6 Hal yang Tidak Boleh Dikatakan saat Marah pada Pasangan, Bisa Fatal!

- Hindari kata-kata menggeneralisasi, membandingkan, dan mengungkit masa lalu karena hanya akan memicu reaksi defensif, bukan solusi.
- Ancaman putus, hinaan, dan kalimat penolakan merusak rasa aman serta harga diri pasangan.
- Marah itu wajar, tetapi cara berbicara menentukan apakah konflik menyembuhkan atau menghancurkan hubungan.
Marah dalam hubungan itu wajar. Mau seharmonis apa pun hubunganmu dan pasangan, pasti akan ada momen emosi naik, suara meninggi, dan hati terasa panas. Masalahnya bukan pada rasa marahnya, tapi pada kata-kata yang keluar saat emosi belum turun. Banyak hubungan yang retak bukan karena masalah besar, melainkan karena kalimat-kalimat yang telanjur terucap saat marah dan tidak bisa ditarik kembali.
Saat emosi, otak cenderung bereaksi cepat tanpa filter. Apa pun yang terlintas di kepala bisa langsung keluar dari mulut, bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar kita maksud. Nah, berikut ini beberapa hal yang sebaiknya tidak kamu katakan saat sedang marah pada pasangan kalau tidak ingin konflik kecil berubah jadi luka jangka panjang.
1. “Kamu, tuh, selalu …,” atau, “Kamu gak pernah ….”

Kalimat dengan kata selalu dan gak pernah terdengar sepele, tapi dampaknya besar. Saat kamu bilang, “Kamu, tuh, selalu egois,” atau, “Kamu gak pernah peduli sama aku,” pasangan akan langsung merasa diserang secara pribadi. Padahal, kemungkinan besar masalahnya hanya terjadi pada situasi tertentu, bukan sepanjang waktu. Akan tetapi, kalimat seperti itu membuat kamu seolah-olah tidak pernah melihat usaha pasanganmu. Akibatnya, ia jadi defensif dan fokus membela diri, bukannya memahami masalah yang sebenarnya. Akhirnya, diskusi berubah jadi adu argumen. Jadi, lebih baik fokus ke kejadian spesifik, bukan menggeneralisasi karakter pasangan.
2. Membandingkan dengan mantan atau orang lain

Ini salah satu kalimat paling sensitif dan sering bikin pertengkaran makin menjadi-jadi. Ucapan seperti, “Mantan aku aja gak pernah gini,” atau, “Coba kamu kayak si A,” bisa langsung melukai harga diri pasangan. Jadi, sekesal apa pun kamu dengan pasanganmu, dilarang keras membandingkan dirinya dengan orang lain.
Perbandingan membuat pasanganmu merasa tidak cukup, tidak dihargai, dan seolah-olah selalu kalah. Bahkan, setelah pertengkaran mereda, luka akibat perbandingan acap kali masih menempel dalam hati. Kalau masalahnya ada pada perilaku, bicarakan perilakunya, bukan membandingkan orangnya.
3. Mengungkit kesalahan lama yang sudah selesai

Saat marah, godaan untuk membuka “arsip lama” itu besar. Kesalahan yang sudah dibicarakan dan dimaafkan bisa tiba-tiba muncul lagi sebagai amunisi. Tujuannya sekadar untuk memenangkan argumen.
Padahal, mengungkit masa lalu justru membuat pasangan merasa tidak pernah benar-benar dimaafkan. Hubungan pun terasa melelahkan karena setiap konflik selalu dihubungkan dengan masalah lama. Bahkan, ia mungkin akan merasa bahwa usahanya untuk menebus kesalahan selama ini sia-sia saja. Kalau memang kesalahan lama masih mengganjal, berarti itu belum selesai dan perlu dibicarakan secara terpisah, bukan dijadikan senjata saat marah.
4. Ancaman putus atau cerai

Kalimat seperti, “Kalau gini terus, mending putus aja,” atau, “Aku capek. Cerai aja sekalian,” kadang tak sengaja diucapkan dalam kondisi emosi. Padahal, dari dalam hati, kamu sebenarnya tidak serius ingin mengakhiri hubungan. Masalahnya, ancaman seperti ini bisa merusak rasa aman pasangan.
Kalau kamu sedikit-sedikit minta pisah, pasanganmu akan merasa hubungan ini rapuh dan bisa berakhir kapan saja. Lama-lama, pasangan bisa jadi defensif, menarik diri, atau justru ikut mengancam balik. Kalau kamu memang sedang sangat marah, lebih baik minta waktu jeda daripada melempar ancaman yang sulit dilupakan.
5. Kata-kata merendahkan atau menghina

Menghina kemampuan, fisik, pekerjaan, atau latar belakang pasangan merupakan garis yang sebaiknya tidak pernah dilewati. Sekali kata-kata merendahkan ini keluar, dampaknya bisa jauh lebih dalam daripada yang kamu kira. Ucapan seperti, “Pantas aja gagal,” atau sindiran halus yang meremehkan bisa merusak kepercayaan diri pasangan. Bahkan, setelah minta maaf, bekasnya bisa tetap tertinggal dalam waktu lama. Ingat, pasangan adalah orang yang seharusnya paling aman dari kata-kata yang menjatuhkan.
6. “Aku gak butuh kamu”

Kalimat ini mungkin muncul saat kamu ingin menunjukkan kemandirian atau melampiaskan amarah. Namun, bagi pasanganmu, ucapan ini bisa terdengar seperti penolakan total. Ingat, hubungan dibangun atas rasa saling membutuhkan. Bukan dalam arti ketergantungan, tapi ada keinginan untuk berjalan bersama. Mengatakan tidak butuh pasangan saat marah bisa membuat dirinya merasa tidak berarti.
Pada akhirnya, marah bukan alasan untuk melukai. Cara kamu berbicara saat emosi justru mencerminkan seberapa dewasa hubungan yang sedang kamu jalani. Bukan berarti kamu harus menahan semuanya, melainkan cobalah belajar menyampaikan amarah dengan cara yang tidak menghancurkan. Hubungan yang sehat bukan tentang tidak pernah bertengkar, melainkan tentang bagaimana dua orang bisa tetap saling menghargai, bahkan saat emosi sedang tinggi.


















