwa setiap umat pengikut Kristus juga telah dipilih untuk menerima bagian dari Kerajaan Surga. Namun demikian ada konsekuensi yang harus kita tanggung, yaitu kita turut melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus. Kita meneladani-Nya bahwa kita tidak akan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, namun berbelas kasih dan tetap mendoakan yang terbaik.
Ketiga, yang paling utama ialah Yesus memahami bahwa pengkhianatan Yudas Iskariot adalah rancangan pengampunan atas dosa seluruh umat manusia (Ibrani 10:17-18). Tentu secara manusiawi Tuhan Yesus merasa kecewa dan sedih terhadap pengkhianatan Yudas, namun Ia pun menyadari apa yang terjadi adalah rancangan keselamatan demi pengampunan dosa seluruh umat manusia. Seandainya saja Yesus hanya berfokus kepada pengkhianatan atau penderitaan yang Ia alami tanpa menghayati bahwa hal itu adalah cara untuk penebusan dosa umat manusia, tentu pada saat ini kita semua tidak akan mendapatkan janji keselamatan surgawi.
Penutup:
Setiap kita pastinya pernah merasakan kekecewaan, namun pernahkah kita merenungkan bahwa mungkin hal itu adalah cara Tuhan untuk membuat kita mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Jika kita hanya berfokus pada rasa sakit yang kita alami, mungkin kita akan lupa untuk mencari obat dari rasa sakit itu. Demikian juga dengan Yesus, Ia merelakan kemuliaan-Nya dari surga dan merasakan pengkhianatan serta penderitaan di kayu salib. Inilah bukti bahwa Ia tetap setia dan taat pada rancangan Bapa. Ia tidak fokus pada rasa sakit itu. Namun sebagai Hamba yang menderita, Ia memberikan pengampunan dan keselamatan kepada seluruh umat manusia yang percaya kepada-Nya. Amin.
Khotbah Jumat Agung 2026 bukan sekadar rangkaian kata, tetapi menjadi sarana untuk memperdalam iman dan memperbaiki diri. Dari setiap pesan yang disampaikan, kamu diajak untuk belajar tentang arti pengorbanan dan kasih yang tulus dalam kehidupan nyata.