Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tips Open PO Kue Lebaran agar Pesanan Ramai dan Nggak Keteteran
ilustrasi membuat kue (freepik.com/freepik)
  • Artikel membahas strategi agar open PO kue Lebaran tetap ramai tanpa kewalahan, menekankan pentingnya perencanaan dan pengelolaan sistem pemesanan sejak awal.
  • Ditekankan perlunya menentukan menu terbatas, kuota pesanan, serta jadwal produksi realistis untuk menjaga kualitas dan efisiensi kerja menjelang hari raya.
  • Sistem DP dan penggunaan media sosial secara informatif disarankan guna menghindari pembatalan pesanan serta mempermudah komunikasi dengan calon pembeli.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Open pre-order (PO) kue Lebaran memang kelihatan menjanjikan. Permintaan selalu ada, momen sudah jelas, dan pasarnya luas. Namun, di balik itu, banyak penjual yang justru kewalahan karena pesanan menumpuk, waktu mepet, dan tenaga tidak sebanding. Akhirnya, yang harusnya cuan malah jadi stres menjelang hari raya.

Kuncinya bukan cuma soal rasa kue yang enak, tapi juga cara mengatur sistem PO sejak awal. Berikut tips penting agar open PO kue Lebaran tetap ramai, rapi, dan terkendali. Scroll dibawah ini!

1. Menentukan menu sejak awal

Ilustrasi aneka kue (pexels.com/Shameel mukkath)

Godaan terbesar saat open PO adalah ingin menjual semua jenis kue Lebaran sekaligus. Padahal, terlalu banyak varian justru bikin proses produksi jadi rumit. Mulai dari belanja bahan, penyimpanan, sampai waktu memanggang jadi tidak efisien.

Lebih baik pilih beberapa menu andalan yang paling kamu kuasai dan paling diminati pasar. Dengan menu yang terbatas tapi konsisten, kamu bisa menjaga kualitas rasa dan mempercepat proses produksi. Pembeli biasanya lebih percaya pada penjual yang fokus, bukan yang terlalu banyak janji.

2. Menentukan kuota open pre order perperiode

ilustrasi membuat kue (freepik.com/freepik)

Salah satu kesalahan paling umum adalah menerima pesanan tanpa batas. Awalnya terlihat menguntungkan, tapi ujung-ujungnya kelelahan dan berisiko mengecewakan pelanggan. Padahal, menjaga kondisi fisik dan kualitas produk jauh lebih penting.

Menentukan kuota PO perhari atau perperiode membantu kamu bekerja lebih teratur. Selain itu, sistem kuota justru bisa meningkatkan minat pembeli karena menciptakan kesan terbatas. Selama komunikasinya jelas, pembeli biasanya bisa menerima dan justru lebih menghargai profesionalitasmu.

3. Membuat jadwal produksi yang realistis

ilustrasi membuat kue (freepik.com/jcomp)

Jangan meremehkan pentingnya jadwal produksi. Tanpa perencanaan, kamu bisa terjebak begadang terus-menerus atau menumpuk pekerjaan di hari terakhir. Ini bukan cuma melelahkan, tapi juga berisiko menurunkan kualitas kue.

Susun jadwal produksi berdasarkan jumlah pesanan dan kapasitas harianmu. Pisahkan hari untuk belanja bahan, produksi, dan pengemasan. Dengan alur kerja yang jelas, kamu bisa bekerja lebih tenang dan konsisten sampai hari H.

4. Open pre order dengan sistem dp

Ilustrasi menyerahkan uang (pexels.com/Karola G)

DP bukan cuma soal uang muka, tapi juga komitmen dari pembeli. Dengan sistem DP, kamu bisa meminimalkan pesanan fiktif atau pembatalan sepihak yang merugikan. Ini sangat penting saat mendekati Lebaran, ketika waktu dan tenaga sangat terbatas.

Pastikan aturan DP disampaikan dengan jelas sejak awal, termasuk batas waktu pelunasan. Sistem ini membantu kamu menghitung kebutuhan bahan dengan lebih akurat dan mengatur alur produksi tanpa tebak-tebakan.

5. Menggunakan media sosial untuk sumber informasi

ilustrasi handphone (freepik.com/pvproductions)

Promosi yang baik bukan soal seberapa sering posting, tapi seberapa jelas informasinya. Cantumkan menu, harga, sistem PO, kuota, dan jadwal pengiriman secara rapi. Ini akan mengurangi pertanyaan berulang yang menguras energi.

Gunakan highlight, caption informatif, atau pinned post agar calon pembeli mudah memahami alur pemesanan. Semakin jelas informasimu, semakin sedikit waktu yang terbuang untuk menjawab hal-hal teknis.

Open PO kue Lebaran yang sukses bukan soal siapa yang menerima pesanan paling banyak, tapi siapa yang paling siap mengelolanya. Nah, dari tips diatas apakah sudah cukup membantumu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian