Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hubungan Retak Bukan karena Orang Ketiga, tapi 5 Hal Ini!
ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Banyak orang mengira hubungan hancur karena hadirnya orang ketiga. Tapi faktanya tidak selalu begitu. Dalam banyak kasus, hubungan justru retak karena ada masalah yang tumbuh perlahan dari dalam hubungan itu sendiri. Konflik kecil yang terus diabaikan, komunikasi yang makin dingin, sampai rasa lelah emosional yang tidak pernah dibicarakan.

Semua hal itu bisa menjadi bom waktu yang menghancurkan kedekatan pasangan. Hubungan yang awalnya hangat sering kali berubah renggang bukan karena satu kejadian besar, tetapi karena kebiasaan buruk yang dilakukan terus-menerus.

1. Komunikasi yang berubah jadi ajang menyerang

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Budgeron Bach)

Salah satu penyebab hubungan retak adalah cara pasangan berkomunikasi. Banyak pasangan tidak sadar bahwa nada bicara yang kasar, sindiran, atau kebiasaan menyalahkan bisa melukai hubungan lebih dalam daripada perselingkuhan itu sendiri. Ketika komunikasi berubah menjadi ajang menyerang, pasangan akan merasa tidak aman secara emosional.

Psikolog hubungan John Gottman menyebut ada empat pola komunikasi yang paling merusak hubungan, yaitu criticism, contempt, defensiveness, dan stonewalling. Dalam penelitiannya, Gottman menyebut pola ini sebagai “Four Horsemen” atau empat penanda kehancuran hubungan.

“Kritik, penghinaan, sikap defensif, dan sikap menghindar,” ujar psikolog klinis Ellie Lisitsa, PhD dalam laman Gottman Institute.

Menurut penelitian Gottman, kritik yang menyerang karakter pasangan jauh lebih berbahaya dibanding sekadar mengeluhkan perilaku tertentu. Saat seseorang terus mendengar kalimat seperti “kamu selalu egois” atau “kamu gak pernah peduli,” hubungan perlahan kehilangan rasa aman dan rasa hormat.

2. Rasa tidak dihargai yang menumpuk

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/draganastock)

Hubungan juga bisa retak ketika salah satu atau kedua pasangan merasa tidak dihargai. Banyak orang sebenarnya tidak menuntut hal besar dalam hubungan, tetapi mereka hanya ingin didengar, diperhatikan, dan dianggap penting. Ketika usaha kecil tidak pernah diapresiasi, rasa kecewa akan terus menumpuk.

Dalam artikel yang membahas hubungan dan perceraian, psikolog hubungan menyebut penghinaan atau contempt sebagai sinyal paling berbahaya dalam hubungan. Bentuknya bisa berupa meremehkan pasangan, mengejek, memutar mata saat pasangan bicara, atau berbicara dengan nada merendahkan.

“Sikap meremehkan adalah prediktor perceraian terbesar. Sikap ini harus dihilangkan," jelas Ellie dalam Gottman Institute.

Rasa tidak dihargai sering muncul perlahan. Awalnya hanya candaan yang menyakitkan, lalu berubah menjadi kebiasaan saling meremehkan. Ketika pasangan mulai merasa keberadaannya tidak penting, hubungan akan kehilangan kedekatan emosional.

3. Memendam masalah dan berhenti bicara jujur

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/prostock studio)

Tidak sedikit hubungan yang terlihat baik-baik saja dari luar, padahal di dalamnya penuh masalah yang dipendam. Banyak pasangan memilih diam karena takut bertengkar atau merasa lelah menjelaskan perasaannya. Sayangnya, kebiasaan memendam emosi justru membuat hubungan makin dingin.

"Menyembunyikan emosi dari pasangan akan merusak hubungan. Salah satu cara sebagian orang menghadapi konflik adalah dengan memasang wajah tanpa ekspresi, menyembunyikan semua perasaan dari orang lain," jelas David Ludden, Ph.D., profesor psikologi dikutip dari Psychology Today.

Saat pasangan tidak jujur dengan perkataan atau emosi yang dirasakan, hubungan kehilangan koneksi emosionalnya. Konflik memang tidak selalu menyenangkan, tetapi hubungan yang sehat justru membutuhkan ruang untuk berbicara terbuka.

 

4. Terlalu defensif dan sulit mengakui kesalahan

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic)

Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mendengar dan menerima kritik tanpa langsung menyerang balik. Namun, banyak pasangan justru sibuk membela diri setiap kali ada masalah. Akibatnya, percakapan berubah menjadi saling menyalahkan dan tidak pernah menemukan solusi.

Dalam penjelasan Gottman Institute, defensiveness biasanya muncul ketika seseorang merasa diserang. Namun respons ini justru memperburuk konflik karena pasangan merasa tidak didengarkan.

"Sikap defensif hanya akan memperburuk konflik jika pasangan yang kritis tidak mengalah atau meminta maaf. Ini karena sikap defensif sebenarnya adalah cara untuk menyalahkan pasangan, dan itu tidak akan memungkinkan pengelolaan konflik yang sehat," jelas Ellie.

5. Kehilangan kedekatan emosional

ilustrasi pasangan bertengkar (unsplash.com/Getty Images)

Tidak semua hubungan retak karena pertengkaran besar. Banyak hubungan justru berakhir karena pasangan merasa seperti orang asing satu sama lain. Mereka masih bersama, tetapi tidak lagi berbagi cerita, perhatian, atau rasa nyaman seperti dulu.

Dalam pembahasan mengenai hubungan gagal, laman Simply Psychology menjelaskan bahwa kurangnya intimacy atau adanya jarak emosional menjadi salah satu penyebab utama hubungan tidak bertahan lama. Hubungan biasanya gagal karena kombinasi banyak faktor, bukan hanya satu masalah besar.

"Perasaan diabaikan dan diremehkan menciptakan jarak emosional dan membuat sulit untuk mempercayai dan merasa dekat dengan pasangan," jelas asisten psikolog klinis Anna Drescher yang telah ditinjau oleh psikolog Saul McLeod, PhD.

"Perasaan dikucilkan merusak kebutuhan mendasar untuk diterima dan membuat kamu merasa tidak penting dan tidak layak mendapatkan perhatian mereka," tambahnya.

Kedekatan emosional perlu dirawat lewat hal-hal sederhana seperti mendengarkan pasangan, memberi perhatian kecil, atau meluangkan waktu berkualitas bersama. Ketika pasangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, gadget, atau stres pribadi, hubungan perlahan kehilangan rasa hangatnya.

Hubungan yang retak sering kali bukan dimulai dari hadirnya orang ketiga, tetapi dari kebiasaan kecil yang terus diabaikan. Oleh karena itu, menjaga hubungan bukan hanya soal setia, tetapi juga soal bagaimana pasangan saling memperlakukan satu sama lain setiap hari.

Editorial Team