Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tips Latihan Stoikisme Pas Break Kantor, Ampuh Lawan Overthinking
ilustrasi latihan stoikisme pas break kantor (magnific.com/pvproductions)
  • Artikel menyoroti pentingnya latihan stoikisme saat jam istirahat kantor untuk menjaga ketenangan pikiran dan mencegah burnout akibat tekanan pekerjaan.
  • Lima praktik utama yang disarankan meliputi dikotomi kendali, mindful eating, visualisasi negatif, jeda dari distraksi digital, serta menulis jurnal rasa syukur.
  • Latihan ini membantu pekerja lebih fokus, tenang, dan bersyukur sehingga mampu menghadapi stres kerja tanpa kehilangan keseimbangan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangkan kamu lagi di tengah hiruk-pikuk pekerjaan, deadline menumpuk, dan drama rekan kerja yang gak ada habisnya. Pas jam istirahat tiba, bukannya merasa rileks, otak kamu malah masih "ramai" memikirkan revisi yang belum selesai. Di momen inilah kamu butuh latihan stoikisme untuk merebut kembali ketenangan pikiranmu di tengah badai kantor.

Kalau kamu terus membiarkan drama kantor merusak waktu istirahatmu, pelan-pelan kamu bakal merasa burnout luar biasa, lho. Kamu berhak mendapatkan jeda yang berkualitas untuk mengisi ulang energi mental sebelum kembali berperang dengan tumpukan tugas. Jika masalah ini gak segera kamu atasi, produktivitas dan kebahagiaan kamu di tempat kerja pasti bakal terjun bebas.

1. Praktikkan dikotomi kendali

ilustrasi rilekskan diri saat istirahat kantor (pexels.com/Kindel Media)

Stoikisme mengajarkanmu untuk memilah mana hal yang bisa dikontrol dan mana yang gak. Saat jam istirahat, cobalah duduk tenang dan sadari bahwa revisi mendadak dari bos adalah hal di luar kendalimu. Yang bisa kamu kontrol sepenuhnya hanyalah reaksi dan cara kamu menyikapi situasi tersebut. Fokuslah pada kedamaian dirimu sendiri selama 30 menit ke depan tanpa mencemaskan hal lain.

Gak perlu pusing memikirkan kenapa rekan kerjamu bermuka masam atau kenapa internet kantor lemot hari ini. Ingat, energi kamu itu terbatas, jadi jangan dihabiskan untuk hal-hal yang gak bisa kamu ubah saat itu juga, ya. Tetap tenang adalah self-reward paling mewah yang bisa kamu kasih ke diri sendiri, lho.


2. Makan dengan penuh kesadaran

ilustrasi mindful eating (pexels.com/Nathan Cowley)

Sering kali kamu makan siang sambil scrolling medsos atau membalas pesan kerjaan yang sebenarnya bisa menunggu. Latihan stoikisme mengajakmu untuk hadir sepenuhnya di momen sekarang atau yang sering disebut mindfulness. Cobalah untuk benar-benar merasakan tekstur, aroma, dan rasa dari makanan yang sedang kamu santap. Ini adalah cara sederhana untuk memutus rantai stres yang terus menyambung dari jam kerja tadi.

Mindfull-eating bakal bikin makanan terasa jauh lebih nikmat kalau kamu gak terdistraksi oleh notifikasi WAG kantor yang terus berbunyi. Dengan fokus pada makanan, kamu memberikan otakmu kesempatan untuk benar-benar "libur" sejenak dari beban logika. Fokus pada kunyahanmu, hirup aromanya, dan biarkan dunia luar menghilang sementara, ya.

3. Visualisasi negatif yang positif

ilustrasi meditasi visualisasi (pexels.com/Kevin Malik)

Kedengarannya mungkin agak aneh, tapi teknik premortum malorum ini sangat ampuh untuk melatih mental. Cobalah bayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi setelah jam istirahat selesai, contohnya ada rapat dadakan yang berat. Dengan membayangkannya lebih dulu, mental kamu jadi lebih siap dan gak bakal kaget kalau hal itu beneran terjadi. Ini bukan berarti kamu pesimis, tapi kamu sedang membangun benteng pertahanan mental yang kuat, kok.

Saat kamu sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk, rasa takut dan cemas biasanya bakal berkurang secara signifikan. Nah, kamu akan menyadari bahwa "hal terburuk" itu ternyata gak terlalu mengerikan dan kamu pasti bisa melaluinya. Jadi, pas ada masalah muncul, kamu tinggal bilang dalam hati, "Oh, ini toh yang tadi saya pikirkan, oke saya siap." Strategi ini bikin kamu jadi pribadi yang lebih cool dan gak gampang panik di depan rekan kerja.


4. Jeda sejenak dari distraksi digital

ilustrasi mematikan gawai (pexels.com/Lukas Blazek)

Salah satu bentuk disiplin stoik adalah menjaga kemurnian pikiran dari kebisingan yang gak perlu. Gunakan minimal 10 menit waktu istirahatmu untuk benar-benar menjauh dari layar ponsel maupun laptop. Carilah sudut kantor yang agak sepi atau lihatlah pepohonan di luar jendela untuk mengistirahatkan mata dan pikiranmu. Keheningan adalah kemewahan di dunia modern yang serba cepat ini, jadi manfaatkanlah sebaik mungkin.

Mematikan notifikasi sementara bukan berarti kamu gak bertanggung jawab, tapi kamu sedang menjaga kesehatan mentalmu sendiri. Kamu bukan robot yang harus standby 24 jam untuk memuaskan ekspektasi semua orang di kantor. Berikan ruang bagi dirimu untuk bernapas tanpa intervensi hal di luar dirimu yang sering bikin makin overthinking. Percayalah, setelah menjauh sejenak, fokus kamu saat bekerja nanti bakal meningkat berkali-kali lipat.


5. Jurnal rasa syukur tipis-tipis

ilustrasi jurnal syukur (unsplash.com/Gabrielle Henderson)

Stoikisme bukan berarti kamu harus jadi orang yang dingin dan gak punya perasaan, lho. Justru, kamu diajak untuk menghargai hal-hal kecil yang sering terlewatkan di tengah kesibukan. Manfaatkan sisa waktu istirahatmu untuk mencatat tiga hal sederhana yang bikin kamu bersyukur hari ini di aplikasi notes. Misalnya, bersyukur karena kopi siang ini rasanya pas atau bersyukur karena ada teman kantor yang asyik diajak bercanda.

Melakukan hal ini bakal mengubah orientasi otak kamu dari yang tadinya mencari masalah, jadi mencari berkah. Kalau kamu terbiasa melihat sisi positif, tekanan kerja setinggi apa pun bakal terasa lebih ringan buat dipikul, kalau kamu bisa melihat sisi positifnya. Gak perlu menulis panjang lebar yang bikin kamu berpikir lama, cukup poin-poin singkat yang bikin hati terasa hangat. Ingat, kebahagiaan itu diciptakan dari caramu memandang dunia, bukan dari seberapa tenang lingkungan kerja kita.

Mempraktikkan latihan stoikisme saat istirahat kantor adalah cara terbaik untuk menjaga kewarasan di tengah tuntutan dunia kerja yang makin gila. Dengan menjaga kendali atas pikiran sendiri, kamu gak akan mudah goyah oleh drama atau tekanan yang datang silih berganti. Tetap semangat, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team