Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Dampak Perasaan Oversensitive yang Gak Diselesaikan dalam Hubungan
ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Samson Katt)
  • Perasaan oversensitive dalam hubungan bisa bikin seseorang menahan diri, sulit terbuka, dan akhirnya menghambat keintiman dengan pasangan.

  • Kebiasaan terlalu sensitif sering memicu perbandingan dengan hubungan orang lain serta menimbulkan ketidakpuasan dan kecurigaan terhadap pasangan.

  • Sikap sensitif berlebihan dapat menciptakan rasa tidak aman, konflik kecil yang membesar, serta kesulitan membangun kepercayaan dalam hubungan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bila kita menjalin relasi dengan orang yang disayang, pasti lebih mudah merasa khawatir dan sensitif. Kamu jadi mudah overthink tentang apa yang doi pikirkan, ucapkan, dan lakukan untukmu. Hal tersebut adalah hal yang lumrah, tapi mulai jadi tanda tanya ketika perlakuan dari doi mudah membuatmu panas hati.

Perasaan yang terlalu sensitif membuatmu tidak bisa menyikapi batasan yang doi bangun dengan baik dan penuh respek. Ternyata, ini bisa jadi sinyal bahwa ada masalah serius yang belum selesai dalam hubunganmu. Simak, berikut lima hal yang dihasilkan dari kebiasaan oversensitive dalam relasi.

1. Gak ada keintiman dengan pasangan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Eren Li)

Ketika kita punya perasaan sensitif terhadap penolakan yang berlebih, kita cenderung menahan-nahan diri. Dengan kata lain, kamu gak bebas mengungkap keinginan maupun mengekspresikan diri di hadapan pasangan.

Hal ini ternyata bisa jadi ancaman serius, karena kamu jadi cenderung menutup diri. Padahal, untuk membangun relasi yang intim dan dalam, diperlukan keberanian untuk bersikap jujur, terbuka, dan apa adanya.

2. Sering membandingkan hubungan sendiri dengan orang lain

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kebiasaan oversensitive juga bisa melahirkan ketidakpuasan dalam hubungan. Ujung-ujungnya, kamu jadi sering membandingkan hubunganmu dengan orang lain. Sulit untuk merasa bahagia jika kamu kerap menaruh “curiga” pada pasangan.

Kalau kamu berada di fase ini, coba komunikasikan perasaan dan gelisahmu pada pasangan. Jangan demi gengsi dan ego pribadi, malah dipendam-pendam. Kita tidak akan tahu, kapan perasaan itu meledak dan malah jadi bumerang untuk diri sendiri.

3. Mudah merasa “was-was” dan gak aman dalam hubungan

ilustrasi pasangan bekerja sama (pexels.com/Blue Bird)

Seseorang yang dirundung dengan rasa sensitif berlebihan pasti di dalam hati selalu was-was. Ia takut, suatu hari orang yang dicintai malah berbalik menyerangnya. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal: trauma masa lalu, ketakutan pribadi, dan masih banyak lagi.

Bila tidak segera diselesaikan, sikap hati seperti ini bisa menciptakan banyak konflik yang gak perlu. Kamu gampang merasa baper oleh sikap pasangan. Hal yang seharusnya bisa dikomunikasikan baik-baik malah berujung jadi konflik. Bukan tentang siapa yang salah, melainkan adanya kesalahpahaman antara kamu dan pasangan.

4. Sulit membangun rasa percaya

ilustrasi pasangan mengobrol (pexels.com/Lê Minh)

Orang yang terlalu sensitif acap kali hanya fokus pada dirinya dan perasaannya. Bila didiamkan, lambat laun bisa jadi jurang penghambat dalam hubungan. Sulit untukmu membangun rasa percaya pada doi, karena lebih sering membayangkan respon atau perlakuannya yang bisa berpotensi menyakitimu.

Padahal, dasar paling kuat dalam relasi ialah rasa percaya. Bagaimana kamu bisa menjalin komitmen jangka panjang, kalau kamu sendiri masih belum bisa percaya dengan orang itu?

Bukannya salah jika kamu cenderung sensitif dalam hubungan. Persoalannya ialah, bagaimana kamu menyikapi perasaan oversensitive itu. Bila kamu mendiamkan dan menunda-nunda, hati-hati, bisa jadi perasaanmu justru jadi bumerang untuk dirimu dan pasangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team