Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Banyak Orang Putus Cinta di Bulan Januari? Cek Faktanya!

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Alexander Mass)
Intinya sih...
  • Putus setelah libur panjangMenunda kegelisahan selama liburan bisa membuat tekanan baru, memicu pemikiran untuk melepaskan hubungan yang tidak bahagia.
  • Putus sebagai resolusi awal tahunEvaluasi hubungan dan keinginan untuk pertumbuhan pribadi baru bisa memicu keputusan untuk mengakhiri hubungan romantis.
  • Tekanan akibat liburanStres perjalanan, kondisi keuangan, ekspektasi pasangan, dan ketidaknyamanan selama liburan dapat memicu ledakan emosional yang berujung pada putus.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu pernah mendengar tentang January breakup effect? Menurut beberapa ahli, bulan Januari sering dihubungkan dengan angka putus cinta atau bahkan perceraian yang tinggi. Fenomena ini ternyata terjadi bukan tanpa alasan.

Kamu mungkin juga pernah punya pengalaman mengakhiri hubungan romantismu di awal tahun. Lantas, apakah kamu penasaran mengapa banyak orang putus cinta di bulan Januari? Simak ulasan berikut untuk tahu jawabannya, ya!

1. Putus setelah libur panjang

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Jasmin Wedding Photography)

Akhir tahun merupakan musim liburan. Mungkin hubunganmu dan pasangan sedang tidak baik-baik saja. Namun, musim liburan membuatmu menunda kegelisahanmu dan berusaha menikmati waktu bersama kerabat atau kolega.

Sayangnya, menurut psikolog Mark Travers, posisi menunda kegelisahan dengan berpura-pura bahagia di waktu liburan justru berpotensi membuat tekanan baru. Lantas ketika liburan berakhir di awal tahun, kamu akan mempertimbangkan untuk melepaskan hubungan yang tidak membuatmu bahagia.

"Jadi, apa yang tercermin dari putusnya hubungan di bulan Januari biasanya adalah pergeseran regulasi dari menahan diri ke mengekspresikan diri, bukan impulsif atau gejolak emosi," ungkap Travers, dikutip dari Forbes.

Travers menambahkan, bahwa hubungan tesebut bukan berarti tiba-tiba tidak bisa dipertahankan. Sebaliknya, kamu mungkin sudah tahu bahwa hubunganmu dengan pasangan layak untuk diakhiri dan pada akhirnya kamu menemukan kejelasan di akhir libur panjang.

2. Putus sebagai resolusi awal tahun

ilustrasi perempuan
ilustrasi perempuan (pexels.com/Min An)

Secara umum, orang-orang biasa mengasosiasikan bulan Januari sebagai awal yang baru. Momentum pergantian tahun ini biasa digunakan untuk kembali menilai kehidupan kita di tahun sebelumnya, kemudian membuat resolusi baru. Nah, resolusi ini kadang juga berhubungan dengan relasi romantis.

Kamu mungkin melakukan evaluasi terhadap hubunganmu bersama pasangan serta bagaimana kalian menjalaninya. Di proses evaluasi awal tahun ini, kamu juga akan melihat potensi hubungan kalian ini beberapa tahun ke depan.

"Momen-momen ini secara psikologis membagi waktu menjadi beberapa bab, menciptakan jarak dari masa lalu dan melonggarkan cengkeraman pilihan, kebiasaan, dan kompromi sebelumnya. Ketidaksempurnaan masa lalu terasa seperti milik versi diri sebelumnya, dan oleh karena itu, harus ditinggalkan," ungkap Travers.

Kamu mungkin merasa hubunganmu dengan pasangan justru membuat pertumbuhan pribadimu terhambat. Alhasil, di dalam hatimu bisa jadi keinginan untuk putus itu muncul.

Psikoterapis, Dr. Karen Phillip, mengungkapkan hal senada dalam New York Post. Menurutnya, keinginan untuk mengubah nasib di awal tahun itu wajar dan sangat mungkin untuk dilakukan. Karena alasan inilah banyak orang yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan romantisnya di bulan Januari.

3. Tekanan akibat liburan

ilustrasi pasangan bertengkar
ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Yan Krukau)

Kamu mungkin memiliki pasangan yang telah sangat dekat dan bahkan melakukan aktivitas liburan bersama. Sayangnya, ada permasalahan di antara kalian yang membuat hubungan kalian renggang. Menurut ahli, faktor tekanan akibat liburan juga bisa menyebabkan pasangan memilih berpisah di bulan Januari.

Tekanan ini bisa muncul akibat stres perjalanan, kondisi keuangan selama liburan, ataupun tradisi kekuarga yang berbeda. Selain itu, faktor ekspektasi pasangan terhadap sikap tertentu juga akan menambah ketimpangan.

Selama liburan, keduanya mungkin berusaha menahan ketidaknyamanan. Namun ketika liburan berakhir, kelelahan akan memicu ledakan emosional yang mungkin berujung pada putus.

“Alasan hal ini terjadi adalah karena kita mungkin telah mentolerir pasangan kita, perilaku mereka, keluarga atau teman-teman mereka, dan begitu akhir tahun tiba, kita menilai kembali bagaimana tahun ini telah berjalan dan seringkali membuat keputusan sadar untuk memulai tahun baru dengan lebih segar,” ungkap Phillip, dikutip dari New York Post.

Maraknya pasangan yang putus di bulan Januari ternyata bukan hanya mitos belaka. Ada faktor-faktor psikologis yang mendukung terjadinya January breakup effect. Lantas, apakah kamu juga pernah mengalami putus cinta di bulan Januari?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Latest in Life

See More

Kenapa Manipulator Sering Terlihat sebagai Pasangan Idaman?

13 Jan 2026, 23:54 WIBLife