Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Cara Menetapkan Batasan Pribadi dalam Pertemanan, Apa Saja?
ilustrasi pertemanan (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Artikel menekankan pentingnya batasan pribadi dalam pertemanan agar hubungan tetap sehat, nyaman, dan memberi ruang bagi masing-masing individu untuk berkembang tanpa kehilangan jati diri.
  • Dijelaskan enam bentuk batasan, mulai dari kepemilikan barang, peran dalam pengambilan keputusan, kebiasaan menginap, hingga menjaga keamanan kartu penting dan menghargai pilihan hidup teman.
  • Penulis mengingatkan agar tidak memaksakan gaya hidup pada teman karena perbedaan kondisi finansial bisa merusak hubungan; saling menghormati menjadi kunci menjaga kualitas pertemanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pertemanan yang sehat tidak hanya ditandai dengan keakraban atau lamanya masa berteman. Hubungan pertemanan juga harus berkualitas yang dicirikan dengan tetap ada batasan. Batasan ini penting dan bukan tanda kurangnya rasa solidaritas serta percaya pada kawan.

Tanpa batasan sama sekali, hubungan malah lambat laun terasa gak nyaman. Baik cuma buat salah satu atau semua pihak sekaligus. Adanya batasan juga memastikan setiap orang masih punya ruang untuk berkembang.

Apalagi seiring pertambahan usia dan kesibukan masing-masing. Pertemanan tanpa batasan cuma akan mengacaukan keseharian. Akhirnya, masa depan pun terpengaruh secara negatif. Mulailah untuk membiasakan enam pembatasan di bawah ini dalam pertemananmu dengan siapa pun.

1. Tidak boleh ada prinsip barangmu, barangku

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Hồng Thắng Lê)

Kalau prinsip tersebut diberlakukan dalam pertemanan, kamu dan kawan bukan lagi sering saling meminjam barang. Malah pemilik benda bisa sampai seperti gak punya hak atas barang yang dibelinya sendiri. Tidak ada istilah barang kesayangan karena teman dapat tiba-tiba lebih sering memakainya daripada kamu.

Bagaimanapun juga, setiap barang yang ada di lemarimu adalah pilihan pribadi serta hasil perjuanganmu. Begitu pula dengan benda-benda orang lain. Seharusnya tak seorang pun mendadak merasa lebih berhak atas barang orang lain.

Sesekali saling pinjam sesuatu tentu tidak apa-apa. Itu dapat menjadi cara kalian buat saling membantu. Namun, jangan lantas ini menjadi kebiasaan apalagi sampai bikin pemilik justru tidak leluasa untuk memakainya.

2. Jadi tempat curhat oke, tapi bukan pengambil keputusan

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Siarhei Nester)

Dalam hal saling mencurahkan hati juga tetap perlu ada batasan yang mesti dijaga. Gak apa-apa kalian menceritakan apa saja asalkan saling percaya. Akan tetapi, tolak apabila kawan memintamu untuk mengambilkan keputusan atas perkara-perkara dalam hidupnya.

Terlalu berisiko bila dirimu mengambil peran tersebut. Nanti keputusanmu dianggap tidak tepat malah kamu yang disalahkan. Lagi pula, temanmu juga sepantar denganmu. Bukan anak kecil yang masih butuh banyak bimbingan.

Demikian juga apabila ada kawan yang suka hendak menyetir keputusanmu atas hal-hal pribadi. Dirimu gak perlu menurutinya. Katakan saja bahwa kamu akan memikirkan serta memutuskannya sendiri.

3. Juga ada batasan tentang menginap di rumah atau kos-kosan

ilustrasi pertemanan (pexels.com/LA BOUALA)

Saat sahabatmu sekalipun hampir setiap malam menginap di rumah atau kos-kosanmu tentu kamu juga kurang nyaman. Dirimu tidak leluasa melakukan berbagai hal di tempat tinggal sendiri. Walaupun kamu tinggal sendirian tetap butuh menikmati waktu sepenuhnya hanya untuk diri sendiri.

Demikian juga kamu kudu tahu diri untuk tak sering-sering bermalam di rumah atau kos-kosan kawan. Atau, bertamu terlalu lama. Jangan merasa kehadiranmu selalu menyenangkan buat orang lain. Meski dirimu bukan orang jahat, keberadaanmu yang terus-menerus di sekitar seseorang dapat terasa sebagai gangguan.

Pun pertemanan yang diwarnai kebebasan menginap kapan pun bisa kasih pengaruh buruk. Teman selalu cuma asyik menonton hiburan di kamar kosmu, misalnya. Dirimu tentu menjadi tak enak apabila hendak belajar atau bekerja. Akhirnya kamu bergabung menonton bersamanya.

4. Kartu-kartu penting tidak untuk dipinjamkan

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Kalian barangkali sering sekali belanja bareng. Selera belanjaan kalian juga mirip. Namun, jangan lengah lalu dengan gampangnya kamu mengizinkan kawan membawa kartu identitas, kartu debit, atau kartu kreditmu. Juga tidak sekadar fotonya.

Ketiganya sangat rentan disalahgunakan. Kartu identitasmu bisa saja dipakai buat mengajukan pinjol ilegal. Kartu kredit dan debit yang dilengkapi dengan nomor PIN malah bisa dikuras.

Jangan percaya apabila teman bilang pinjam kartu debit atau kreditmu dulu untuk membayar sesuatu. Kalau memang itu harus dilakukan, kartu tetap wajib di tanganmu. Dirimu yang memberikan kartu ke petugas dan menekan PIN buat pembayaran. Jangan pernah membiarkan orang lain membawa kartu-kartu pentingmu.

5. Saling menghargai impian serta pilihan hidup masing-masing

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Nuhyil Ahammed)

Seiring bertambahnya usia, pertemanan seperti cabang yang banyak. Kamu dan kawan-kawan yang tadinya seakan-akan selalu punya pilihan hidup sama mulai berbeda. Ini perlu disikapi dengan saling menghargai.

Jangan seolah-olah kamu kudu mengarahkan impian teman atau sebaliknya. Seakan-akan mimpi salah satu dari kalian saja yang paling bagus. Hindari pula menghakimi pilihan-pilihan hidupnya. Seperti ada kawan yang sehat jasmani dan rohani serta mampu secara finansial, tetapi memilih gak menikah.

Atau, ia menikah tetapi tidak mau punya keturunan. Betapa pun pilihan hidupnya berkebalikan dengan pilihan hidupmu, respek saja. Jangan mencampuri kehidupan pribadinya. Itu akan membuat orang lain merasa dianggap tidak berkompeten dalam mengarahkan hidup sendiri.

6. Tidak memaksakan gaya hidup

ilustrasi pertemanan (pexels.com/David Kouakou)

Saat kalian sama-sama masih bermodalkan uang saku dari orangtua saja, gaya hidup bisa sudah berbeda. Uang sakumu banyak, sedangkan teman cuma diberi uang sesekali. Pun jumlah setiap pemberian sedikit.

Apalagi nanti setelah kalian bekerja. Boleh jadi perbedaan pendapatan kalian sangat besar. Gaya hidup kalian menjadi bak bumi dan langit. Kamu gak usah berusaha mengubah gaya hidup yang telah amat sesuai baginya. Baik gaya hidup itu berbiaya lebih rendah atau tinggi ketimbang gaya hidupmu.

Bila kamu memaksakan gaya hidup selangit pada teman yang tidak memungkinkan untuk membiayainya, nanti dia malah terjerat utang tak berkesudahan. Sebaliknya, jika dirimu menekan kawan supaya menurunkan gaya hidupnya padahal dia mampu, kamu bakal dianggap rese. Keduanya sama-sama menghancurkan pertemanan.

Awali usaha membangun batasan yang sehat dalam pertemanan dengan satu kesadaran. Bahwa kamu bukan temanmu dan dia bukan dirimu. Tetaplah berteman tanpa perlu kehilangan ruang pribadi serta jati diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team