Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi laki-laki sedih
ilustrasi laki-laki sedih (unsplash.com/Ethan Sykes)

Intinya sih...

  • Suasana hati itu menular, emosi negatif bisa memengaruhi pasangan.

  • Kamu terlalu sibuk dan tidak fokus, prioritaskan hubunganmu dengan pasangan.

  • Tugasmu di rumah terabaikan, lakukan percakapan terbuka dengan pasangan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tekanan di dunia kerja tak jarang membuat pundak terasa berat dan kepala terasa pening.  Perasaan jengkel, lelah, dan terganggu ini bukan tidak mungkin bisa terbawa hingga saat pulang ke rumah. Pada hari-hari kerja yang terasa lebih berat ini membuat kamu bisa berada dalam mode ‘flight-or-flight mode’ dan ‘battle-ready’ mindset.

Kondisi mental ini tidak bisa begitu saja kamu matikan sepulang kerja. Jadi, kamu perlu berhati-hati jika kondisi ini diam-diam mulai mengganggu hubunganmu dengan pasangan!

1. Suasana hati itu menular

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ron Lach)

Kamu mungkin sudah berusaha tersenyum dan menyembunyikan ketegangan, kejengkelan, dan stres. Namun, menurut penelitian yang diungkap Psychology Today, emosi-emosi negatif seperti ini cenderung menular dan dapat memengaruhi suasana hati pasanganmu juga. Sebab, lebih sulit untuk bersikap ceria dan hangat di sekitar seseorang yang mudah tersinggung dan tegang.

Mulai atasi situasi  ini  dengan mengembangkan ritual yang membantu mengalihkan pola pikir dari “kehidupan dunia kerja” ke mode “kehidupan rumah  tangga”. Pisahkan pemikiran saat berperan sebagai karyawan di kantor dan saat kamu berperan sebagai suami atau istri di rumah. Upaya ini dapat melatih otakmu agar lebih mudah beralih dari tingkat kewaspadaan tinggi hingga ke situasi yang lebih tenang.

2. Kamu terlalu sibuk dan tidak fokus

Ilustrasi pasangan sedih (Pexels.com/cottonbro studio)

Saat ada sesuatu yang mengganggu kamu di tempat kerja hingga membuat perasaan kesal, kamu cenderung akan merenungkannya lagi saat sampai di rumah. Kamu akan sibuk dengan pikiranmu hingga sepanjang malam, mulai dari rekan kerja yang pendapatnya bertentangan denganmu, klien yang menyebalkan, atau bagaimana atasan memarahimu saat sedang rapat.

Memang sulit berhenti merenungi pekerjaan, sebab dorongan untuk melakukannya terasa mendesak. Untuk mengatasinya, prioritaskan juga hubunganmu dan tetapkan tujuan yang jelas di hari itu sepulang kerja dengan pasangan. Misalnya, mulai tetapkan aktivitas bersama untuk menghabiskan waktu bersama pasangan, makan malam bersama, hingga menonton televisi bersama.

3. Tugasmu di rumah terabaikan

ilustrasi belajar mendengarkan pasangan (pexels.com/Timur Weber)

Saat pekerjaan kantor terasa sangat menuntut, kamu mungkin akan sulit tetap bertanggung jawab melakukan pekerjaan rumah tangga. Masalah ini mulanya mungkin hanya pada tugas-tugas kecil seperti mencuci piring hingga memesan bahan masakan yang pasangan masih abaikan, karena memahami betapa lelahnya kamu. Namun, jika berlangsung lama dapat membuat kebiasaan baru.

Akhirnya, pasangan pun merasa kesal dan lelah setelah merasa semua pekerjaan rumah tangga harus dilimpahkan padanya. Solusinya, kamu harus melakukan percakapan terbuka dengan pasangan, jika kamu memang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya tanggung jawabnya. Namun, saat diskusi ini berlangsung kamu harus tetap terbuka terhadap perspektif dari pasangan.

Menyadari bagaimana tekanan pekerjaan dapat meluas dan mengganggu harmoni dalam rumah tangga itu penting. Dengan begitu kamu bisa lebih mengidentifikasi akar masalah dan bersama-sama dengan pasangan mencari solusinya. Setidaknya, untuk meminimalkan tekanan dan stres yang diperoleh dari dunia kerja, agar tidak berdampak pada hubungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team