Aku ingat sekali, kau bukannya menangis untukku dan mengusap air mata yang bercucuran, atau sekedar memeluk anakmu yang akan segera angkat kaki. Tapi kenapa kau hanya melihatku dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa? Apa aku tidak berarti buatmu, Ayah?
Sekarang, aku mengerti jawaban dari pertanyaan itu.
Kau menangis dalam hati. Ketegaranmu hanya terlihat di depan saja. Padahal kau takut, gundah dan terus berdoa. Agar anakmu bisa bahagia dengan hidupnya yang baru. Anak yang sebentar lagi harus kau ikhlaskan bersama orang lain yang telah dia pilih. Anak yang kau banggakan. Anak yang susah payah kau besarkan. Anak yang kelak bisa melupakan jasa-jasa yang telah kau berikan. Tak mengapa asal dia bisa kuat dan berani, kau rela tidak memeluknya untuk saat ini. Kau ikhlas melepaskannya asal melihat senyuman yang mengembang dipipi anak yang kau lindungi. Kau hanya bisa tersenyum agar anakmu nantinya tidak khawatir dan terbebani.
Itulah engkau Ayah. Terima kasih dan maafkan aku yang baru mengerti arti perasaan yang selama ini tertutupi karena kegagahanmu. Kasih sayangmu tak akan lekang oleh waktu. Ketulusanmu lah yang mengajarkanku akan sosok yang mencintai anaknya dalam diam.