Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tren Ingin Kabur saat Lebaran Mestinya Jadi Renungan, Kenapa?
ilustrasi Lebaran (pexels.com/Ega Morgan)
  • Keinginan kabur saat Lebaran sering dipicu tekanan ekspektasi dan pengalaman tidak nyaman.

  • Sebagian orang butuh me time atau punya cara berbeda dalam memaknai kebersamaan.

  • Fenomena ini lebih tentang menjaga diri, bukan sekadar menjauh dari keluarga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lebaran selama ini identik dengan pulang, berkumpul, dan suasana hangat yang terasa akrab dalam banyak keluarga. Namun, belakangan muncul kecenderungan baru ketika sebagian orang justru ingin menjauh dari keramaian saat momen itu datang. Pilihan untuk tidak pulang atau sengaja pergi ke tempat lain saat Lebaran bukan lagi hal yang aneh dibicarakan.

Fenomena ini sering dipandang sekilas sebagai sikap individualistis. Padahal, ceritanya tidak sesederhana itu. Berikut beberapa sisi yang bisa membantu melihatnya dengan lebih jernih.

1. Ekspektasi keluarga sering terasa terlalu tinggi

ilustrasi Lebaran (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak semua orang datang ke momen Lebaran dengan perasaan ringan karena ada harapan yang harus dipenuhi dan sering kali tidak diucapkan secara langsung. Obrolan sederhana, seperti pekerjaan, status, atau pencapaian hidup, bisa berubah menjadi tekanan yang membuat suasana tidak lagi nyaman. Situasi seperti ini membuat sebagian orang merasa harus tampil baik daripada benar-benar menjadi diri sendiri.

Ada seseorang yang terus ditanya kapan menikah atau dibandingkan dengan saudara lain yang dianggap lebih berhasil. Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi yang mengalaminya, dampaknya bisa cukup melelahkan. Tidak heran jika muncul keinginan untuk menjauh sementara untuk sekadar menghindari percakapan yang berulang setiap tahun.

2. Kebutuhan me time yang sering tidak dipahami

ilustrasi me time (pexels.com/Ron Lach)

Lebaran sering dianggap sebagai momen wajib untuk selalu bersama. Padahal, tidak semua orang memiliki energi yang sama untuk terus berada di tengah keramaian. Ada yang justru merasa lebih nyaman jika punya waktu sendiri setelah menjalani rutinitas panjang sebelumnya. Pilihan untuk tidak ikut berkumpul bukan berarti menolak keluarga, melainkan cara menjaga diri agar tetap waras.

Sebagai contoh, ada seseorang yang bekerja di kota besar dengan jam kerja padat bisa merasa kelelahan saat harus langsung masuk ke suasana ramai tanpa jeda. Alih-alih pulih, kondisi seperti itu justru membuatnya semakin jenuh. Dalam situasi ini, mengambil jarak sebentar bisa menjadi bentuk jeda yang dibutuhkan, bukan bentuk penolakan terhadap kebersamaan.

3. Perubahan cara memaknai kebersamaan

ilustrasi Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak semua orang lagi memandang kebersamaan harus selalu dalam bentuk hadir secara fisik di satu tempat. Perkembangan teknologi membuat komunikasi tetap bisa berjalan meski tidak bertemu langsung. Hal ini perlahan mengubah cara sebagian orang melihat arti berkumpul saat Lebaran.

Ada yang memilih panggilan video dengan keluarga inti sambil menikmati waktu di tempat yang lebih tenang. Pilihan ini mungkin terasa berbeda dari kebiasaan lama, tetapi tetap membawa makna yang sama bagi mereka yang menjalaninya. Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu harus seragam.

4. Pengalaman masa lalu ikut memengaruhi pilihan

ilustrasi Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak semua kenangan tentang Lebaran terasa hangat bagi setiap orang karena ada juga pengalaman yang justru meninggalkan kesan tidak menyenangkan. Hal ini bisa berasal dari konflik keluarga, perasaan tidak diterima, atau situasi yang membuat seseorang merasa terasing di tengah keramaian. Pengalaman seperti ini sering terbawa hingga bertahun-tahun.

Ketika momen Lebaran datang lagi, ingatan tersebut bisa muncul kembali dan membuat seseorang enggan mengulang situasi yang sama. Sebagai contoh, ada yang pernah merasa disindir atau dipermalukan di depan keluarga besar, lalu memilih untuk menghindari pertemuan serupa tahun berikutnya. Pilihan untuk kabur dalam konteks ini lebih dekat dengan usaha menjaga diri daripada sekadar menghindar tanpa alasan.

5. Gaya hidup yang semakin beragam

ilustrasi liburan (pexels.com/Riccardo)

Cara orang menjalani hidup sekarang semakin beragam, termasuk dalam menentukan bagaimana merayakan momen tertentu. Ada yang memilih traveling saat Lebaran, ada juga yang lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah tanpa agenda besar. Perbedaan ini sering kali berbenturan dengan ekspektasi lama yang menganggap Lebaran harus dirayakan dengan cara tertentu.

Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa lebih tenang menghabiskan waktu di alam terbuka daripada berada di rumah yang ramai sepanjang hari. Pilihan ini tidak selalu berarti menjauh dari nilai Lebaran, tetapi lebih pada cara masing-masing orang mengisi waktu dengan versi yang paling sesuai. Selama tidak merugikan orang lain, pilihan tersebut sebenarnya sah saja.

Keinginan untuk menjauh saat Lebaran bukan selalu tanda menjauh dari keluarga, melainkan bisa menjadi cara seseorang menjaga dirinya tetap nyaman. Fenomena ini menunjukkan bahwa cara memaknai momen besar tidak selalu sama bagi setiap orang. Jika pilihan berbeda mulai muncul, mungkin yang perlu dipikirkan bukan hanya soal benar atau salah, melainkan apa yang sebenarnya dibutuhkan setiap individu saat Lebaran tiba?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎