Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Sikap Perfeksionis Buatmu Jadi Gak Komunikatif dalam Hubungan

5 Alasan Sikap Perfeksionis Buatmu Jadi Gak Komunikatif dalam Hubungan
ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Timur Weber)
Intinya Sih
  • Sikap perfeksionis dalam hubungan membuat seseorang sulit terbuka dan cenderung memendam masalah demi menjaga citra sempurna, sehingga komunikasi dengan pasangan jadi terhambat.
  • Perfeksionisme menyebabkan kesulitan mengekspresikan kebutuhan emosional dan menaruh kepercayaan pada pasangan, yang akhirnya menciptakan jarak serta potensi konflik tersembunyi.
  • Gengsi dan dorongan membuktikan diri lewat pencapaian membuat hubungan terasa tidak seimbang, karena tindakan dilakukan bukan dari ketulusan melainkan demi validasi pribadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sikap perfeksionis bukan hanya bisa terlihat dalam pekerjaan, melainkan juga hubungan. Seseorang yang perfeksionis cenderung ingin terlibat dalam detail kecil tentang relasi: entah membentuk, mempertahankan, bahkan mengatur agar citra diri dan hubungannya terlihat sempurna.

Tanpa disadari, hal tersebut bisa membuatmu jadi sosok yang sulit untuk diajak kerja sama dan ngobrol bareng. Kamu memandang dirimu sebagai sosok paling superior, sehingga sulit menjadi apa adanya di depan pasangan. Pada akhirnya, sikap perfeksionis malah membuatmu sulit diajak komunikasi karena lima hal di bawah.

1. Kamu memulai relasi dengan dasar ingin selalu sempurna

ilustrasi pasangan ngobrol
ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/David Crypto)

Ketika dasarnya saja sudah salah, kamu pasti membangun hubungan ke arah yang salah pula. Terima dan camkan dulu dalam hati. Tidak ada manusia yang sempurna. Kalau kamu kerap memaksakan diri, yang ada malah penuh kebohongan dan kepura-puraan.

Alhasil, setiap ada konflik, kamu memilih untuk memendam. Tiap ada gak sreg sedikit, langsung diam seribu bahasa. Masalah bukannya diselesaikan dengan ngobrol, tetapi dihindari dengan dalih gak pengin merusak image relasi. Kamu perlu evaluasi. Sebenarnya, kamu menjalani komitmen demi mengenal pasangan lebih dekat atau demi membangun citra diri?

2. Kamu kesulitan mengungkapkan kebutuhan emosional pada pasangan

ilustrasi dua orang menghindari konflik
ilustrasi dua orang menghindari konflik (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Seseorang yang perfeksionis cenderung kaku, termasuk dalam membuka diri. Ia hanya ingin orang lain memandang dirinya sebagai sosok sempurna, bahkan termasuk pasangan. Padahal, ini hal yang sangat penting dalam relasi.

Kalau kamu gagal mengungkapkan kebutuhan emosional, bagaimana pasanganmu tahu cara mencintaimu dengan benar? Bukannya bertumbuh dalam pengenalan yang makin intim, kamu dan pasangan malah bisa-bisa menyakiti satu sama lain tanpa disadari.

3. Sulit menaruh rasa percaya pada pasangan

ilustrasi pasangan ngobrol
ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

Sosok perfeksionis juga punya standar tinggi, bahkan dalam hubungan. Ketika berelasi dengan orang lain, ia gak gampang menaruh rasa percaya. Ini yang bahaya, dan bisa jadi bumerang untukmu dan pasangan.

Kalau kamu gak bisa menaruh rasa percaya, untuk apa menjalin komitmen? Yang ada, kalian malah terus hidup dalam rahasia. Kamu gak percaya doi, dan doi gak sepenuhnya mengenal dirimu.

4. Gengsi bikin kamu sulit inisiatif sesuatu

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Blue Bird)

Dalam relasi, perlu effort setara antara kamu dan pasangan. Ada kalanya pasangan inisiatif, ada kalanya kamu yang menginisiasi sesuatu. Sikap perfeksionis bikin kamu selalu takut pada penolakan dan memilih untuk menghindar.

Hal ini yang jadi batu sandungan, karena kamu akan selalu menunggu orang lain untuk inisiatif dalam relasi. Pasangan pun lambat laun akan merasa gak dihargai dan dicintai. Rasanya selalu ada jarak di antara kalian.

5. Ingin selalu membuktikan keberhargaan diri melalui kerja

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock Project)

Sikap perfeksionis lahir dari gambar diri yang rendah. Kamu gak bisa melihat bahwa dirimu berharga, sehingga kamu menetapkan standar terlampau tinggi untuk membuatmu merasa lebih baik.

Ketika pandangan itu dibawa dalam hubungan, kamu akan selalu main hitung-hitungan. Kebaikan yang kamu lakukan gak tulus dari hati, melainkan sebagai kewajiban semata. Di dalam, kamu masih menaruh kebanggaan pada pencapaian dan kesuksesanmu jauh melebihi rasa cinta pada pasangan.

Sikap perfeksionis gak hanya racun bagi diri sendiri, melainkan juga jebakan dalam hubungan. Kasihan kamu dan pasangan, kalian gak bisa saling mengenal dan mencintai secara maksimal. Terhalang oleh ego dan rasa gengsi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us