Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Membuat Resolusi 2026 versi Orang Capek

ilustrasi resolusi 2026
ilustrasi resolusi 2026 (pexels.com/Polina)
Intinya sih...
  • Resolusi 2026 harus disesuaikan dengan energi yang tersisa, bukan target ideal yang memicu stres.
  • Fokus pada satu resolusi utama untuk menghindari perasaan kewalahan dan memudahkan evaluasi di tengah jalan.
  • Berhenti, menunda, atau menyesuaikan resolusi membuatnya lebih manusiawi dan membantu menjaga hubungan yang lebih sehat dengan rencana hidup sendiri.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Paruh akhir tahun sering berubah menjadi musim target baru, padahal tenaga sudah terkuras sejak bulan-bulan sebelumnya. Resolusi 2026 akhirnya tidak lagi dibayangkan sebagai daftar ambisi besar, melainkan sebagai upaya hidup yang lebih masuk akal dan tetap manusiawi. Banyak orang lelah bukan karena malas, tetapi karena terlalu lama menyesuaikan diri dengan standar hidup yang terus bergerak.

Di titik ini, resolusi 2026 justru perlu didekati dengan cara yang lebih jujur terhadap kondisi sehari-hari. Berikut beberapa tips yang bisa dipertimbangkan tanpa perlu merasa tertinggal atau bersalah sejak awal.

1. Menentukan resolusi berdasarkan energi yang tersisa

capek
ilustrasi capek (pexels.com/Steven Arenas)

Banyak resolusi gagal bukan karena kurang niat, tetapi karena salah membaca kapasitas diri. Orang yang sudah kelelahan cenderung memaksakan target tinggi demi terlihat produktif, padahal energi harian sudah habis untuk hal-hal dasar. Resolusi 2026 versi orang capek sebaiknya dimulai dengan mengakui batas tenaga yang realistis, bukan versi ideal yang jarang tercapai. Dengan begitu, resolusi tidak berubah menjadi beban baru yang diam-diam menambah stres.

Pendekatan ini membantu menyaring mana keinginan yang benar-benar penting dan mana yang sekadar ikut arus. Resolusi yang disesuaikan dengan energi tersisa, justru lebih mungkin dijalankan secara konsisten. Hasilnya mungkin tidak spektakuler, tetapi terasa nyata dalam keseharian.

2. Memilih satu fokus utama daripada banyak target

ilustrasi target
ilustrasi target (pexels.com/icon0 com)

Terlalu banyak resolusi sering membuat perhatian terpecah dan berakhir tanpa satu pun yang berjalan. Orang capek membutuhkan fokus tunggal agar tidak merasa kewalahan sejak awal tahun. Satu resolusi utama yang jelas lebih mudah dipantau dan dijalani daripada lima target besar sekaligus. Cara ini memberi ruang untuk bernapas tanpa harus terus mengejar pencapaian baru.

Fokus tunggal juga memudahkan evaluasi di tengah jalan. Ketika progress terasa lambat, perbaikan bisa dilakukan tanpa membongkar seluruh rencana hidup. Resolusi 2026 dengan satu fokus utama memberi kesempatan untuk merasakan kemajuan kecil yang konsisten. Dari situ, rasa cukup perlahan tumbuh tanpa perlu validasi dari orang lain.

3. Menyusun resolusi yang bisa berhenti di tengah jalan

ilustrasi resolusi
ilustrasi resolusi (pexels.com/Polina)

Banyak orang takut memulai resolusi karena khawatir gagal di tengah jalan. Padahal, resolusi tidak selalu harus berjalan lurus dari awal hingga akhir tahun. Memberi izin untuk berhenti, menunda, atau menyesuaikan resolusi, justru membuatnya lebih manusiawi. Resolusi 2026 tidak seharusnya menjadi kontrak yang kaku apalagi mengikat tanpa kompromi.

Dengan ruang untuk berhenti, tekanan mental berkurang sejak awal. Resolusi berubah menjadi pilihan sadar, bukan kewajiban yang memicu rasa bersalah. Saat kondisi tidak memungkinkan, jeda bisa diambil tanpa harus menganggap diri kamu gagal. Cara ini membantu menjaga hubungan yang lebih sehat dengan rencana hidup sendiri.

4. Menilai resolusi dari dampak sehari-hari, bukan hasil besar

ilustrasi resolusi
ilustrasi resolusi (pexels.com/Polina)

Resolusi sering dinilai dari hasil akhir yang terlihat mencolok, padahal dampak kecil sehari-hari sering lebih relevan. Orang capek membutuhkan perubahan yang terasa langsung dalam rutinitas, bukan janji besar di akhir tahun. Resolusi 2026 sebaiknya diukur dari apakah hidup terasa sedikit lebih ringan, bukan dari pencapaian yang bisa dipamerkan.

Perubahan kecil seperti tidur lebih teratur atau waktu istirahat yang konsisten sering membawa dampak signifikan. Meski terlihat sederhana, efeknya terasa nyata dalam jangka panjang. Dengan cara ini, resolusi tidak terasa jauh dari realitas hidup. Justru, resolusi menyatu dengan kebiasaan sehari-hari tanpa perlu drama.

5. Membiarkan resolusi tumbuh tanpa perbandingan

ilustrasi tujuan hidup
ilustrasi tujuan hidup (pexels.com/Polina)

Salah satu sumber kelelahan terbesar datang dari kebiasaan membandingkan resolusi pribadi dengan pencapaian orang lain. Resolusi 2026 versi orang capek perlu dijalani tanpa referensi hidup orang lain di layar ponsel. Setiap orang punya konteks, ritme, dan tanggung jawab yang berbeda. Resolusi yang tumbuh perlahan tetap sah meski tidak terlihat mencolok.

Tanpa perbandingan, fokus kembali ke kebutuhan sendiri. Resolusi tidak lagi berfungsi sebagai alat pembuktian, melainkan sebagai penopang hidup yang lebih nyaman. Cara ini membantu menjaga jarak dari rasa tidak cukup yang sering muncul tanpa disadari. Pada akhirnya, resolusi menjadi ruang aman untuk bertumbuh sesuai kemampuan.

Resolusi 2026 tidak harus megah atau penuh target ambisius agar terasa berarti. Bagi orang yang sudah lelah, resolusi justru perlu hadir sebagai alat bantu hidup yang lebih ringan dan masuk akal. Jika resolusi bisa dijalani tanpa rasa tertekan, bukankah itu sudah menjadi pencapaian tersendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Gaya Lamaran El Rumi dan Syifa Hadju, Menawan dengan Kebaya Peach!

21 Jan 2026, 17:42 WIBLife