Alasan ini yang paling populer dikemukakan oleh mereka para korban pasangan toksik. Demi kebahagiaan anak, supaya anak bisa punya keluarga lengkap, maka ia rela menanggung derita tiap hari, sampai kehilangan jati diri.
Tak disadarinya, bahwa membiarkan anak hidup di lingkungan keluarga yang toksik justru bisa berdampak buruk bagi perkembangan anaknya nanti. Anak jadi dibesarkan dalam keluarga yang tidak bahagia, berpotensi jadi korban maupun pelaku hubungan toksik di kemudian hari ketika mereka sudah besar.
Perempuan yang selalu melihat ibunya jadi korban kekerasan ayahnya tanpa ada ketegasan untuk menghentikan hal tersebut, akan percaya bahwa memang perempuan layaknya diperlakukan seperti itu.
Lelaki yang sehari-hari melihat bagaimana perilaku kasar bapaknya, akan bisa jadi pelaku berikutnya karena ia tidak mengerti hubungan yang sehat seperti apa, bagaimana seharusnya memperlakukan wanita dengan baik.
Memiliki harapan agar pasangan bisa berubah memang baik, tapi bukan berarti jadi pembenaran dan pemakluman untuk tetap bertahan dalam hubungan toksik. Karena orang yang toksik biasanya sulit berubah. Karakternya sudah berurat berakar. Tetap bertahan hanya akan membuatmu menderita saja.