Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Cara Menghadapi Mertua dengan Kepribadian Dominan

ilustrasi mertua sedang mengatur acara makan malam
ilustrasi mertua sedang mengatur acara makan malam (pexels.com/Anna Shvets)
Intinya sih...
  • Tetapkan batas dengan tenang dan sadar agar tidak terjebak dalam tekanan emosional.
  • Libatkan pasangan dan bangun wibawa lewat sikap konsisten, bukan debat.
  • Jaga sopan santun tanpa mengorbankan prinsip dan harga diri.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya mertua yang dominan itu bukan hanya perihal beda karakter, melainkan juga soal bagaimana kuasa dan batas sering kali bertabrakan dalam keluarga. Banyak menantu merasa terjebak pada posisi serbasalah. Kalau mau tegas, khawatir dianggap durhaka. Sementara, mau diam, tapi batin makin tersiksa. Kalau tidak menghadapinya dengan cara yang sehat, kamu bisa kelelahan. Ini bukan karena masalah besar, melainkan karena tekanan kecil yang datang tiap hari. 

Karena itu, kamu perlu strategi yang realistis, bukan sekadar sabar tanpa arah. Berikut ini cara-cara yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi mertua dengan kepribadian dominan secara dewasa dan tetap menjaga harga diri. Simak baik-baik, ya!

1. Tetapkan batas secara sadar, bukan reaktif

ilustrasi menyambut mertua yang datang berkunjung
ilustrasi menyambut mertua yang datang berkunjung (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak orang baru membuat batasan setelah emosi meledak dan itu biasanya sudah terlambat. Saat kamu bicara dalam kondisi lelah atau emosi, pesan yang ingin kamu sampaikan jadi terdengar kasar meski niatnya baik. Jadi, sebelum semuanya jadi kelewat batas, pikirkan dulu baik-baik, seperti hal apa yang masih bisa kamu toleransi dan apa yang sudah masuk wilayah pribadimu. Dari situ, kamu bisa menyampaikan batas dengan tenang, bukan dengan kemarahan. Batas yang dibangun dari kesadaran jauh lebih kuat daripada batas yang lahir dari ledakan emosi.

2. Gunakan bahasa yang sopan, jelas, dan tidak berputar-putar

ilustrasi berdiskusi dengan mertua
ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Mertua dominan biasanya terbiasa memimpin, bukan membaca kode halus. Kalau kamu bicara terlalu samar, mereka akan menganggap kamu setuju. Jadi, penting untuk menyampaikan maksud dengan jelas meski tetap pakai nada rendah dan kata yang halus. Kamu tidak perlu menyalahkan, cukup fokus pada posisi dan keputusanmu. Bahasa yang tenang, tapi tegas, justru menunjukkan bahwa kamu dewasa, bukan sedang menantang.

3. Libatkan pasangan sebagai garda depan, bukan penonton

ilustrasi berdiskusi dengan mertua
ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Menghadapi mertua dominan sendirian itu sangat melelahkan. Di sini, pasanganmu harus berperan aktif. Bukan sekadar pendengar keluhan, tapi ia harus jadi bagian dari solusi. Kalian perlu diskusi dan membuat kesepakatan dulu secara internal sebelum menghadapi tekanan dari luar. Saat kamu dan pasangan satu suara, posisi kalian jauh lebih kuat. Mertua akan lebih berhati-hati ketika tahu keputusan itu datang dari kalian berdua, bukan dari kamu sendirian.

4. Bangun wibawa lewat tindakan, bukan perdebatan

ilustrasi mertua dan menantu sedang bertengkar
ilustrasi mertua dan menantu sedang bertengkar (freepik.com/gpointstudio)

Mertua dominan sering mengatur karena merasa lebih tahu dan mampu. Kalau kamu hanya melawan lewat kata-kata, mereka akan menganggapmu emosional. Namun, kalau kamu menjawab dengan konsistensi, tanggung jawab, dan keputusan yang matang, itu pelan-pelan mengubah cara mereka melihatmu. Wibawa tidak lahir dari suara keras, tapi dari sikap yang tegas dan stabil. Saat kamu terlihat mandiri, keinginan mereka untuk mengontrol biasanya ikut melemah.

5. Kelola emosimu sebelum merespons

ilustrasi mertua dan menantu
ilustrasi mertua dan menantu (freepik.com/freepik)

Reaksi spontan saat kesal sering kali justru memperburuk keadaan. Kamu mungkin merasa lega sesaat, tapi setelah itu konflik jadi panjang dan melelahkan. Ambil jeda sebelum bicara, bahkan kalau perlu tunda jawaban. Saat emosimu sudah turun, kamu bisa menyampaikan pesan dengan lebih jernih. Respons yang terkontrol jauh lebih berpengaruh daripada luapan emosi.

6. Jaga adab, tapi tetap pertahankan prinsip

ilustrasi mertua dan menantu
ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sopan santun itu soal cara, bukan soal menghilangkan pendirian. Kamu bisa bicara lembut, tapi tetap tegas. Kamu bisa menghormati tanpa harus meniadakan diri sendiri. Saat kamu konsisten menjaga batas dengan sikap yang tenang, orang lain akan belajar menghormatimu. Hormat itu tumbuh dari kejelasan, bukan dari ketakutan.

Menghadapi mertua dengan kepribadian dominan memang bukan perkara mudah, tapi bukan berarti kamu harus terus mengalah. Di tengah tuntutan jadi menantu yang baik, kamu tetap punya hak untuk didengar, dihargai, dan merasa aman dalam rumah tanggamu sendiri. Pelan-pelan, dengan batas yang jelas dan sikap yang dewasa, kamu bisa tetap menjaga hubungan tanpa harus kehilangan dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Dekorasi Lamaran Indian Akbar dan Siska Minbite, Nuansanya Pastel!

26 Jan 2026, 14:05 WIBLife