6 Cara Menghadapi Mertua Tanpa Membuat Pasangan Tersakiti

- Menghadapi mertua perlu empati agar pasangan tidak merasa terjepit.
- Kunci utamanya ada pada komunikasi yang tenang dan tidak reaktif.
- Hubungan dengan pasangan harus tetap jadi prioritas di atas konflik lain.
Menghadapi mertua memang bukan perkara mudah, apalagi jika ada perbedaan cara berpikir, kebiasaan, atau gaya komunikasi. Di satu sisi, kita ingin menjaga mental tetap waras. Namun, di sisi lain, kita juga tidak ingin pasangan merasa tersudut atau tersakiti karena konflik antara kamu dan orangtuanya. Saat inilah, seni bersikap benar-benar diuji.
Masalahnya, banyak orang terjebak pada dua kondisi, antara terlalu mengalah sampai merasa tertekan atau terlalu defensif sampai bikin suasana rumah tangga panas. Padahal, kunci utama menghadapi mertua tanpa menyakiti pasangan bukan soal menang atau kalah, tapi soal bagaimana menjaga perasaan semua pihak tetap utuh. Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba agar tetap waras menghadapi mertua, tanpa bikin pasangan jadi korban suasana.
1. Pahami posisi pasanganmu

Pasanganmu itu berada di tengah dua dunia: keluarganya dan kamu. Kalau kamu menyerang mertua secara frontal, pasanganmu bisa merasa terjepit, bahkan ikutan sakit hati. Kalaupun kamu benar, cara menyampaikannya tetap penting.
Coba bayangkan kalau posisinya dibalik. Orangtuamu yang dikritik terus-menerus. Rasanya pasti tidak enak, bukan? Jadi, sebelum bereaksi, tanyakan ke diri sendiri, “Kalau ini tentang orangtuaku, aku bakal gimana?”
2. Bedakan antara niat dan dampak

Banyak mertua yang sebenarnya tidak berniat jahat, tapi cara mereka saja yang kurang tepat. Sebagai contoh, mertua terlalu ikut campur, terlalu mengatur, atau sering membandingkan. Kamu boleh merasa terganggu. Itu wajar. Namun, penting juga untuk melihat apakah itu murni kontrol atau sekadar bentuk kepedulian yang penyampaiannya keliru. Dengan sudut pandang ini, kamu bisa merespons lebih tenang, bukan reaktif.
3. Jangan melampiaskan emosi pada pasangan

Kalau ada perbuatan mertua yang membuatmu kesal, jangan langsung menumpahkannya pada pasangan dengan nada marah. Terlebih lagi, jangan sampai kamu menyuruh pasangan untuk memilih antara kamu atau orangtuanya. Itu berat sekali.
Lebih baik sampaikan perasaanmu dengan bahasa yang jujur, tapi lembut. Sebagai contoh, kamu bisa mengatakan, “Aku ngerasa kurang nyaman kalau begini, tapi aku gak mau kamu kepikiran. Kita cari jalan keluar sama-sama, ya.” Nada seperti ini jauh lebih aman daripada menyudutkan.
4. Bangun komunikasi sebagai satu tim

Menghadapi mertua itu sebaiknya bukan urusan “kamu vs. mereka”, tapi “kita sebagai pasangan”. Diskusikan dulu dengan pasanganmu, apa yang membuat kamu terganggu, apa batasan yang kamu butuhkan, dan bagaimana cara menyampaikannya tanpa memicu konflik meledak. Kalau pasanganmu merasa diajak berpikir bersama, bukan dituntut, dia akan lebih siap pasang badan dengan cara yang sehat.
5. Tetap jaga sikap di depan mertua

Kendati di dalam hati kamu merasa kesal, usahakan untuk tetap sopan secara lahiriah. Bukan berarti munafik, tapi ini lebih pada menjaga etika dan suasana. Konflik yang diumbar di depan umum atau pada momen yang tidak tepat justru bisa membuat semua orang defensif. Pilih waktu yang tenang, suasana yang netral, dan nada bicara yang tidak menggurui.
6. Rawat hubungan dengan pasangan di atas segalanya

Di tengah konflik dengan mertua, jangan sampai hubunganmu dengan pasangan ikutan rusak. Luangkan waktu berdua, ngobrol tanpa membahas konflik yang sedang terjadi, ingat lagi kenapa kalian memilih satu sama lain. Hubungan yang kuat membuat kamu lebih tahan menghadapi tekanan dari luar. Jadi, apa pun yang terjadi, tetap prioritaskan rumah tangga kalian.
Menghadapi mertua tanpa menyakiti pasangan itu soal keseimbangan. Ini juga antara menghormati orangtua dan melindungi perasaan diri sendiri. Kamu boleh punya batas, lelah, atau kecewa. Namun, selama kamu dan pasangan masih saling berpegang tangan sebagai satu tim, konflik apa pun bisa kalian hadapi dengan kepala dingin.
Pada akhirnya, pasanganmu bukan sekadar pasangan hidup. Dia juga rumah tempat kamu pulang. Sebagai pengingat, rumah seharusnya jadi tempat paling aman, bukan medan perang gara-gara orang lain.

















