- Parentifikasi, saat orangtua sudah terlalu bergantung kepada kamu untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka. Alison mengatakan, bukan tanggung jawabmu untuk sepenuhnya mengelola emosi orangtuamu. Karena kamu tetap bisa menghormati mereka tanpa bertanggung jawab sepenuhnya atas emosi mereka.
- Saat orangtua sudah terlalu mengontrolmu dan merusak kebutuhanmu akan otonomi, terutama jika berbicara terkait hubungan rumah tangga. Alison mengatakan, jika kamu sudah merasa terlalu dikontrol bahkan pada hal-hal yang seharusnya kamu punya 'otonomi,' maka batasan akan mulai diperlukan.
- Blame-shifting. Alih-alih bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri, orangtua yang melakukan blame-shifting justru mengalihkan kesalahan kepada anak atau orang lain. Jika kamu memiliki orangtua yang menyalahkanmu atau anggota keluarga lain atas perilaku tidak sehat yang mereka lakukan, hal ini bisa menimbulkan rasa tidak berdaya dan tekanan emosional.
Memilih Jarak Bukan Durhaka: Memahami Taking Space dengan Orangtua

Ada fase dalam hidup ketika jarak terasa seperti kebutuhan, bukan pilihan. Bukan karena cinta berkurang, melainkan karena peran berubah. Setelah menikah, seseorang tak lagi berdiri sendiri. Ia membangun rumah tangga baru dengan ritme, prioritas, dan batas yang berbeda. Di titik inilah, hubungan dengan orangtua sering ikut diuji, pelan tapi pasti.
Belakangan, kisah Brooklyn Beckham dan Nicola Peltz ikut memantik percakapan serupa. Sorotan publik terhadap relasi mereka dengan keluarga Beckham membuat banyak orang berkaca pada pengalaman sendiri. Bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana pasangan yang telah menikah berusaha menjaga ruang aman bagi pernikahan mereka, di tengah ekspektasi keluarga besar yang tak selalu sejalan.
Di budaya yang memuliakan kedekatan keluarga, memilih jarak kerap disalahartikan sebagai bentuk pembangkangan. Padahal taking space bisa menjadi keputusan yang dewasa dan penuh tanggung jawab. Bukan untuk menjauhkan diri, melainkan untuk merawat hubungan agar tetap sehat, dengan pasangan, dan juga dengan orangtua, tanpa harus kehilangan diri sendiri. Artikel ini akan menyelami lebih dalam, kapan taking space itu diperlukan, mengapa, dan bagaimana menerapkannya dengan tetap bijak.
1. Kapan harus menetapkan 'boundaries' dengan orangtua?

Dari situs Propel Women, Dr. Alison Cook, seorang Psikolog, menyebutkan bahwa ada beberapa tanda yang perlu kamu sadari sebagai jawaban kapan kamu harus mulai menetapkan beberapa boundaries dengan orangtua. Berikut adalah tanda-tanda yang Alison jabarkan:
2. Kenapa setting boundaries dengan orangtua menjadi penting?

Menurut situs Marriage, ada beberapa alasan mengapa, dalam beberapa waktu, kita perlu set boundaries dengan orangtua. Karena memahami batasan dalam hubungan dengan orangtua berarti juga memahami dampaknya terhadap kehidupan dan relasi kita secara keseluruhan. Tanpa batas yang jelas, hubungan justru berisiko menjadi tidak sehat, baik secara emosional maupun psikologis, bagi kedua belah pihak.
Ketika boundaries tidak dibangun, orangtua bisa terus masuk ke ranah personal. Selain itu, ketiadaan batas juga bisa mengganggu kehidupan dewasa, terutama saat memasuki fase baru seperti pernikahan. Dalam relasi yang kompleks, misalnya dengan orangtua yang cenderung mengontrol atau manipulatif, setting boundaries menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan mental dan menjaga hubungan tetap fungsional.
3. Bagaimana cara menetapkan batasan atau taking space dengan orangtua (yang sehat)

Melansir situs Healthline, menetapkan batasan dengan orangtua sering kali bukan hal yang mudah, apalagi jika sejak kecil kita terbiasa menuruti dan tidak banyak bersuara. Karena itu, langkah awal yang bisa dilakukan adalah membuka ruang obrolan dari hati ke hati. Coba dengarkan dulu apa yang membuat mereka terasa terlalu ikut campur. Bisa jadi ada rasa khawatir atau takut kehilangan peran. Dengan memahami sudut pandang mereka, percakapan tentang batasan bisa terasa lebih aman dan tidak defensif.
Saat menyampaikan kebutuhan untuk taking space, penting untuk tetap membawa rasa hormat dan terima kasih. Menyebutkan bahwa kita menghargai perhatian dan niat baik mereka bisa menjadi jembatan sebelum masuk ke hal-hal yang perlu dibatasi. Sampaikan dengan jelas dan konkret, tanpa berputar-putar, tentang apa yang membuat kita tidak nyaman dan seperti apa bentuk hubungan yang kita harapkan. Batasan bukan berarti menjauh, melainkan upaya menjaga relasi agar tetap sehat dan tidak saling melukai.
Namun, ada kalanya batasan yang sudah disampaikan belum juga dihormati. Di titik ini, mengambil jarak sementara bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk merawat diri. Memberi ruang bisa membantu semua pihak menenangkan emosi dan melihat hubungan dengan lebih jernih. Jika dirasa perlu, dukungan profesional seperti konselor atau terapis juga bisa membantu menata percakapan sulit ini.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tumbuh dari rasa saling menghargai. Termasuk menghargai ruang dan pilihan satu sama lain.


















