Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kita Berdua vs Bandara dan Udara

Kita Berdua vs Bandara dan Udara
www.femside.com

Saat mendengar kata bandara dan udara mungkin kebanyakan orang akan berpikir tentang pesawat terbang, orang-orang berlalu lalang membawa koper, birunya langit, awan yang bergulung-gulung, atau bahkan Rangga. Kenapa Rangga? Karena memang salah satu puisi Rangga dari film Ada Apa Dengan Cinta 2 telah menjadi inspirasi saya menulis semua ini.

Siapa sangka bahwa saya akan mengalami modern fairytale seperti ini. Long Distance Relationship yang banyak disebut-sebut sebagai kisah cinta ala negeri dongeng yang terjadi di kehidupan nyata, kisah cinta yang diragukan begitu banyak orang, kisah cinta yang bahkan diragukan oleh orang yang sedang menjalaninya sendiri. Saya dan dia adalah segelintir orang yang dianugerahi Tuhan untuk memiliki kisah cinta yang sedikit luar biasa.

Semuanya dimulai dari program pertukaran pelajar yang mempertemukan sekaligus 'menukarkan' kami. Saya harus tinggal di kota tempat dia menuntut ilmu, begitu juga dengan dia yang harus tinggal di kota saya. Medan dan Jogja.

Kami bertemu hanya dalam waktu yang singkat tanpa pernah memikirkan akan seperti apa kelanjutannya. Bermula dari komunikasi via smartphone berisi curhatan kisah struggle di perantauan masing-masing, hingga akhirnya mulai saling merasakan getaran rindu.

Kami putuskan untuk menjalani hubungan tidak biasa ini. Kegigihannya saat meyakinkan saya bahwa perasaan cintanya serius dan tulus, akhirnya membuat saya luluh. Saya larut pada cinta dalam kata. Walaupun gombalannya kadang membuat saya geli. Dia telah berhasil menjadi alasan saya untuk tersenyum, tertawa, galau, merindu, bahkan berduka. Hari-hari saya  lewati penuh dengan penantian akan kabarnya. He becomes my favorite notification.

Bagaimana bisa? Begitulah yang kebanyakan teman-teman saya tanyakan. Dan hebatnya, saya sendiri tidak menemukan satu kalimat pasti untuk menjawab pandangan mata mereka yang penuh tanya. Apa kamu tidak rindu? Sungguh pertanyaan yang mereka sudah sangat tahu jawabannya. Tentu saja saya rindu. Rindu sekali.

Kami bertemu lagi saat program pertukaran pelajar ini hampir mencapai ujungnya. Saya yang terlebih dahulu pulang ke Jogja, menemui dia yang masih tinggal di sana. Kami berjumpa dalam nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Kami bertatap dalam nuansa asmara, penuh kehati-hatian dalam beruntai kata karena takut saling menyakiti.

Mendadak dunia terasa indah sekali, Medan – Jogja rasanya dekat saja. Namun pertemuan yang begitu melegakan itu diam-diam menyimpan kengerian. Tiba-tiba masa depan rasanya kelabu. Tiba-tiba saya menjadi gamang untuk terus melangkah. Akan seperti apa kelanjutan kisah ini? Terlebih lagi saat saya harus mengantar dia pulang ke Medan setelah melalui hari-hari bersama di Jogja. Bandara dan udara menjadi saksi terpisahnya kami.

Bandara yang riuh menatap kami berdua yang saling peluk. Mendadak rasanya semua orang terdiam, angin berhenti bertiup, menyaksikan kami yang hampir terisak, memandang kami yang diliputi perasaan bingung dan ragu.

Bagaimana hari esok akan berjalan tanpa dia? Apakah hubungan ini akan bisa terus bertahan? Apakah saya mampu berteman rindu untuk waktu yang serba tidak pasti? Akankan kami benar-benar dipertemukan lagi? Kapan? Di mana? Bagaimana? Oh, jadi begini rasanya saat Rangga meninggalkan Cinta untuk berangkat ke New York. Siapa sangka saya akan merasakan kisah cinta seperti yang dilukiskan dalam novel-novel dan film-film. Sungguh luar biasa.

Hari-hari berlalu tanpa sosoknya di samping saya. Hanya pesan-pesan dan telepon darinya yang saya nanti. Tapi ternyata saya masih mampu melangkah, masih mampu melanjutkan hidup. Bahkan saya merasa bersyukur bahwa ternyata ada seseorang jauh disana yang sedang merindukan saya, yang sedang memikirkan sejuta cara untuk bertemu. Betapa beruntungnya saya.

Bandara dan udara membuat saya sadar bahwa ternyata jarak hanyalah alat untuk mengukur seberapa besar kesetiaan dan kepercayaan. Bandara dan udara bukanlah sesuatu untuk disalahkan, disesalkan apalagi dihakimi. Bandara dan udara adalah konsekuensi dari  pilihan yang kami buat.

Ada kalanya saya merasa hari-hari saya akan dihabiskan untuk terus menebak rahasia Tuhan tentang kelanjutan kisah kami berdua. Rasanya semua tidak akan berubah walaupun saya berharap dan berdoa. Namun, dia berhasil membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Dia mampu meyakinkan saya lagi dan lagi bahwa bandara dan udara bukanlah hal yang perlu dibenci. Bandara dan udara telah menampung rindu kami.

Share
Topics
Editorial Team
Annisa Rizki
EditorAnnisa Rizki
Follow Us