Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pasangan (pexels.com/polina-zimmerman)
ilustrasi pasangan (pexels.com/polina-zimmerman)

Intinya sih...

  • Nada bicara yang biasa, tapi bisa terasa mengancam bagi pasangan dengan trauma

  • Menghilang tanpa penjelasan, meski hanya sebentar, dapat memicu kecemasan pada pasangan dengan trauma

  • Candaan yang menyentuh area sensitif dapat membuat luka emosional kembali terbuka bagi pasangan dengan trauma

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak semua orang yang memiliki trauma menunjukkan dalam sikapnya. Ada yang tertawa, tampak tenang, bahkan terlihat sangat mandiri, padahal menyimpan trauma emosional yang belum selesai. Dalam hubungan, trauma ini bisa muncul lewat hal-hal kecil yang tampak remeh.

Masalahnya, hal kecil ini bisa menjadi pemicu besar bagi pasangan dengan trauma. Kamu mungkin merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi reaksinya terasa berlebihan. Berikut ini lima hal sepele yang bisa sangat sensitif bagi pasangan dengan trauma.

1. Nada bicara yang biasa, tapi bisa terasa mengancam

ilustrasi berbicara (unsplash.com/ Vitaly Gariev)

Bagi sebagian orang, nada bicara datar, dingin, atau sedikit meninggi adalah soal kebiasaan. Namun bagi pasangan dengan trauma, perubahan nada terasa seperti tanda bahaya. Trauma membuat ia terbiasa membaca situasi secara berlebihan demi melindungi diri.

Nada yang menurutmu netral bisa terdengar seperti kemarahan, penolakan, atau ancaman. Akibatnya, pasanganmu bisa langsung defensif, menutup diri, atau merasa gak aman. Bukan karena kamu kasar, tapi karena pengalaman masa lalu mengajarkannya bahwa nada tertentu sering menimbulkan luka.

2. Menghilang tanpa penjelasan, meski hanya sebentar

ilustrasi melihat ponsel (unsplash.com/eddybllrd)

Telat membalas chat, sibuk seharian, atau sedang butuh me time mungkin terdengar wajar. Namun, bagi pasangan dengan trauma, terutama yang berkaitan dengan penolakan atau ditinggalkan. Hal ini bisa sangat memicu kecemasan.

Diam tanpa penjelasan sering diterjemahkan sebagai tanda ditinggalkan, tidak dianggap penting, atau mulai dijauhi. Pikiran negatif bisa berkembang cepat, bahkan sebelum kamu sempat menjelaskan alasanmu. Jadi, beri penjelasan singkat untuk memberi rasa aman bagi pasangan.

3. Candaan yang menyentuh area sensitif

ilustrasi pasangan kencan (pexels.com/Los Muertos Crew)

Humor sering jadi cara mendekatkan diri, tapi tidak semua topik aman untuk dijadikan candaan. Bagi pasangan dengan trauma, bercanda soal kegagalan, masa lalu, penampilan, atau hubungan sebelumnya bisa terasa sangat menusuk. Meski niatmu bercanda, trauma membuat batas emosional menjadi lebih tipis.

Luka lama bisa terbuka kembali hanya karena satu kalimat yang dianggap sepele. Akibatnya, pasanganmu bisa tiba-tiba diam, tersinggung, atau menjauh tanpa tahu harus menjelaskan apa yang ia rasakan. Jangan bercanda sembarangan, candaan bukan menguji daya tahan luka seseorang.

4. Kritik kecil yang terasa seperti penolakan total

ilustrasi pasangan (pexels.com/rdne)

Memberi masukan atau kritik dalam hubungan adalah hal normal. Namun, bagi pasangan dengan trauma emosional, kritik kecil terasa seperti penolakan terhadap dirinya secara utuh. Bukan hanya soal apa yang ia lakukan, tapi siapa dirinya.

Trauma sering membuat seseorang tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tak cukup baik. Jadi ketika dikritik, meski dengan niat membangun, yang bisa merasa gagal, malu, atau takut ditinggalkan. Karena itu, ia bisa lebih sensitif terhadap cara penyampaian dibanding isi kritik itu sendiri.

5. Sikap dingin atau jarak emosional secara tiba-tiba

ilustrasi pasangan (pexels.com/mikhail-nilov)

Ada hari-hari di mana kamu lelah, butuh ruang, atau tidak ingin banyak bicara. Namun, perubahan sikap yang mendadak, tanpa konteks yang jelas, bisa menjadi pemicu besar bagi pasangan dengan trauma. Trauma membuat ia sangat peka terhadap perubahan.

Sikap dingin bisa langsung diartikan sebagai tanda hubungan bermasalah atau cinta yang mulai hilang. Meski kenyataannya tak demikian, rasa takut sudah lebih dulu mengambil alih. Bagi pasangan dengan trauma, konsistensi emosional sering kali lebih menenangkan daripada terlalu romantis.

Memahami sensitivitas ini bukan berarti kamu harus mengorbankan diri. Dengan kesadaran dan empati, kamu bisa membedakan mana reaksi yang perlu dipahami dan mana yang perlu dibicarakan bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team